Iran adalah contoh dari masyarakat Islam yang memegang teguh ajaran yang di 
yakininya, aku pernah baca biografi Imam Khamaini, sungguh luar biasa, belum 
aku temui pemimpin Islam modern sekarang yang berusaha mengikuti kehidupan 
sederhana Baginda tercinta Rasulullah SAW. Untuk presiden Iran yang sekarang 
ini pun nampaknya memiliki corak kehidupan yang tidak jauh berbeda, tapi 
tingkat intelektual mereka dan keberaniannya patut kita acungi jempol. 

--- On Mon, 9/8/08, rsa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: rsa <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [rumahilmu] [ARTIKEL] “Mencermati Pesan Ganda Iran Menjelang Ramadhan” 
-- ilmu sbg kunci peradaban
To: [email protected]
Date: Monday, September 8, 2008, 9:28 PM






"Mencermati Pesan Ganda Iran Menjelang Ramadhan" 

Friday, 29 August 2008 10:32 

Di saat bangsa Indonesia sibuk lomba balap karung, Iran justru 
meluncurkan satelit. Fase baru perkembangan sebuah perang dingin

Oleh Musthafa Luthfi *

Tradisi menyambut bulan puasa khususnya di dunia Arab telah berubah 
terutama sejak maraknya stasion-stasion TV satelit dalam rentang 
waktu dua dekade belakangan ini yang lebih menonjolkan hiburan-
hiburan di layar kaca untuk menunggu waktu sahur.

Tradisi lainnya yang hampir menyeluruh di seluruh dunia Islam adalah 
meningkatnya kebiasaan komsumtifisme yang terkesan berlebihan. 
Stasion-stasion TV satelit menjadi sarana iklan besar-besaran bagi 
produk makanan menjelang bulan Ramadhan tiba.

Karena itu, biasanya sebelum sebelum Ramdhan tiba, bau puasa demikian 
terasa di negara-negara Arab dengan maraknya iklan-iklan sinetron 
terbaru menarik yang siap ditayangkan terutama di malam Ramadhan 
hingga menjelang sahur agar mata siap melek sepanjang malam.

Demikianlah, tradisi yang makin sulit untuk dihilangkan bahkan 
cenderung makin "meriah" yang menyebabkan tujuan puasa La'allakum 
Tattaquun (menjadi hamba-hamba yang bertakwa) makin sulit tercapai. 
Puasa akhirnya tak lebih sebatas menahan lapar dan dahaga.

Menjelang puasa kali ini, ada kejadian penting yang patut dicermati 
kaum Muslimin terlepas dari mazhab dan aliran yang dianutnya. Sekitar 
dua pekan menjelang bulan suci tiba, Iran telah menyebarkan dua pesan 
ganda, pertama ditujukan kepada dunia Barat dan kedua sebagai risalah 
(pesan) buat kaum Muslimin terutama kalangan pakar dan cendekiawan.

Sekitar pertengahan bulan Sya`ban yang lalu bertepatan dengan bulan 
Agustus , Iran berhasil menguasai teknologi luar angkasa dengan 
meluncurkan satelit buatan sendiri. Teknologi ini tidak kalah 
pentingnya dengan penguasaan teknologi nuklir untuk tujuan damai yang 
telah dicapai sebelumnya.

Secara kebetulan peluncuran satelit pertama negeri Mullah itu 
bertepatan dengan hari Minggu, 17 Agustus 2008 yang bertepatan dengan 
peringatan 63 tahun kemerdekaan RI yang hampir setiap tahun 
dimeriahkan dengan berbagai acara yang terkesan "hura-hura" yang 
sudah banyak ditinggalkan negara lain seperti negeri jiran kita, 
Malaysia.

Pada saat bangsa Indonesia sedang asyik dengan aneka hiburan pesta 
rakyat seperti upaya pemecahan rekor panjat pinang, lari karung 
dan "dangdutan", Iran secara mengejutkan mengumumkan peluncuran 
satelit pertama sehingga memasukkannya dalam daftar 10 negara 
produsen satelit di dunia disamping AS, Rusia, sejumlah negara Eropa, 
China, Jepang dan India .

