Pak Herry,

Eastern twilight atau cahaya fajar atau fajar shadiq hanya bisa dilihat dengan 
jelas jika kita berada di daerah yang bener2 gelap, dan kondisi langit cerah 
(tanpa awan ataupun aerosol/partikulat cemaran seperti asbut). 


Untuk Jakarta, harus diakui, disini poluasi cahaya sangat kuat sehingga cahaya 
dari Bumi menjadi lebih kuat intensitasnya  dibanding cahaya fajar. Selain itu 
tingkat polusi di sini juga cukup tinggi, sehingga aerosol/partikulat pencemar 
cukup dominan di langit.

Kami pernah mengamati ini (secara kualitatif) di dua tempat berbeda, 
masing-masing dari atas planetarium Jakarta dan dari lokasi Jakarta Islamic 
Centre. Target yang kami amati Jupiter dan planet-planet seperti Venus, 
Merkurius serta Bulan tua sebagai bonus. Hasilnya, hanya Jupiter dan Venus yang 
bisa diidentifikasi (meski Venusnya samar). Merkurius tidak bisa, hilaal tua 
juga samar sekali (padahal masih 45 jam sebelum konjungsi). Sementara bintang2 
lainnya hanya yang punya magnitude lebih besar dari 0 saja yang nampak. 
Pengamatan pada Bulan September 2007 dan 2008.

Salam,


Ma'rufin


----- Original Message ----
From: Herry.Sudjono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, September 7, 2008 6:40:47 PM
Subject: Re: [ RHI ] Re: [astronomi_indonesia] Menentukan waktu sholat dan 
Ramadhan di daerah ekstrem (polar circle)


 
Assalaamu'alaykum
 
Pak Ma'rufin, mafhumnya, ketika fajar shadiq (adzan 
subuh), sinar matahari sudah mulai terlihat walau tipis. Jika kita 
menggunakan software astronomi, sinar matahari sudah terlihat. 
Namun, mengapa pada kenyataannya, ketika adzan 
subuh (terutama di jakarta dan sekitarnya) sedikitpun tidak terlihat tanda2 
akan 
terbitnya matahari? Bahkan selesai shalat subuhpun (+/- 1/2 jam setelah adzan 
subuh), sinar matahari masih belum terlihat dan jalan-jalan masih gelap 
gulita serta bintang-bintang masih terlihat jelas layaknya malam 
hari. 
 
Mohon penjelasannya
Syukran
 
 
 
----- Original Message ----- 
From: Ma'rufin  Sudibyo 
To: awan yudha 
Cc: Rukyat 
Sent: Sunday, September 07, 2008 5:16  PM
Subject: [ RHI ] Re:  [astronomi_indonesi a] Menentukan waktu sholat dan 
Ramadhan di daerah ekstrem  (polar circle)

Secara umum, waktu shalat bergantung sepenuhnya pada posisi Matahari,  dalam 
hal ini ketinggiannya (levelling kalo dalam bhs geodesi), atau sudutnya  (dalam 
bahasa ilmu falak). Detailnya bagaimana ? Secara umum seperti ini : 

        * Awal Imsyak : 10 - 8 menit sebelum awal Shubuh 
        * Awal Shubuh : saat fajar shadiq (eastern twilight/cahaya fajar) tepat 
 mulai muncul di horizon timur. 
        * Akhir Shubuh : saat bagian teratas cakram Matahari tepat menyentuh  
horizon semu bagian timur. 
        * Awal Dhuha : saat tinggi Matahari sepenggalah (setombak). 
        * Awal Dhuhur : saat bagian timur cakram Matahari tepat mulai 
meninggalkan  meridian setempat atau tepat mulai meninggalkan titik kulminasi 
atas (titik  transit). 
        * Awal 'Ashar : ada beberapa pendapat. Namun secara singkat bisa  
dikatakan, terjadi saat panjang bayang-bayang benda mencapai 1 - 3 kali  lipat 
panjang bendanya sendiri di kala Matahari transit. 
        * Awal Maghrib : saat bagian teratas cakram Matahari tepat mulai  
meninggalkan horizon semu bagian barat. 
        * Awal Isya' : saat cahaya senja (western twilight) tepat mulai 
menghilang  dari horizon barat.

