Sebelum memperbincangkan magnetiknya, coba dilihat batuannya dulu. 

Kota Madinah dan sekitarnya secara geologis berdiri di atas Arabian Shield yang 
tua (umur 700-an juta tahun) yang dihiasi endapan lava alkali basaltik 
(thoelitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang usianya muda (muncul 10 juta 
tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat 
basa ini muncul ke permukaan Bumi dari kedalaman 40-an km melalui zona rekahan 
sepanjang 600 km yang dikenal sebagai Makkah-Madinah-Nufud volcanic line, 
karena membentang dari dekat Makkah di selatan, melintasi Madinah dan berujung 
di daratan Nufud di utara. Sehingga vulkanisme Arabia merupakan vulkanisme 
hotspot seperti halnya vulkanisme Kepulauan Hawaii dan sangat bertolak belakang 
dengan vulkanisme produk subduksi antar lempeng (seperti di Indonesia) yang 
menghasilkan magma bersifat asam. 

Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan ini, seperti Harrah 
Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid dan Harrah Khaybar (betul, Harrah Khaybar 
adalah perbukitan berbatu tandus yang menjadi lokasi benteng-benteng suku 
Yahudi dalam Perang Khaybar). Namun jangan bayangkan gunung-gunung ini 
berbentuk kerucut yang menjulang tinggi dan eksotis sebagaimana gunung-gunung 
berapi di Indonesia. Karena vulkanisme Arabia lebih didominasi erupsi efusif 
(leleran) sehingga gunung berapi yang muncul bersifat melebar, dengan 
puncak-puncak yang rendah dan 'jelek'. Kompleks semacam ini lebih cocok disebut 
volcanic field (atau harrah, dalam bahasa Arab-nya). 

Harrah Rahat adalah bentukan paling menarik. Dengan panjang 310 km, ia 
membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya 
2.000 km kubik endapan lava yang membentuk 2.000 lebih kerucut kecil (scoria) 
dan 200-an kawah maar. Selama 4.500 tahun terakhir Harrah Rahat telah meletus 
besar sebanyak 13 kali dengan periode antar letusan rata-rata 346 tahun. 
Letusan besar terakhir terjadi pada 26 Juni 1256 CE, yang memuntahkan 500 juta 
meter kubik lava lewat 6 kerucut kecilnya selama 52 hari kemudian. Lava ini 
mengalir hingga 23 km ke utara dan hampir menenggelamkan kota suci Madinah yang 
letaknya memang lebih rendah, jika saja tidak ada mukjizat yang membuat aliran 
lava berhenti ketika jaraknya tinggal 4 km saja dari Masjid Nabawi. Jangan 
bandingkan letusan itu dengan, misalnya, Merapi 2006 yang 'hanya' memuntahkan 8 
juta meter kubik lava saja. 

Nah, basalt, secara umum tersusun dari mineral piroksen, olivin, ilmenit dan 
feldspar. Tiga mineral pertama mengandung besi namun tidak dalam porsi dominan 
seperti Fe3O4. Memang dimungkinkan mineral-mineral itu melapuk dan kemudian 
besi-nya membentuk Fe3O4 sendiri dan terkonsentrasi di Jabal Magnet hingga 
menghasilkan anomali magnetik mengingat Fe3O4 memiliki sifat ferromagnetik. 
Namun ini sulit dibayangkan mengingat umur basalt di sekitar Madinah masih 
sangat muda, tidak lebih dari 2 juta tahun. Terlebih dengan sumber panas 
(magma) di bawahnya, memungkinkan besi melampaui titik Curie terutama saat 
letusan sehingga kehilangan sifat kemagnetannya.

Anomali magnetik memang ada di sebelah utara Madinah, yakni di dekat dataran 
tinggi Nufud. Namun anomali ini lebih terkait dengan struktur sirkular 
al-Madafi yang dicurigai merupakan kawah produk tumbukan benda langit jutaan 
tahun silam, dimana kemungkinan benda langit tersebut adalah meteorit siderit 
yang sangat kaya akan besi (kandungan besi-nya bisa mencapai 90 % berat). Namun 
Jabal Magnet terpisah cukup jauh dari al-Madafi sehingga sulit untuk mengaitkan 
keduanya.