Meskipun teknologi luar angkasa negeri Persia itu masih tahap pemula 
dibandingkan negara-negara maju lainnya, namun yang perlu dicatat 
adalah, keberhasilan tersebut berlangsung pada saat Iran diembargo 
secara ketat oleh Barat sejak sekitar 30 tahun yang lalu.

Iran saat ini mampu menempatkan satelit di orbit seputar bumi dengan 
ketinggian sekitar 600 km. Teknologi balastik yang digunakan untuk 
membawa satelit ke angkasa juga bisa digunakan untuk meluncurkan 
senjata, namun Teheran menyatakan tidak berencana melakukan hal 
tersebut.

Meskipun demikian, Iran tidak akan ragu-ragu menggunakan kemampuan 
balastiknya guna mempertahankan diri atau untuk membalas serangan 
luar baik dari Israel maupun AS. Komandan Garda Revolusi Iran , 
Jenderal Ali Ja`fari Rabu (27/8) menegaskan tentang hal tersebut.

"Evaluasi strategi yang kita lakukan mengisyaratkan kemungkinan 
pemerintah Zionis (Israel ) melakukan serangan sendiri atau dengan 
bantuan AS. Bila terjadi maka seluruh kawasan terancam sebab Israel 
tidak memiliki kedalam startegis karena berada dalam jangkauan rudal-
rudal Iran ," paparnya.

Pesan kepada Barat

Pesan pertama kepada Barat bahwa Iran secara jelas telah berhasil 
melepaskan diri dari berbagai upaya dan belenggu Barat untuk tetap 
menjadikan negeri Mullah itu sebagai salah satu negara terbelakang di 
dunia ketiga.

Embargo teknologi secara ketat yang dilakukan Barat akhirnya terbukti 
tidak mampu menghentikan usaha keras negeri kaya minyak Teluk itu 
untuk menguasai teknologi super canggih seperti teknologi luar 
angkasa yang selama ini hanya monopoli negara-negara besar.

Masih teringat pada tahun 80-an dan 90-an abad 20 lalu, ketika 
Indonesia akhirnya urung menjual sejumlah helikopter produk IPTN saat 
itu ke Iran atas desakan AS karena dikhawatirkan dimanfaatkan untuk 
tujuan militer. Negara-negara di dunia yang berada dibawah ketiak 
Washington pun melakukan embargo serupa.

Segala kesulitan yang dihadapi oleh negeri itu tidak membuatnya putus 
asa bahkan saat ini berhasil memproduksi pesawat-pesawat tempur 
dengan jarak jelajah 3 ribu kilo meter non stop tanpa memerlukan 
pengisian bahan bakar di udara.

Ketika TV Iran menayangkan peluncur roket mutakhir yang dapat membawa 
satelit ke orbit, nampak para pemimpin Barat dalam keadaan penuh 
kekhawatiran dan sikap kecewa yang berlebihan. Tidak ada yang tersisa 
dari Barat untuk mencoba kembali menggoyang negeri Persia itu kecuali 
dengan memutar kembali kampanye sebelumnya tentang keanggotaan Iran 
sebagai poros jahat yang mendukung terorisme.

Di lain pihak sebagian kekuatan Eropa terutama Rusia ditambah Cina, 
Jepang dan India mulai bersikap menerima anggota baru dalam klub 
nuklir dan teknologi angkasa luar. Karena dengan kemampuan Iran 
``berswasembada` ` teknologi mutakhir, sudah tidak ada lagi manfaatnya 
untuk mengganjal negeri itu menguasai teknologi nuklir dan luar 
angkasa.

Sedangkan pesan kedua adalah ditujukan kepada negara-negara terkemuka 
di dunia Islam seperti Indonesia , Turki, Mesir , Pakistan dan Saudi 
Arabia . Pesan ini juga ditujukan kepada dunia ketiga di negara-
negara Amerika Latin, Afrika dan Asia .

