CARA JITU MENUMBUHKAN PERCAYA DIRI ANAK!!!

Orang tua mana yang tidak ingin anaknya, seperti bocah ajaib pengukir
sejarah dunia Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Marie Curie dan
lain-lain. Atau seperti Taufik Hidayat (pemain bulu tangkis) dan
pintarnya kayak BJ Habibie. Paling-tidak, anak punya semangat dan
keberanian untuk mencontoh perilaku tokoh tersebut meraih prestasi
dengan mengaktualisasikan segenap kemampuan anak.
Persoalannya, bagaimana mewujudkan harapan tersebut menjadi kenyataan?
Jika kita perhatikan anak bermasalah dengan percaya dirinya. Anak
selalu mengeluh dan mudah menyerah. Jika diminta untuk melakukan
sesuatu, anak takut secara berlebihan dan merasa tak yakin dapat
melakukannya. Apalagi, anak tak punya keberanian berkomunikasi dengan
orang lain. Tidak itu saja, kita pun sering direpotkan banyak hal,
karena anak tidak punya keberanian untuk melakukan (memenuhi) sendiri
setiap keinginan maupun kebutuhannya.
Tentunya tidak dapat dipungkiri anak yang tidak memiliki percaya diri,
maka akan menghambat perkembangan prestasi intelektual, ketrampilan
maupun kemandirian anak. Anak jadi tidak cakap dalam segala hal. Anak
tidak punya keberanian untuk mengaktualisasikan segenap kemampuan yang
dimilikinya. Kita tentu tidak menginginkan, jika anak menjadi serba
tergantung pada orang lain, terutama dari orang tuanya. Kalau anak
serba tergantung, bagaimana nantinya setelah dewasa?
Perlu kita pahami PeDe ini tak lain, bagian karakteristik kepribadian
seseorang. Sedang proses pembentukannya atau peningkatan PeDe ini
sangat dipengaruhi oleh faktor psikis maupun keterampilan teknis yang
dimiliki seseorang.
KONSEP DIRI.
Faktor psikis pembentuk PeDe sebagai karakteristik kepribadian sangat
terkait erat dengan konsep diri seseorang. Konsep diri ini merupakan
bagian inti atau penting perkembangan kepribadian seseorang karena
sebagai penentu bagaimana seseorang bersikap, berpikir, bertindak dan
bertingkah laku. Melalui konsep diri inilah bagaimana seseorang
bercermin untuk melakukan penilaian kekuatan, kesanggupan, keberanian,
keberartian segenap apa yang dimilikinya. Dengan demikian, pembentukan
PeDe ini sangat tergantung dan dipengaruhi oleh konsep diri yang
dimiliki seseorang. Dengan kata lain, semakin mantap konsep diri, maka
pembentukan rasa PeDepun semakin positif.
Unsur membentuk konsep diri ini meliputi perpaduan lima unsur, antara
lain:
1. Self control. Self control ini mengatur power atau kekuatan
dorongan dan keinginan dalam diri yang menentukan kesanggupan,
keyakinan, keberanian, perasaan dan emosi dalam diri. Self control
memberi pengaruh gambaran konsep diri positif atau negatif. Jika kita
ingin self control anak mantap maka kita harus mampu menanamkan
pentingnya cara berpikir aktif, berpikir positif, memberi aspirasi
maupun ambisi yang terarah pada anak.
2. Suasana hati yang sedang dihayati. Seperti senang, bahagia, cemas,
atau sedih. Gambaran keadaan suasana hati atau perasaan sangat
mempengaruhi pembentukan power seseorang. Efek senang dan gembira
merupakan sumber energi yang meningkatkan power atau self kontrol,
sehingga pematangan konsep diri pun semakin mantap, rasa PeDepun
positif. Sebaliknya, perasaan terpuruk, sedih, pesimis, cemas, marah
dan kesal malah membebani hati, mempengaruhi dan menurunkan power
(self control), sehingga konsep diripun jadi negatif dan membuat orang
tidak PeDe. Oleh karena itu, perlu kita hembuskan perasaan riang,
gembira dan senang anak dalam menghadapi berbagai kegiatan (masalah).
Kita ajarkan keterampilan mengatasi masalah pada anak, agar dirinya
tidak terpuruk ke dalam kesedihan hati, juga tidak jadi pemurung dan
pesimistis.
3. Citra fisik. Kondisi fisik sangat mempengaruhi suasana hati maupun
self control. Jika penerimaan terhadap kondisi fisik cukup memuaskan,