Memang semuanya perlu diteliti lebih lanjut. Perlu ada survei magnetik dan 
gravitasi di Jabal Magnet. Hanya, sependek pengetahuan saya, fenomena di Jabal 
Magnet lebih mirip dengan fenomena sejenis di Gunung Kelud, yang tempo hari 
telah diteliti secara intensif oleh pak Amin Widodo dkk dari ITS. Fenomena 
Gunung Kelud sendiri disimpulkan merupakan 'ilusi optik' karena pengaruh soil 
creep yang membuat tegakan pohon-pohon di sisi jalan itu menjadi berbeda. 

Di Jabal Magnet, 'ilusi optik' itu mungkin lebih dikontrol oleh gerakan dari 
bawah permukaan Bumi. Pada 1999 silam otoritas Saudi Geological Survey (SGS) 
sempat dikejutkan dengan adanya aktivitas swarm (gempa kecil terus menerus) di 
Harrah Rahat, pertanda naiknya sejumlah besar magma. Ini memaksa SGS memasang 
sejumlah seismometer. Dan di sekitar Madinah diketahui betapa aktifnya 
kegempaan Harrah Rahat, terkait dengan migrasi magma tersebut, yang memproduksi 
ratusan gempa-gempa kecil tiap hari dengan magnitude 1 - 3 skala Richter dan 
adakalanya mencapai 4 skala Richter. Barangkali migrasi magma tadi juga 
menyelusup ke bawah Jabal Magnet dan menghasilkan perubahan kontur permukaan.

Salam,


Ma'rufin




________________________________
From: muzadi didik optalnindi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, September 27, 2008 7:52:52 AM
Subject: [sains] Terusan: [Ida Arimurti] Fwd : Keajaiban medan magnet di Madinah




dodi budiristio <dodibudiristio@ yahoo.com> wrote:  Kepada: alumni_smariagitma 
<alumni_smariagitma@ yahoogroups. com>,
idaarimurtiandfrien [EMAIL PROTECTED] com, genaro-ngalam@ yahoogroups. com
Dari: dodi budiristio <dodibudiristio@ yahoo.com>
Tanggal: Wed, 17 Sep 2008 00:44:36 -0700 (PDT)
Topik: [Ida Arimurti] Fwd : Keajaiban medan magnet di Madinah

Cerita keajaiban medan magnet di Madinah

Ada sebuah wilayah di utara Madinah yang merupakan tempat wisata warga sekitar, 
letaknya di balik Gunung Uhud, sekitar 25 kilometer utara pusat kota Madinah. 
Jalan raya di sana menuju kuldesak, jalan buntu. Banyak warga camping di sini. 
Jangan dibayangkan sama seperti di Indonesia, di mana tempat perkemahan 
biasanya merupakan lahan hijau nan penuh rumput dan pepohonan. 

Di utara Madinah ini, lahan tempat campingnya adalah sebuah tanah lapang 
tandus, padang pasir, dengan pohon dan semak sesekali dikelilingi oleh bukit 
batu. Daerah ini berada di luar batas tanah haram.


Warga Madinah yang ingin melakukan perkemahan atau sekadar jalan-jalan biasanya 
membawa tenda sendiri dan berkendaraan pribadi. Mereka juga membawa makanan 
sendiri. Persis tradisi rakyat Indonesia di era tahun 1970-an yang sering 
melakukan piknic di pinggir jalan dengan beralaskan tikar dan makan-makan 
seadanya, duduk bersama di bawah pohon.

Wilayah ini termasuk wilayah tersubur di Madinah, selain di Quba. Jalannya 
berkelak-kelok, berbeda dengan jalan-jalan raya kebanyakan di sini yang 
lurus-lurus. Yang tumbuh ditanahnya juga kurma terbaik di Jazirah Arab, kurma 
Nabi atau Kurma Ajwa. Dinamakan demikian karena diyakini pohon kurma tersebut 
dahulu langsung ditanam Rasulullah SAW. DI masa dahulu, wilayah ini merupakan 
tempat uzlah atau menyepi bagi mereka yang tengah berselisih pendapat agar bisa 
mendapat ketenangan.

Namun, yang membuat wilayah ini terkenal ke seantero jagad bukanlah karena 
wilayah yang disebut sebagai perkampungan putih (Mantheqa Baidha) ini dijadikan 
tempat wisata, melainkan keajaiban alamnya yang hanya ada di segelintir tempat 
di dunia. Banyak orang percaya bahwa di daerah ini terdapat sebuah medan 
magnetik yang sangat kuat dan besar. 