Negara-negara tersebut sebenarnya dapat bangkit dengan kemampuan 
kolektif yang mereka miliki selama memiliki political will (kehendak 
politik) untuk menentukan nasib sendiri. Dunia Islam harus segera 
melepaskan kendala pisikis dan semangat juang yang lembek selama ini 
akibat belenggu Barat.

Dunia Islam terutama negara-negara Arab sebenarnya memilki sumber 
daya manusia (SDM) yang handal di bidang penguasaan teknologi 
mutakhir. Namun karena situasi politik dalam negeri masing-masing 
yang tidak kondusif, menyebabkan mereka lebih memilih dunia Barat 
sebagai tempat mengamalkan kemampuannya sehingga hanya dimanfaatkan 
untuk kepentingan Barat.

Sudah menjadi rahasia umum sejak lama bahwa lebih dari separo pakar-
pakar terkemuka di berbagai bidang sains di dunia Barat berasal dari 
keturunan negara-negara dunia ketiga. Dalam konteks ini Iran sering 
menegaskan tekadnya untuk menjadikan kemampuan teknologi yang 
dimilikinya untuk kepentingan dunia ketiga terutama negara-negara 
Islam.

Persekutuan baru

Prestasi Iran tersebut yang dibarengi dengan perkembangan penting di 
kawasan Laut Hitam terutama "unjuk otot" Rusia di Georgia menghadapi 
AS dan Barat memunculkan wacana persekutuan baru. Bahkan sebagian 
analis menyebutnya sebagai kembalinya perang dingin dalam bentuk lain.

Seperti dimaklumi rezim Georgia pimpinan Presiden Mikhail Saakashvili 
adalah antek AS yang berusaha untuk menggabungkan negaranya dengan 
Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa (EU). 
Dengan demikian konflik di Georgia soal Ossetia Selatan seperti 
perang antara Rusia dan AS.

Selama dekade terakhir ini pandangan dunia hampir sama bahwa Rusia 
dibawah Mikhail Gorbachev dan Borris Yeltsin telah berubah menjadi 
sebuah negara dibawah pengaruh Barat terutama ditinjau secara 
ekonomis. Namun Presiden Vladimir Putin dan dengan dukungan kuat 
militer mengembalikan wibawa Rusia sebagai salah satu negara besar 
yang disegani.

Putin mulai mengembalikan wibawa Rusia dan menjadi salah satu unsur 
penentu dalam percaturan dunia menghadapi hegemoni AS. Perang Georgia 
terakhir dan pengakuan Moskow atas kemerdekaan Ossetia Selatan dan 
Abkhazia makin menunjukkan bahwa Rusia merupakan kekuatan yang dapat 
mengembalikan wibawa bekas Uni Soviet pada masa perang dingin dulu.

Perkembangan diatas menunjukkan fase baru sebuah perang dingin antara 
dua kekuatan. Tidak sulit untuk memprediksikan bahwa perang dingin 
tersebut akan meluas sehingga meliputi kawasan Timur Tengah yang 
membersitkan isyarat akan kesediaan Moskow untuk membangun 
persekutuan strategis termasuk dengan bergabungnya Iran dan sebagian 
negara Arab menghadapi dua sekawan AS-Israel.

Yang masih menjadi pertanyaan apakah ada negara Arab yang menyusul 
Suriah yang berani mengatakan ``tidak`` kepada Washington dalam 
kondisi negeri adidaya itu yang sedang lemah. Dan bagi negara Islam 
lainnya seperti Indonesia apakah harus menunggu dimusuhi AS ``lahir-
batin`` (sebab secara batin AS memusuhi dunia Islam) baru bangkit 
melepaskan diri dari pengaruh AS seperti Iran ??? 
[www.hidayatullah. com]

Penulis lepas, mantan wartawan ANTARA. Kini sedang bermukim di Yaman

Last Updated ( Friday, 29 August 2008 10:40 ) 


 














      

Kirim email ke