Assallam mualaikum wrwb , Kepada pimpinan yang berwenang untuk mohon bantuan kepada keluarga M Lutfi 081314150813 yang sedang membutuhkan pertolongan segera. Berikut ini adalah berita terkait yang telah di muat di media koran Jurnal Bogor , insyaallah dapat membantu dan mendapatkan RIDHO ALLAH SWT atas semua bantuannya . Wabilahitaufik wasallammualaikum wrwb. F.X.M. Ferry Wong www.ferrywong.com 02192690901
http://www.jurnalbogor.com/?s=m+lutfi http://www.jurnalbogor.com/?p=79310 http://www.jurnalbogor.com/?p=79067 http://www.jurnalbogor.com/?p=77594 Perjuangan Bocah Duafa Lutfi Melawan Kista, Antara Hidup dan Mati (1) Jurnal Bogor, 23 January 2010 Rubrik: Halaman Depan Hanya Sampai Umur 15 Tahun Muhammad Lutfi Aldinar, mau tidak mau, harus menelan pil pahit sebagai pengidap kista. Tak tanggung-tanggung, akibat penyakitnya parahnya itu, dokter memperkirakan umur bocah 7 tahun ini hanya sampai 15 tahun. Malang nian nasib Lutfi. Ia mengidap kista sejak umur lima tahun. Penyakit mematikan tersebut masih mengancam nyawanya hingga kini, sebab orangtua siswa kelas 1 SD Negeri Panaragan I ini dililit kemiskinan. Operasi pengangkatan pun belum bisa dilakukan, sehingga kondisi kesehatannya terus menurun. “Waktu masih TK, Lutfi sempat jatuh. Ia kemudian panas tinggi selama seminggu, suhu tubuhnya mencapai 40 derajat celcius. Awalnya tak membawa ke dokter, sebab tak punya uang,’’ kata Minar Suminar (28), ibu Lutfi sata ditemui Jurnal Bogor di sela-sela aktivitasnya sebagai buruh pabrik Garment, kemarin. Setelah semakin parah, akhirnya Minar memberanikan diri untuk memeriksakan Lutfi ke Rumah Sakit Marzuki Mahdi. ‘’Dari tes urine dan USG, dokter menemukan kista di ginjal kanan dan kiri anak saya. Saat itu, butirannya masih kecil-kecil, tapi banyak,” terangnya. Sekedar informasi, kista memerupakan tumor jinak pada organ tubuh. Bentuknya seperti anggur berisi udara, cairan, nanah, atau bahan-bahan lainnya. Kumpulan sel-sel tumor itu terbungkus selaput. Itu dapat diangkat dengan jalan pembedahan atau operasi. Hati Minar hancur berkeping-keping, saat menerima kabar buruk tersebut. Ia bersama suaminya Ramdoni (32) benar-benar terpukul, sebab dihadapkan dengan rangkaian pemeriksaan dan operasi super mahal. Sedangkan penghasilan mereka tiap bulan sebagai buruh pabrik dan penjual bunga keliling tak menentu. Itu pun hanya cukup untuk makan dan membayar hutang. “Dokter mengharuskan Lutfi untuk dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) agar dapat segera dioperasi. Kalau tak dioperasi, umur Lutfi hanya sampai 15 tahun,” ujar Minar, dengan suara pilu. Minar sering kali menunduk saat mengisahkan derita sang anak. Ibu dua anak ini sesekali pecah konsentrasi saat dicecar pertanyaan seputar kondisi terakhir Lutfi. Matanya menerawang jauh ke angkasa, dengan tatapan kosong. Apa yang Anda pikirkan? “Saya sampai sekarang masih memikirkan biaya untuk operasi. Belum dilakukan, padahal sudah diharuskan sejak dua tahun lalu. Saya sempat ke Rumah Sakit PMI Bogor, lalu ke RSCM. Hasilnya masih sama, malah makin parah,” jawab Minar, lalu menghelakan nafas panjang. Minar mengatakan, setelah dua tahun diobati seadanya dengan obat kampung dan minyak-minyakan, kista pada ginjal Lutfi membesar. Sekarang kumpulan sel-sel tumor itu sudah menjalar ke kantung kemih. “Ukurannya sekarang sebesar telor bebek, ada pula ukuran lebih kecil dengan diameter 2 sampai 5 sentimeter. Karena sekarang ada di kantung kemih, sekarang saluran urinenya tak melalui kantung kemih. Tapi, lewat ginjal kanan,” terang Minar. Saat ditanya kondisi fisik Lutfi, Minar mengatakan, dari luar memang tak terlihat sakit, padahal organ dalam tubuhnya digerogoti kista. “Tiap usia makan, anak saya merasakan sakit bukan main, sampai mengeluarkan keringat dingin. Ia merasakan sakit paling sedikit dua kali sehari. Walau begitu, Ilham masih berjuang untuk bertahan, sekaligus melawan penyakit itu melalui doa-doanya setelah sholat dan sebelum tidur,” tandasnya, sambil mengelus dada. Ramdoni (32), ayah Lutfi mengatakan, biaya operasi diperkirakan minimal Rp 25 juta. Itu terbilang sangat besar, bila melihat kondisi ekonominya yang masih morat-marit. “Bila penyakit ini dibiarkan saja, umur anak saya tak bisa bertahan lama,” pungkasnya. - julvahmi
