Olimpiade Beijing dan Introspeksi Dunia Islam    

Sunday, 24 August 2008 19:07  

Hiruk pikuk olimpiade Beijing di Bejing dapat dijadikan untuk 
mengajak umat melakkan introspeksi untuk melihat berbagai kegagalan-
kegagalan kita 

Oleh M. Syamsi Ali*

Dua minggu terakhir China sedang menjadi pusat perhatian mata. 
Bermilyar manusia dari seluruh penjuru dunia menonton perhelatan 
dahsyat 4 tahunan, Olympic games, yang tidak saja dituan-rumahi oleh 
negara berpenduduk terbesar dunia itu, tapi juga didominasi dalam 
peraihan medali.

China memang fenomenal. Mungkin kata yang paling pantas adalah bahwa 
China memang dahsyat dan fantastik. China sejak dulu, tidak saja 
dikenal sebagai sebuah negara, tapi sebuah peradaban yang yang sejak 
kala dulu banyak mendominasi dunia kita. Siapa yang tidak kenal 
sejarah nusantara yang juga tidak terlepas dari sejarah peradaban 
China?

Di saat-saat hampir semua negara di Asia digoncang oleh krisis 
ekonomi dan finansial di tahun penghujung 1997, China dengan tegar 
dan kokoh solid melalui krisis itu tanpa pengaruh yang bermakna. Jika 
saja kita melihat negara-negara ASEAN saat ini, termasuk dua negara 
Muslim mayoritas, Indonesia dan Malaysia, nampak Chinalah yang 
mendominasi.

Dalam dunia internasional, China dengan kalem tapi mulus dalam 
menjual dominasinya hampir dalam seluruh linea kehidupan global. Di 
PBB sendiri China memiliki posisi yang sangat diperhitungkan, bahkan 
terkadang lebih dperhitungkan ketimbang Rusia atau Prancis misalnya. 
Pasalnya, China ternyata menancapkan kuku pengaruhnya di berbagai 
belahan dunia, khususnya di Asia dan Afrika. Bahkan di beberapa 
negara Amerika Tengah dan Latin, China memiliki pengaruh ekonomi yang 
berat.

Mungkin bagi kita yang tinggal di negara yang terkadang dijuluki 'the 
only super power' ini, ternyata China pun bisa dikategorikan sudah 
menembus dengan goncangan yang menakutkan. Berbagai produksi kecil, 
dari mainan anak-anak (toys), makanan-makanan hewan piaraan, dll., 
telah merajai pasar negara ini. Cukup mengkhawatirkan, sampai-sampai 
ada upaya untuk menjatuhkan citra produksi China dengan kasus-kasus 
keracunan anjing, dan juga tuduhan mainan anak-anak yang 
membahayakan. Tuduhan demi tuduhan itu begitu keras, sampai-sampai 
semua siaran TV hanya menyiarkan hal tersebut berhari-hari.

Dunia Islam?

Mungkin perlu dibedakan secara jelas antara cita dan realita. Islam 
adalah cita semua Muslim. Tapi Muslimlah yang kemudian harus membawa 
cita itu ke sebuah realita. Kegagalan demi kegagalan yang dialami 
oleh dunai Islam saat ini tidak ada hubungannya dengan Islam. Islam 
dalam kenyataannya adalah kejayaan. Mungkin akan lebih tegas jika 
dikatakan: 'tiada kejayaan tanpa Islam dan tiada Islam tanpa 
kejayaan'.

Bagi beberapa kalangan, pernyataan di atas tidak diterima. Potongan 
pertama akan mentah-mentah ditolak oleh kalangan 'liberal-secular 
group', yang selalu melihat sebuah kejayaan dengan keterlepasan dari 
nilai-nilai agama (baca Islam). Sebaliknya, kalangan 'exclusive-
minded group' sudah psti menolak yang kedua karena bagi mereka Islam 
itu identik dengan keterlepasan dari hiruk pikuk kemajuan dan 
kejayaan dunia. Bagi mereka, semua yang mirip dengan apa yang mungkin 
dilihat sebagai kejayaan 'ala barat' adalah tidak Islami dan bahkan 
antitesis dengan Islam.

Padahal, pernyataan di atas adalah ekspresi sederhana dari doa sapu 
jagad umat: 'Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirah hasanah'. 
Bahwa umat yang mengimani Islam memiliki cita hidup yang jelas, 
yaitu 'kejayaan dunia dan kejayaan akhirat'.

Namun realitanya, dunia Islam sangat jauh dari cita yang agung itu. 
Umat saat ini sedang merana di hampir seluruh linea kehidupannya. 
Bahkan hingga di titik kehidupan yang paling esensial sekalipun, 
akidah, umat sedang menghadapi krisis yang luar biasa. Saya katakana 
demikian, karena akidah bertujuan membangun muru'ah (dalam bahasa 
lain, izzah) atau mungkin dalam bahasa populernya 'self confidence'. 
Kenyataannya, umat kehilangan kepercayaan diri, dan itu merupakan 
identifikasi krisis iman yang paling nyata.

