PR besar utk para pemerhati seni dan budaya serta pendidik/pengajar, dan pihak 
lain yg punya hub dgn area tsb.

Wassalam,




Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

http://hidayatullah.com/berita/lokal/10485-2010-01-24-02-39-38.html

Penulis Prancis Kritik Sudut Pandang Seniman Indonesia 

Saturday, 23 January 2010 21:57 Nasional 

Di Eropa, seni komtemporer menghadirkan seni rupa lokal dalam konteks 
kekinian.Tapi, yang terjadi di Indonesia justru mengkonstruksi diri dengan ikon 
kapitalis, ujar seniman Prancis.

Hidayatullah.com--Penulis asal Prancis, Jean Couteau mengkritik 
sudut pandang seniman Indonesia yang melihat dunia dari Kacamata Barat. "Seni 
rupa kontemporer khas China dan India begitu diapresiasi. Identitas lokal 
tumbuh 
di lahan global, namun apa yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya," 
katanya 
di Surabaya, Sabtu.

Ia mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam 
simposium internasional tentang budaya urban bertajuk "The 2nd International 
Symposium, Urban Studies: Arts, Culture, and History" yang digelar Fakultas 
Ilmu 
Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Dalam simposium yang 
juga menampilkan peneliti Jawa, Romo Koentoro Wirjomartono, dan periset pustaka 
dari Belanda, Freek Colombijn (Vrije University), ia mengatakan prediksi 
McLuhan 
tentang "Global Village" atau "World City" tidak berlaku untuk 
budaya.

"Budaya itu tidak mudah menjadi global. Faktanya, apa yang 
terjadi di Eropa dan di Indonesia justru terbalik," ucapnya 
menegaskan.

Di Eropa, seni komtemporer menghadirkan seni rupa lokal dalam 
konteks kekinian, seperti seni rupa kontemporer khas China dan 
India.

"Tapi, apa yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, karena 
80-90 persen seni rupa di Indonesia mengkonstruksi diri dengan ikon-ikon dunia 
modern kapitalis," paparnya.

Penulis Prancis yang lebih fasih berbahasa 
Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Inggris itu menilai, seniman seni rupa di 
Indonesia hanya bisa melihat dunia dari kacamata barat.

"Kalau pun ada 
ikon lokal yang digunakan hanyalah sebagai pelengkap, sampingan dari objek 
global yang diutamakan. Anda, sebagai bangsa Indonesia, akan kehilangan 
ikon-ikon lokal, karena dilahap kapitalisme jika tak mau mengganti kacamata 
itu," tuturnya.

Senada dengan itu, periset pustaka dari Belanda, Freek 
Colombijn, mengaku prihatin dengan ruang atau tempat publik dan ikon-ikon 
publik 
setempat di Indonesia yang tak mengindahkan simbol-simbol.

"Di Indonesia, 
bendera yang dibawa pejuang juga dibuat dari beton. Di AS, Singapura, bendera 
itu bendera biasa yang diganti jika kusam. Ia akan selalu hidup, karena ada 
sesuatu yang hidup dan berganti, sehingga simbol lokal itu tidak kaku, namun 
berfungsi sebagai pengingat sejarah," katanya.

Pandangan pakar dari 
Prancis dan Belanda itu dibenarkan Koentoro Wirjomartono yang tampil dengan 
mengajak para pakar sajen dan karawitan FIB Unair untuk mengiringi dirinya saat 
memberikan materi.

"Lupa itu sumbernya. Kita sering amnesia bahwa 
kearifan lokal atau jati diri ini yang harus dijaga. Bukan pasar yang harus 
dijaga untuk menyokong seni, budaya dan sejarah," ujarnya menjelaskan. 
[ant/http://www.hidayatullah.com/]




      

Kirim email ke