Assalamu'alaikum

Mengingat bahwa pendidikan adalah ilmu normatif, maka fungsi institusi
pendidikan adalah menumbuh-kembangkan subyek didik ke tingkat yang
normatif lebih baik, dengan cara/jalan yang baik, serta dalam konteks
yang positif. Disebut subyek didik karena peserta didik bukan
merupakan obyek yang dapat diperlakukan semaunya pendidik, bahkan
seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan harkat
kemanusiannya.

Menurut Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau
subyek, bukan penderita atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah
menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta
realitas yang menindasnya. Dunia dan realitasnya bukan "sesuatu yang
ada dengan sendirinya", dan karena itu "harus diterima menurut apa
adanya", sebagai suatu takdir atau nasib yang tak terelakkan. Manusia
harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya
cipta, dan itu berarti manusia mampu memahami keberadaan dirinya. Oleh
karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas
diri manusia dan dirinya sendiri, dan harus mampu mendekatkan manusia
dengan lingkungannya.

Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan yang masih
merajalela merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas pendidikan
kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah urgensi
humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk
menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas
spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak
mampu mengatasi persoalan yang dihadapi.

Dari beberapa literatur pendidikan, ditemukan beberapa model
pembelajaran yang humanistik ini yakni: humanizing of the classroom,
active learning, quantum learning, quantum teaching, dan the
accelerated learning.

Humanizing of the classroom ini dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah
yang otoriter, tidak manusiawi, sehingga banyak menyebabkan peserta
didik putus asa, yang akhirnya mengakhiri hidupnya alias bunuh diri.
Kasus ini banyak terjadi di Amerika Serikat dan Jepang. Humanizing of
the classroom ini dicetuskan oleh John P. Miller yang terfokus pada
pengembangan model "pendidikan afektif". Pendidikan model ini bertumpu
pada tiga hal: menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan yang
sedang dan akan terus berubah, mengenali konsep dan identitas diri,
dan menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran. Perubahan yang
dilakukan tidak terbatas pada substansi materi saja, tetapi yang lebih
penting pada aspek metodologis yang dipandang sangat manusiawi.

Active learning dicetuskan oleh Melvin L. Silberman. Asumsi dasar yang
dibangun dari model pembelajaran ini adalah bahwa belajar bukan
merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada
siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus.
Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan sebagian besar
pekerjaan belajar. Mereka mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan
berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.

Dalam active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan
cepat lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit,
dengan cara mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain
akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan
akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, dan cara untuk menguasai
pelajaran yang terbagus adalah dengan mengajarkan. Belajar aktif
merupakan langkah cepat, menyenangkan, dan menarik. Active learning
menyajikan 101 strategi pembelajaran aktif yang dapat diterapkan
hampir untuk semua materi pembelajaran.

Adapun quantum learning merupakan cara pengubahan bermacam-macam
interaksi, hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan di sekitar
momen belajar. Dalam prakteknya, quantum learning menggabungkan
sugestologi, teknik pemercepatan belajar dan neurolinguistik dengan
teori, keyakinan, dan metode tertentu. Quantum learning mengasumsikan
bahwa jika siswa mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secara
jitu akan mampu membuat loncatan prestasi yang tidak bisa terduga
sebelumnya. Dengan metode belajar yang tepat siswa bisa meraih
prestasi belajar secara berlipat-ganda. Salah satu konsep dasar dari
metode ini adalah belajar itu harus mengasyikkan dan berlangsung dalam
suasana gembira, sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih
besar dan terekam dengan baik.

Sedang quantum teaching berusaha mengubah suasana belajar yang monoton
dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira
dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa menjadi suatu
kesatuan kekuatan yang integral. Quantum teaching berisi
prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran yang efektif, efisien,
dan progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil
belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit. Dalam prakteknya,
model pembelajaran ini bersandar pada asas utama bawalah dunia mereka
ke dunia kita, dan antarkanlah dunia kita ke dunia mereka.
Pembelajaran, dengan demikian merupakan kegiatan full content yang
melibatkan semua aspek kepribadian siswa (pikiran, perasaan, dan
bahasa tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya,
serta persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola
sebaik-baiknya, diselaraskan hingga mencapai harmoni (diorkestrasi) .

The accelerated learning merupakan pembelajaran yang dipercepat.
Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu
berlangsung secara cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Pemilik konsep
ini, Dave Meier menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas
menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual, dan Intellectual
(SAVI). Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing
(belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory adalalah learning by
talking and hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan) .
Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan
mengamati dan mengambarkan) . Intellectual maksudnya adalah learning
by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah
dan melakukan refleksi).

Bobbi DePorter menganggap accelerated learning dapat memungkinkan
siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya
yang normal dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur
yang sekilas tampak tidak mempunyai persamaan, tampak tidak mempunyai
persamaan, misalnya hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif,
kebugaran fisik dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja
sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.