Secara ekonomi, dunia Islam dikaruniai nikmat kekayaan yang luar 
biasa. Ada yang memperkirakan, lebih 65% kekayaan alam, dari minyak, 
pertambangan, lautan, hutan, dll., di berbagai negara di Asia dan 
Afrika, ada di negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tapi 
menyakitkan, mereka yang dikategorikan manusia-manusia yang hidup di 
bawah garis kemiskinan juga mayoritasnya ada di negara-negara 
berpenduduk mayoritas Muslim.

Secara politik, hanya bilangan jari saja dari sekian negara-negara 
Muslim yang mempraktekkan hukum 'syura'. Mayoritasnya, jika tidak 
dictatorship, ya dipaksa untuk nmenerapkan sistim orang lain. Mungkin 
kelompok kedua ini boleh jadi memakai sistim dengan istilah cantik, 
demokrasi misalnya. Tapi kenyataannya, semua hanya simbolisme 
dominasi sistim yang orang lain paksakan. Buktinya, sistim itu 
dianggap sukses jika 'delivering interests of certain power'. Jika 
tidak, walau kenyataannya melakukan hal yang sama, justeru dianggap 
tidak demokrasi.

Secara kultur dan sosial, dunia Islam masih sangat morat-marit. 
Kedisiplinan dan etos kerja sangat jauh di atas rata-rata 
kedisiplinan dan etos kerja orang-orang yang kita sebut 'kafir'. 
Betapa seharusnya kita kagum dengan etos kerja orang-orang China di 
kota dunia, New York. Terbukti dengan menjamurnya restoran-restoran 
China hampir di mana-mana. Demikian pula dengan komunitas Korea, dll.

Dalam arena kehidupan global, umat Islam nyata termarjinalkan dalam 
segala hal. Produk-produk untuk kebutuhan asasi umat, hatta dalam hal-
hal yang sifatnya ritual sekalipun, justeru diproduksi oleh orang 
lain. Lihatnya pasar di mekah, dari tasbih, sajadah, baju jubah, 
dll., banyak justeru 'made in China'.

Mungkin yang paling nyata adalah kenyataan bahwa di pusat diplomasi 
dunia, PBB, dunia Islam sama sekali tidak terwakilkan secara baik. 
Suara negara-negara Muslim hampir tidak terdengarkan di saat 
seharusnya didengar karena membela hak-hak sesama yang terinjak-injak 
di berbagai belahan dunia. Bandingkan antara jumlah negara Uni Eropa 
dengan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam 
(OKI). Namun signifikasi suara kedua organisasi (OKI dan EU) sangat 
berbeda, bagaikan langit dan bumi.

Alkhulasoh, umat Islam kini berada di sebuah jurang kegagalan. Dan 
sangat menyedihkan, terkadang kegagalan-kegagalan itu justeru 
dirasakan oleh sebagian sebagai 'Islamically justified'.

Apa Gerangan?

Kenyataan ini menjadikan banyak kalangan yang tidak habis pikir. Apa 
gerangan? Apa yang sedang terjadi? Apa penyebab sehingga terjadi 
seperti itu? Bukankah umat Islam pernah jaya lebih 7 abad? Sebuah 
kejayaan terpanjang dalam sejarah hidup manusia?

Pada akhirnya, banyak kalangan pengamat hanya bisa menempatkan 
pengamatan mereka di satu sisi. Terkadang Islamnya yang disesali. 
Atau sebaliknya, terkadang apa yang dipersepsikan sebagai lawan Islam 
yang disesali. Terkadang pula para pengamat itu hanya mengantar umat 
kepada sikap 'menuduh' dan atau 'menyesali'. Menuduh orang lain atas 
kegagalan-kegagalan umat. Atau sebaliknya juga menyesali diri sendiri 
atas kegagalan-kegagalan itu.

Yang disayangkan, bahwa ada kecenderungan sebagian untuk saling 
melemparkan kesalahan. Dan tentunya yang paling tidak membahayakan, 
ketika pihak-pihak tertentu merasa 'dirinyalah atau metode 
pendekatannyalah' yang absolute benar. Semua yang tidak sejalan salah 
dan bahkan dianggap menjadi penyebab atau kontributor kegagalan-
kegagalan itu.

Dalam hal ini, ada dua pandangan ekstrim yang sedang berlaga. 
Pandangan yang mengatakan bahwa dunia Islam saat ini terbelakang 
karena masih terkungkung oleh konsepsi syariah Islam, yang 
menurutnya, hanya menjadi aral dalam upaya mencapai kejayaan itu. 
Sebaliknya, ada pula yang sangat simplistik dalam melihat bahwa 
berbagai kegagalan disebabkan oleh tidak ditegakkannya syariah Islam. 
Yang runyam, ketika syari'ah Islam ditafsirkan secara sempit dengan 
berbagai simbolisme agama yang sama sekali tidak menyentuh substansi 
kehidupan manusia.