Fenomena alam yang luar biasa ini bisa dirasakan sepanjang lima kilometer ruas 
jalan dari ujung aspal sampai pintu masuk ke daerah ini. Jalan ini sendiri 
berakhir di lima deret bukit yang mengelilingi wilayah tersebut. Jalannya turun 
naik. Namun kendaraan yang menuju perbukitan jalannya hanya bisa pelan, seolah 
ada yang menahan. Sebaliknya, dari arah perbukitan, walau jalannya tidak 
menurun tetapi turun naik, semua kendaraan akan berjalan dengan cepat bahkan 
bisa sampai 120km/jam walau persneling dibebaskan. Bahkan kendaraan dimatikan 
pun akan tetap melaju sekencang itu.

Ini tentu bukan isapan jempol. Beberapa jamaah Indonesia sempat membuktikan 
cerita itu. Kami sendiri mencoba untuk mengetes apakah memang ada medan magnet 
atau sekadar tipuan mata. Dengan sebuah bus besar, rombongan kami melalui 
daerah ini. Sesaat menjelang masuk ke wilayah yang dikatakan ada medan 
magnetiknya, guide Kami menyerukan agar handphone yang ada segera dimatikan 
untuk menghindari hilangnya data. Semua penumpang mengeluarkan ponselnya dan 
mematikan. Kecuali ponsel milik Kami. Kami ingin mengecek benar tidaknya 
himbauan guide kami tersebut.

Sesaat kemudian, guide kami berseru, “Inilah saatnya…”. TIba-tiba bus besar 
yang kami tumpangi memposisikan free pada roda gigi busnya…dan bus pun 
berhenti. Tak sampai beberapa detik, bus yang tadinya berhenti dan masih di 
free roda giginya tiba-tiba bergerak perlahan. Kian lama kian kencang. Hingga 
ajaib, kendaraan yang Kami tumpangi melaju dengan kecepatan 90 kilometer per 
jam sejauh tiga kilometer!

Sang pemandu perjalanan Kami mencoba menerangkan fenomena unik. Dia mengatakan 
bahwa kemungkinan besar bukit-bukit yang ada di sekitar mengandung magnet yang 
kuat, sehingga bisa menarik tiap logam ke arahnya.
Kami pun mengecek ponsel yang tidak Kami matikan. Ternyata benar. Ponsel Kami 
tidak bekerja dan bahkan banyak data hilang di dalamnya. Kami jelas sedih, tapi 
rasa takjubnya jauh lebih besar. 

Subhanallah… Allahu Akbar! 

Kami telah membuktikannya. Dan bagi siapa saja yang pergi HAJI atau umroh dan 
melalui wilayah ini, segera matikan ponsel Anda dan bersiap menikmati 
pengalaman yang tidak terlupakan. Jangan lupa, matikan ponsel Anda, atau 
data-data di dalam ponsel akan banyak yang hilang…. 

Kian Besar Kian Cepat

Menurut warga sekitar, kecepatan kendaraan yang bisa ditarik oleh medan magnet 
di wilayah ini bisa berbeda-beda. Semakin besar dan berat kendaraan yang 
melintas, maka akan semakin cepat magnet menariknya hingga bisa sampai 120 
kilometer perjam sejauh lima kilometer! Sudah banyak yang membuktikan hal 
tersebut. Ada sejumlah orang yang datang dengan kendaraan berbeda dan 
membuktikannya.

Bukit Gravitasi
Tidak banyak tempat di seluruh dunia yang memiliki medan magnetic seperti di 
Madinah ini. Tempat serupa ada di Korea Selatan, Yunani, Australia, timur 
Amerika, dan juga di sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. Hanya saja, kekuatan 
magnet di daerah-daerah tersebut tidaklah sekuat yang ada di Madinah.

Siapa pun bisa mengalami hal ini dengan mengunjungi langsung wilayah tersebut. 
Namun bagi yang belum bisa merasakan sendiri, silakan menonton fenomena unik 
ini dengan mengklik situs youtube dengan menulis ‘Gravity Hills’ atau ‘Magnetic 
Hills’ di kolom pencariannya. 

Yang jelas, keajaiban ini seharusnya mampu menambah kecintaan kita kepada Allah 
SWT, yang telah menciptakan alam semesta seisinya dengan kesempurnaan. 
......... .. (sumber : forumbebas)

------------ --------- --------- ---
Dapatkan nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

Kirim email ke