maka suasana hati maupun self controlnya meningkat, sehingga konsep
diri yang terbentukpun positif. Misalnya, anak menyadari bentuk
tubuhnya ideal, maka citra fisiknya jadi positif. Berbeda jika
sebaliknya, kalau anak melihat bentuk tubuhnya tidak ideal, maka anak
jadi resah dan sibuk memikirkan, menyesali kondisi fisiknya tersebut.
Alhasil, anak jadi merasa rendah diri, cemas dan sebagainya. Di
sinilah tugas kita untuk membimbing anak agar mau menerima realita
kondisi fisiknya. Kalau kondisi fisiknya tidak bisa diperbaiki, maka
anak perlu disadarkan dan dialihkan untuk memikirkan potensi
(kelebihan) lain dari dirinya. Kekurangan di satu sisi, bukan berarti
menutup kemungkinan kelebihan yang dimiliki anak. Jika potensi lain
anak dapat dimunculkan, maka citra dirinya pun meningkat. Berilah
contoh-contoh riil pada anak, seperti para tokoh dunia, artis,
presenter yang begitu PD padahal kondisi fisiknya tidak ideal.
4. Citra sosial. Salah satu unsur yang mempengaruhi pematangan konsep
diri adalah bagaimana penilaian dan penerimaan lingkungan sosial
terhadap diri anak. Penerimaan dan penilaian anak yang supel, cerdas
dan hebat dapat meningkatkan konsep diri anak secara positif.
Sebaliknya, penerimaan lingkungan yang buruk terhadap anak, seperti
anak dianggap nakal, bodoh, jelek dan sebagainya dapat melukai hati
anak dan diartikan sangat dalam membekas di hati anak. Anak pun jadi
menilai negatif dirinya, merasa tak berharga atau tak pantas dan
rendah diri. Anak jadi memiliki konsep diri negatif dan rasa percaya
dirinya sangat lemah. Oleh karena itu, sikap melecehkan dan memojokkan
anak patut kita hindari sejak dini.
5. Citra diri (self image). Citra diri ini merupakan gambaran yang
meliputi:
b. nilai profil diri, seperti tingkat kecerdasan, status sosial,
ekonomi dan peranan dalam lingkungan sosial,
c. cita-cita ideal anak yang ingin dicapai dan seberapa besar pengaruh
tokoh-tokoh ideal yang diidolakan, baik yang ada di lingkungan atau
idola fantasi,
d. keberartian diri (kebanggaan diri) terhadap nilai peran diri di
lingkungan.
Untuk meningkatkan citra diri anak, maka anak perlu kita hargai, kita
tingkatkan nilai perannya dalam lingkungan keluarga maupun
pergaulannya. Jika nilai peran anak cukup berarti, maka konsep dirinya
pun semakin mantap dan rasa percaya dirinya tinggi.
Perpaduan kelima unsur di atas inilah yang memberi gambaran bagaimana
konsep diri terbentuk. Dengan memperhatikan kelima unsur yang
membentuk konsep diri ini, maka kita dapat memperhitungkan
langkah-langkah yang tepat mengarahkan pembentukan konsep diri positif
pada anak agar tumbuh percaya diri anak. Sebaiknya, pembentukan
karakter kelima unsur di atas dilakukan sejak dini, agar muncul
persistensi (menetap) dari karakter dan sifat-sifat dasar anak. Sebab,
karakter dan sifat-sifat dasar anak akan menetap pada usia remaja.
Langkah-langkah penting yang harus diperhatikan untuk mengatasi,
merubah dan meningkatkan konsep diri positif anak:
o Jangan bertindak kasar atau memaksakan pemikiran atau kehendak.
o Lakukan pendekatan kasih sayang pada anak.
o Utamakan kesabaran dan kemauan membangun komunikasi dengan anak
secara dua arah.
o Sentuhlah titik peka anak dengan kata-kata sanjungan yang
membesarkan hati anak, agar dirinya mau terbuka dan mau menerima buah
pikiran kita. Ingat, anak akan lebih terbuka jika diperhatikan,
dipahami dan dimengerti.
o berilah dukungan emosional pada anak, seperti memeluk, mengelus
rambutnya dan sebagainya.
o Untuk mendapatkan tempat dan agar ucapan kita diperhatikan anak,
maka kita terlebih harus mampu memberi efek senang "ego" anak karena
diperhatikan, dianggap penting, dihargai dan ditonjolkan nilai
perannya, sehingga harga dirinya meningkat.
o Gali letak kelemahan anak, upayakan sikap optimis anak agar dirinya
mau menghargai dirinya sendiri.
