http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/13/03152754/juraganisme.ancaman.terbesar.jurnalisme



"Juraganisme" Ancaman Terbesar Jurnalisme


Sabtu, 13 Februari 2010 | 03:15 WIB

Jakarta, Kompas - Ancaman terhadap kebebasan pers dan juga para 
insan pers banyak mengalami pergeseran. Jika sebelumnya potensi ancaman banyak 
berasal dari luar kalangan pers seperti sistem, negara, dan kelompok 
masyarakat, 
saat ini ancaman bersumber dari dalam sendiri, terutama pemilik modal atau 
pengusaha media massa.
Penilaian itu terlontar dalam diskusi Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) 
bertema ”Kebebasan Pers Terancam”, Kamis (11/12). Hadir sebagai pembicara Wakil 
Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, anggota 
Komisi I DPR Effendy Choirie, dan anggota Dewan Pers Wikrama I Abidin.

”Sekarang ancaman utama terhadap wartawan dan kebebasan pers bukan lagi 
berasal dari pemerintah, TNI, polisi, politisi, melainkan sudah bergeser ke 
pihak pengusaha media dan pemodalnya. Mereka menjadi ancaman bagi wartawan dan 
pers dalam menjalankan peran mereka secara benar dan berimbang,” ujar 
Choirie.

Choirie mengkritik campur tangan para pemodal dan pengusaha media selama ini, 
terutama terhadap pemberitaan di media yang mereka miliki. Intervensi mereka, 
tambahnya, akan sangat sulit ditolak, baik oleh para wartawan dan pekerja media 
massa yang bersangkutan maupun oleh masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, Choirie menyarankan perlunya dialog intensif 
antara pihak pemodal dan kalangan pers. Seorang pemilik modal harus paham media 
massa yang punya hukum dan nilai sendiri. Selain itu, juga perlu adanya tekanan 
dari kalangan organisasi profesi kewartawanan yang ada.

Pendapat senada juga disampaikan Priyo. Menurut dia, ancaman dari para 
penyelenggara negara tidak lagi perlu terlalu dikhawatirkan. Dia justru 
mengingatkan agar kalangan pers justru jauh lebih mengkhawatirkan intervensi 
dan 
campur tangan dari kalangan dalam, para pemilik modal sendiri.

”Pers, karena saling terkait, tidak mungkin mereka hanya mendasarkan pada 
idealisme, tapi juga harus mempertimbangkan soal marketing dan industrialisasi. 
Lantas apakah dan siapa mengancam kebebasan pers?” tambah Priyo.

Wikrama juga mengkritik keterlibatan pemilik modal perusahaan media massa 
saat ini. Kondisi itu mengubah apa yang sebelumnya disebut sebagai jurnalisme 
menjadi ”juraganisme”. Dia juga mengingatkan tidak sedikit pengusaha dan 
pemilik 
modal media massa tidak berasal dari kalangan pers.

”Mereka hanya menilai semua hal dari keuntungan dan melihat wartawan menjadi 
sekadar angka. Tidak ada lagi human touch. Fakta dikemas jadi versi pemilik 
modal yang tentunya profit oriented. Sekarang yang ada bukan jurnalisme dengan 
idealisme, tapi sudah sekadar ’juraganisme’ pemilik modal,” tambahnya. 
(DWA)




      

Kirim email ke