Dalam sebuah dialog antar agama (Islam dan Yahudi) di New York 
University (NYU) beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh seorang 
peserta: 'Bagaimana sikap anda jika ada Muslim yang ingin 
mempraktekkan syariah di Amerika?'

Sebagian peserta Muslim tentu bingung untuk menjawab pertanyaan 
tersebut. Ada pula yang cenderung mengatakan bahwa syari'ah itu 
adalah isu lama, yang tidak ada lagi dalam agama ini. Sebagian yang 
lain, menginginkan jika saya menegaskan bahwa tujuan mulia Islam 
memang adalah menegakkan syari'ah dalam sebuah tatanan pemerintahan 
Islam yang disebut khilafah.

Dengan tenang dan senyum, saya jawab bahwa sesungguhnya dari 
pertanyaan anda saya memahami jika anda sedang phobic (ketakutan) 
dengan konsep syari'ah. Itu menandakan bahwa yang perlu saya lakukan 
bukan menjelaskan sikap saya, tapi menjelaskan konsepsi syari'ah 
untuk membenarkan persepsi anda tentang syari'ah itu sendiri.

'Syari'ah adalah jalan hidup. Syari'ah adalah aturan yang mengatur 
kehidupan seorang Muslim secara menyeluruh, yang dirincikan kemudian 
dalam sistim hukum mufasshol (detail) yang disebut fiqh. Intinya, 
tiada Islam tanpa Syari'ah, dan bagi seorang Muslim tiada kehidupan 
bermakna tanpa Syari'ah'.

Jawaban saya di atas tentunya mengejutkan bagi sang penanya. 
Penjelasan-penjelas an saya tentang Islam yang terbuka, bersahabat, 
maju, berbudaya, dll., seolah sirna dengan penjelasan saya tentang 
Syari'ah tersebut. Bagi dia, seharusnya saya mengatakan bahwa 
Syari'ah itu adalah hukum kuno yang hanya berlaku 25 abad silam. 
Kini, dengan kehidupan modern di abad 21, umat tidak perlu lagi 
syari'ah.

Tapi kemudian saya susuli: 'Amerika Serikat, sebagai sebuah negara 
dan bangsa, telah mempraktekkan banyak hal yang sifatnya syari'ah. 
Bahkan tidak berlebihan jika saya katakan, dalam beberapa hal, 
Amerika lebih mempraktekkan syari'ah dari negara-negara yang 
berpenduduk mayoritas Muslim. 'Keadilan, kesetaraan, kemerdekaan, dan 
pertanggung jawaban publik' adalah bagian tak terpisahkan dan bahkan 
menjadi asas dari seluruh sendi-sendi kehidupan syari'ah kemudian'.

Penjelasan saya tersebut ternyata tercerna secara baik oleh sebagian 
besar peserta. Sehingga pada akhirnya saya bisa mengatakan, apa yang 
anda saksikan saat ini di berbagai belahan dunia Islam, dari 
kediktatoran, kemiskinan, keterbelakangan di dunia sains dan 
teknologi, hilangnya kedisiplinan sosial dan rendahnya etos kerja, 
semua itu menunjukkan kegagalan umat Islam dalam menerapkan syari'ah 
yang sejati.

Pada akhirnya, dengan hiruk pikuk olimpiade Beijing saat ini, umat 
diajak untuk melakukan introspeksi. Apakah kegagalan-kegagalan itu 
karena konsepsi Islam? Atau sebaliknya, berbagai kegagalan yang 
terjadi justeru disebabkan oleh kegagalan umat dalam menerapkan 
syari'ah yang sejati. Kalaulah Syari'ah itu menjadi 'penghalang' 
kebangkitan, seharusnya Turki saat ini lebih hebat dari Jerman. 
Sebaliknya, seandainya 'pengakuan Syari'ah' itu menjadi fondasi 
kejayaan, tentu Saudi Arabia telah jauh lebih maju ketimbang 
Singapura.

Saya hanya kembali diingatkan oleh pernyataan Prof. Dr. Habibie, 
untuk bangkit diperlukan manusia-manusia yang berotak Jerman, tapi 
berhati Mekah. Mungkinkah? Pasti bisa karena itulah makna 'ulil al 
baab' yang memiliki dua sayap yang mampu menghantarkannya kepada 
kehidupan yang lebih tinggi, yaitu 'sayap dzikir dan sayap fikir'.

"alladzina yadzkuruna Allaha qiyaaman wa Qu'uudan wa 'aala junuubihm, 
wa yatafakkaruna fi khalqis samawati wal al ardh."

New York , 20 Agustus 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. 
Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di 
www.hidayatullah.com


  

Kirim email ke