Aspek keterampilan teknis.
Suatu hal yang kadang tidak terpikirkan oleh kita dan menjadi inti
masalah bagi sebahagian orang. Orang mengalami kebingungan ketika
hendak melakukan sesuatu. Kebingungan bukan soal keberanian untuk
berbuat atau mencoba, tetapi lebih terletak pada bagaimana proses
untuk memulai sesuatu itu yang berat.
Bagi anak yang mengalami kesulitan untuk memulai berbuat sesuatu lebih
disebabkan anak tidak tahu menyusun jalan pikirannya untuk melakukan
proses kegiatan yang hendak dilakukan tersebut. Anak belum mampu
menyusun tahapan-tahapan untuk melakukan suatu kegiatan hingga
kegiatan dapat diwujudkan dan diselesaikan. Di sinilah pentingnya
aspek keterampilan teknis, yaitu kemampuan menyusun kerangka berpikir
dan berbuat secara terfokus, terarah dan terukur step by step untuk
melakukan proses kegiatan.
Aspek keterampilan teknis tersebut meliputi pengetahuan taktis,
metodis dan imajinatif.
1. Taktis. Taktis mengandung arti upaya mengarahkan proses berpikir,
bertindak cepat dan efektif secara terukur dan terarah langsung menuju
objek sasaran usaha. Taktis ini menunjukkan kecekatan dan keterampilan
mengelola pemikiran untuk bertindak cepat dan tepat dalam memproses
suatu rangsangan yang dihadapi.
Untuk melatih pengetahuan taktis ini dengan membiasakan anak mengamati
atau melakukan observasi segala sesuatu secara detail.
2. Metodis, Metodis mengandung arti prosedur bagaimana tahapan proses
penalaran dan tindakan efektif dalam memproses pokok masalah, sehingga
dapat mengurai, menyusun, menimbang dan memecahkan pokok masalah dalam
bentuk pola tindakan atau prakarsa.
Untuk melatih pengetahuan metodis, membiasakan dengan cara analisis
(mengurai unsur), sintesis (menyusun) dan evaluasis (menilai). Cara
efektif untuk melatih pengetahuan metodis anak dapat dilakukan dengan
membiasakan memberi contoh langsung dalam penyelesaian suatu soal
(masalah) atau pekerjaan atau melibatkan anak langsung dalam pemecahan
masalah.
3. Imajinatif, Imajinatif mengandung arti cara berpikir kreatif dalam
menelaah dan memecahkan pokok masalah dengan memperhitungkan
kemungkinan yang mungkin dapat dimunculkan mengatasi pokok masalah.
Untuk memudahkan anak berpikir kreatif dalam mengobservasi adalah
dengan cara membayangkan gambaran bentuk objek masalah dan pikirkan
unsur-unsur penting yang membentuk gambaran atau sesuatu yang dapat
mempengaruhi gambaran tersebut melalui proses analisis, sintetis dan
evaluasis.
Anak tak boleh ragu mengembangkan pikiran kreatifnya untuk mengkaji
berbagai kemungkinan dari banyak sisi dalam mencari kunci jawaban
masalah yang dihadapinya (Kalau begini bagaimana ya? Atau kalau begitu
bagaimana ya jadinya? Kalau dibuat seperti ini, bagaimana jadinya dan
bagaimana mengantisipasi kemungkinan lain yang terjadi ya? Kalau
mereka tidak setuju dengan usul saya ini, alternatif lain bagaimana
yang bagus saya kemukakan pada mereka ya? Dari banyak alternatif ini,
mana yang terbaik dan pantas dikemukakan? ).
Kini sudah saatnya, kita memikirkan dan meningkatkan kualitas
interaksi dengan anak dan kualitas interaksi yang sengaja dimunculkan
secara terencana dan sistematis untuk membentuk persistensi karakter
dan sifat dasar anak sejak dini. Karena menurut para ahli psikologi
perkembangan persistensi karakter dan sifat dasar anak mulai menetap
ketika anak memasuki usia remaja. Begitu juga, jika kita menghendaki
anak memiliki sifat-sifat dasar yang menunjang kemampuan percaya
dirinya, maka rencanakanlah pola interaksi yang konstruktif dengan
anak sejak dini.

Sumber Literatur:
Percaya Diri Itu Penting, karangan Drs. Hendra Surya, terbitan Elex
Media Komputindo, 2007.
Kiat Mengajak Anak Senang Berkawan, karangan Drs. Hendra Surya,
terbitan Elex Media Komputindo, 2006.

Semoga bermanfaat dari:

Drs. Hendra Surya
085281085906


Kirim email ke