Dalam Islam, paradigma pendidikan yang dipakai adalah persenyawaan
antara anthropocentris dan theocentris. Artinya proses perkembangan
moral manusia itu didasari nilai-nilai islami yang dialogis terhadap
tuntutan Tuhan, tuntutan dinamika sosial, dan tuntutan pengembangan
fitrah lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara
kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta kemampuan belajarnya
disemangati oleh misi kekhalifahan dan penghambaan.

Nilai-nilai kemanusiaan berakar pada penciptaan manusia. Manusia
tercipta sebagai makhluk dinamis yakni manusia terus menerus
berkembang dan berubah setiap saat. Berdasarkan tesis ini, maka
nilai-nilai kemanusiaan juga mengalami perkembangan dan perubahan
pula. Nilai-nilai kemanusiaan itu berubah sejalan dengan perubahan
waktu. Berubah berarti mengalami pergeseran, yaitu bergeser dari satu
tahapan menuju ke tahapan yang lain, dari satu tingkatan menuju ke
tingkatan berikutnya.

Dimensi theocentris (hablun min Allâh) dan anthropocentris (hablun min
al-nâs) adalah dua dimensi bagaikan dua sisi mata uang. Kesalehan
seseorang kepada Tuhan tidaklah dianggap cukup jika tidak disertai
dengan kesalehannya kepada sesama manusia dan makhluk lainnya. Dengan
demikian, dimensi anthropocentris dan dimensi theocentris pada
hakikatnya mewujudkan kesejahteraan anthropocentris. Rasa kemanusiaan
yang terpisah dari rasa ketuhanan akan menjadikan manusia
memberhalakan manusia. Makna sejati dari kemanusiaan itu sendiri
terletak pada kebersamaannya dengan ketuhanan. Demikian juga rasa
ketuhanan tidak akan memperoleh makna yang luhur bila tidak diikuti
dengan rasa kemanusiaan.

Ada beberapa prinsip tentang manusia yang dapat dijadikan landasan
bagi kepentingan pendidikan Islam yang humanis yaitu:

pertama, manusia (peserta didik) adalah makhluk termulia yang melebihi
makhluk-makhluk lain seperti malaikat, jin, setan, dan hewan. Karena
itu, dalam proses pendidikan, para guru lebih mendahulukan strategi
pembelajaran yang memanusiakan manusia daripada yang bersifat
pemaksaan.

Kedua, manusia memiliki kemampuan berfikir dan permenungan. Ia dapat
menjadikan alam sekitarnya sebagai objek renungan, pengamatan, dan
arena tempat menimbulkan perubahan yang diingini. Manusia adalah
makhluk yang mampu melakukan self-reflection, ia mampu keluar dari
dirinya dan menengok ke belakang, kemudian mengadakan penelitian dan
permenungan.

Ketiga, ada perbedaan perseorangan. Yakni bahwa masing-masing manusia
memiliki ciri khas tersendiri berdasarkan potensi yang dimilikinya,
baik lahir maupun batin. Menelaah manusia hanya pada satu sisi, akan
membawa pada stagnasi pemikiran tentang manusia, sekaligus
menjadikannya obyek yang statis.

Keempat, manusia dalam kehidupannya dipengaruhi dan bersosialisasi
dengan faktor-faktor bawaan dan alam lingkungan, terutama lingkungan
sosial. Manusia membutuhkan sosialisasi di antara mereka. Hubungan
antar manusia didasari oleh hubungan kekhalifahan, kebaikan, dan
egaliter. Manusia lain dipandang sebagai pribadi yang harus
dipersilakan mengembangkan dirinya. Kelima, Manusia dalam kebebasannya
mengolah spiritualitasnya untuk dapat menyadari eksistensi Tuhan.
Menyadari eksistensi Tuhan akan melahirkan tanggung jawab kepada Sang
Ilahi. Menurut Andreas Harefa, lahirnya tanggung jawab itu karena
didorong oleh adanya kesadaran mengenai hakikat diri sebagai makhluk
langit, makhluk moral spiritual (moral spiritual being) dan tidak
hidup hanya untuk minum dan makan.

Pendidikan bukan hanya memberikan keleluasaan terhadap pengabdian
spiritual, melainkan yang lebih penting lagi harus memungkinkan
terselesaikannya berbagai peristiwa tragis kemanusiaan seperti
penindasan, pembodohan, teror, radikalisme, keterbelakangan, dan
permasalahan lingkungan. Agar wacana kemanusiaan tanpa kekerasan tetap
dikedepankan dalam pendidikan, kurikulum harus menyajikan materi yang
memungkinkan bagi tumbuhnya sikap kritis bagi peserta didik

Trainers Club Indonesia 5th Anniversary

Life for Success
Salam Trainer
Regards,
HENDRY RISJAWAN
www.trainersclub. or.id
--
--
RAHMADSYAH
Certified Master NLP Practitioner I 081511448147 I Motivator & Therapist
www.rahmadsyah.co.cc

Kirim email ke