Nah,  nilai-nilai sudut Matahari itu ada bermacam-macam pendapat. Yang saya 
pake  memang yang digunakan di Indonesia secara luas, dan nilai-nilai itu 
memang  pertama kali diperkenalkan alm. Saadoe'din Djambek sebelum kemudian 
diadopsi  Depag RI dan lermbaga - lembaga falak lainnya di Indonesia. 

Perbedaan  pendapat biasanya ada pada Shubuh, 'Ashar dan Isya'. Eastern 
twilight tepat  mulai muncul, atau western twilight tepat mulai hilang ketika 
tinggi Matahari  -18 derajat adalah hasil riset al-Biruni. Namun ini juga tidak 
mutlak. Sebab  riset kontemporer (seperti dari Abdul Haq Sultan pada ketinggian 
3.000 m dpl  di Yaman) menunjukkan eastern twiligth mulai muncul saat tinggi 
Matahari -13  derajat dari horizon timur, sementara western twilight mulai 
menghilang pada  tinggi -12 derajat dari horizon barat. Sementara Bernard 
Yallop, berdasar data  dari lintang tinggi (dari Royal Greenwich Observatory) 
menunjukkan dalams  etahun gregorian ada variasi tinggi Matahari terhadap  
muncul/menghilangny a twilight,yang secara kasar berkisar dari -13 hingga  -16 
derajat.

Kalo di Norwegia, saya belum tahu berapa nilai yang  digunakan. Mungkin bisa 
di-share di sini ?

Tentang waktu 'Ashar, secara  umum di daerah lintang tinggi digunakan panjang 
bayang-bayang 2 kali panjang  benda. 

Spreadsheet itu, mohon maaf, belum memperhitungkan Daylight  Saving Time. 
Maklum masih amatiran bikinnya . Dalam  kesempatan lain, Insya' Allah akan 
dilengkapi dengan itu.

Buku itu,  saya ada, dalam wujud e-book. Cukup besar memang. Jika berminat, 
mungkin lebih  baik via japri saja ya mas ?

Salam,


Ma'rufin


----- Original Message ----
From: awan yudha  <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] com
Sent:  Thursday, September 4, 2008 11:49:33 AM
Subject: Re:  [astronomi_indonesi a] Menentukan waktu sholat dan Ramadhan di 
daerah  ekstrem (polar circle)


betul pak Ma'rufin, saya tinggal di Stjørdal Norwegia.
 
Terima kasih sekali atas bantuan informasinya, apalagi juga  spreadseetnya.
Dan memang kenyataannya saat ini, misalnya tadi pagi 3 September 2008  pukul 2 
atau 3 dini hari pun, langit tampak gelap gulita. Padahal, syarat  untuk waktu 
Shubuh sebagaimana hadits Rasulullah SAW adalah adanya secercah  cahaya di 
langit sehingga bisa membedakan benang putih dengan benang  hitam.
 
 
Selanjutnya ada lagi yg ingin saya tanyakan, mudah2an bpk bisa  bantu.
 
Pertama:
Dalam file excel ada petunjuk sbb:
Isikan sudut Matahari dengan  ketentuan :
> Imsyak : -22,5 s/d -17,5 derajat; lebih kecil dari  Shubuh.
> Shubuh : -20 s/d -15 derajat.
> Dhuha : 3 s/d 5  derajat.
> 'Ashar : panjang bayangan 1 s/d 3 kali panjang benda.
>  Isya' : -12 s/d -18 derajat.
 
Bagaimana caranya bpk menentukan sudut matahari ini ? apakah angka2 tsb  hanya 
berlaku utk di Indonesia? ataukah berlaku juga untuk kita di Norway  sini. 
Maksud saya, secara logika awam saya, sepertinya sudut matahari tsb  harus saya 
observe sendiri di sini, apakah begitu pak?
 
Kedua:
Bagaimana dengan ketentuan daylight saving. Apakah perlu dimasukkan juga  dalam 
perhitungan di spreadsheet yg bpk kirim?
 
