Kata teman saya, kebaikan itu akan berbuah kebaikan. Selama yang dilakukan seorang trainer itu adalah sebuah kebaikan, yaitu menshare ilmu yang dia miliki, maka tidak perlu dipermasalahkan. Satu lagi, sebenarnya kekuatan seorang trainer bukan hanya sekedar ilmu atau teori-teori tentang menggali potensi diri, tetapi cara "mengkomunikasikan" sebuah ilmu yang belum tentu semua orang dengan pemahaman teori yang sama bisa seefektif seorang trainer dalam mengkomunikasikannya. Taruhlah Golden Ways nya Mario Teguh. sebenarnya apa yang dikatakan Mario Teguh itu banyak bertebaran di buku-buku di Gramedia, tetapi tidak semua orang bisa mengkomunikasikan teori itu seperti apa yang dilakukan oleh mario teguh. Rejeki mah datang belakangan. Kalau orang mau bayar mahal buat sebuah ceramah yang meggugah, kenapa enggak si motivator memasang harga mahal? karena toh secara hukum pasar, sesuatu yang diraih dengan harga mahal akan lebih dihargai dibanding yang didapat dengan cara gratis. Bandingkan ceramah jumat dengan seminar Golden ways.
--- On Wed, 1/27/10, Azbardi Iryawan <[email protected]> wrote: From: Azbardi Iryawan <[email protected]> Subject: [rumahilmu] Dilema Pembicara Motivasi dan Trainer To: [email protected], "Rumah Ilmu" <[email protected]> Date: Wednesday, January 27, 2010, 11:49 PM Dilema Pembicara Motivasi dan Trainer Sekarang ini banyak orang paham, mengerti, menguasai, suka dan pandai berbicara teori teori menggali potensi diri untuk mencapai kesuksesan dan bahkan menjualnya dalam bentuk training dan seminar, sementara mereka sendiri sebagai pembicara belum bisa membuktikan bahwa dia sudah sukses dengan teori teori yang disampaikannya itu, bahkan untuk biaya hidupnya sendiripun masih bersandar dengan hasil menjual teori teori yang dipahami dan dikuasainya tersebut. Seperti misalnya menjual seminar tentang konsep Cash Flow Quadrant - Robert T Kiyosaki, berbicara bisnis dikuadran kanan sementara dia sendiri melakukan quadran kiri. Dll. Ada yang mengatakan bahwa : => Kekuatan seorang motivator bagi pendengarnya adalah bukti keberhasilan dirinya dari apa yang dikatakannya. => Kekuatan seorang trainer bagi pesertanya adalah bukti keberhasilan dirinya dari apa yang dikatakannya. Mana yang lebih baik membuktikan keberhasilan dahulu baru menjadi seorang pembicara dan trainer ? Atau hanya menjual kebenaran teori yang SUDAH dibuktikan orang lain ? Atau hanya menjual kebenaran teori UNTUK dibuktikan orang lain ? Atau hanya menjual hasil pemikiran orang UNTUK dibuktikan orang lain ? Atau sambil menyelam minum air ........... ? Apakah belajar untuk bisa mengatakan dan menjadi pekerjaan ? Atau belajar untuk bisa melakukan dan membuktikan ? Bagus yang ini ? : Belajar => Lakukan => Berbagi/share (gratis, non profit) => Membuktikan bersama sama apa yang sudah dipelajari dan diketahui. Atau lebih bagus yang ini ? : Belajar => Lakukan => Terbukti dan Berhasil => Jadi pembicara / trainer => Mengatakan apa yang sudah dibuktikan. Apa yang harus berbagi ? Siapa yang harus berbagi ? Kepada siapa harus berbagi ? Apa yang harus dijual ? Siapa yang harus menjual ? Kepada siapa harus menjual ? Kebenaran teori itu benar, siapa yang menyampaikan adalah kekuatan. Benar atau salah, semuanya benar karena dipandang dari sudut pandang dan keyakinan yang berbeda. Sekarang tinggal bagaimana kita memandang dan meyakininya. ~~~~~~~~