Ketiga:
Dimana kiranya saya bisa mendapatkan buku Shalat dan Puasa di  daerah 
Kutub-Saadoe' din Djambek tsb ya?
 
 
-eko-


 
2008/9/1 Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com>

Mas Eko,

Sepertinya anda berada di Stjordal, Norwegia ya ? 

Berikut saya sertakan spreadsheet untuk menentukan jadwal shalat  dalam lunasi 
Hijriyyah, sudah diset untuk Stjordal. Jika ada kesalahan mohon  dikoreksi saja 
koordinat dan tempatnya.

Untuk koordinat yang ada  berikan, memang benar, untuk hari2 pertama Ramadhan, 
waktu Imsyak dan Shubuh  "menghilang" (karena Matrahari memang tidak mencapai 
sudut Matahari yang  dipersyaratkan untuk kedua waktu itu. Dan problem ini akan 
makin terasa jika  ada di musim panas (coba dicek di lunasi Rajab dan Sya'ban) 
dimana waktu  Imsya, Shubuh dan Isya' menghilang.

Pada kondisi2 itu harus  bagaimana? Ada pendapat dari pak Saadoe'din Djambek 
almarhum dalam bukunya  Shalat dan Puasa di daerah Kutub (terbitan Bulan 
Bintang 1974). Untuk  diketahui, karya2 pak Saadoe'din Djambek ini sekarang 
menjadi rujukan ilmu  falak dalam Muhammadiyah dan juga dalam Depag. Pada buku 
itu beliau  memaparkan, jika waktu shalat tertentu menghilang terutama jika 
berada di  daerah ekstrim (lingkaran kutub maupun angkasa luar), maka waktu 
shalat yang  digunakan bisa merujuk pada daerah didekatnya yang waktu shalatnya 
masih  komplit, ataupun merujuk ke waktu makkah (khusus untuk angkasa luar). 

Demikian juga dengan waktu puasa. Jika waktu Shubuh dan atau Maghrib  
menghilang, bisa merujuk pada daerah yang lebih dekat yang masih ada waktu  
puasanya. Atau bisa juga digantikan dengan dilaksanakan pada bulan-bulan  lain 
(selain bulan ramadhan) dimana sudut-sudut Matahari untuk waktu puasa  
terpenuhi. Istilah teknisnya  diqadha.

Salam,


Ma'rufin



-----  Original Message ----
From: awan yudha <[EMAIL PROTECTED] com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent:  Friday, August 22, 2008 4:09:13 AM
Subject: [astronomi_indonesi a]  Menentukan waktu sholat dan Ramadhan di daerah 
ekstrem (polar 
circle)


hallo semua member millist astronomi,
 
Perkenalkan, nama saya Eko, seorang awam astronomi yang baru saja  bergabung 
dengan millist ini.
 
Ada satu topik yang ingin saya tanyakan kepada rekan2 di millist ini.  Mudah2an 
bukan topik yg sudah dibahas berulang-ulang (saya sempat ngecek di  topik2 yg 
sudah dibahas, tapi kayaknya belum sampai ke topik yang ingin saya  tanyakan).
 
Barangkali ada di antara rekan2 yang bisa membantu saya untuk  mendapatkan 
perhitungan2, bacaan, atau petunjuk2 praktis guna  menentukan waktu shalat dan 
Ramdhan, terutama di daerah2 ekstrem,   mendekati 'polar circle' (latitude 
lebih dari 60  derajat).
Saya sedang tertarik untuk mendalaminya, karena kemungkinan dua tahun  lagi 
(kalau Alloh mengizinkan) saya akan menjumpai Ramadhan di waktu summer,  saat 
langit selalu terang (tidak dapat dibedakan antara siang dan  malam).
 
Atau barangkali ada yang pernah menemukan fatwa ulama tentang kondisi  seperti 
itu, mohon saya dibagi informasinya.
 
makasih sebelumnya,
 
-eko @ 63°28′04″N/10°55′03″E -
 


    


      

Kirim email ke