http://groups.yahoo.com/group/mualafindonesia/message/10286


Hasan Abdurrahim <hasanabdurrahi...@...> 

hasanabdurrahi...@... 


http://www.dakwatuna.com



Kisah Seorang Pemuda Kader Ahli Sihir



Oleh: Mochamad Bugi





dakwatuna.com – Dahulu ada ada seorang Raja mempunyai seorang Ahli

Sihir. Setelah Ahli Sihir itu tua, ia meminta kepada Raja agar

mengirimkan orang pemuda untuk dikader menjadi ahli sihir. Maka

dikirimlah kepadanya seorang pemuda -menurut riwayat Ibnu Ishak di

Sirah Ibnu Hisyam, nama pemuda ini Abdullah bin Tsamir–.



Di tengah perjalanan untuk belajar ilmu sihir, Pemuda itu berjumpa

dengan seorang Rahib. Lalu duduk sejenak dan mendengarkan kata-kata

sang Rahib hingga ia tertarik. Maka sejak itu setiap hari ia akan ke

tempat Ahli Sihir, ia singgah terlebih dahulu ke tempat sang Rahib

untuk mendengarkan ilmu yang diberikannya. Akibatnya, si Pemuda selalu

terlambat tiba di tempat Ahli Sihir. Gurunya, si Ahli Sihir, menghukum

pukul si Pemuda atas keterlambatannya.



Si Pemuda menceritakan kepada sang Rahib bahwa ia selalu dihukum guru

sihirnya karena selalu terlambat. Sang Rahib menyarankan, “Bilang

kepadanya, engkau menyelesaikan pekerjaan rumah dahulu. Kalau kamu

takut dimarahi keluargamu karena pulang terlambat, katakan kepada

mereka ada pekerjaan dari guru sihirmu.”



Suatu ketika dalam perjalanan si Pemuda bertemu dengan binatang yang

sangat besar dan membuat orang-orang takut. Ia berkata pada dirinya

sendiri, “Sekarang saatnya aku mencoba, siapakah yang lebih baik:

Rahib atau Ahli Sihir.” Lalu ia mengambil sebuah batu dan berucap, “Ya

Allah, jika yang benar bagimu adalah Rahib dan bukan Ahli Sihir, maka

bunuhlah binatang itu agar orang-orang tidak terganggu.” Ia lempar

batu itu. Kena. Binatang itu mati.



Segera si Pemuda menemui Rahib. Ia ceritakan semua peristiwa yang baru

terjadi. Sang Rahib berkata, “Anakku, hari ini engkau lebih baik dari

aku. Engkau akan mendapat cobaan. Janganlah engkau beritahu tentang

aku.”



Bersamaan dengan berjalannya waktu, si Pemuda memiliki keistimewaan.

Ia mampu menyembuhkan orang buta, mengobati penyakit kulit, dan

berbagai penyakit lainnya. Keahliannya ini sampai ke telinga seorang

Pengawal Raja yang buta. Pengawal Raja ini datang sambil membawa

banyak hadiah. “Jika engkau mampu menyembuhkanku, engkau mendapat

hadiah yang istimewa,” katanya.



Si Pemuda menjawab, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang

dapat menyembuhkan hanyalah Allah swt. Kalau engkau beriman kepada

Allah, aku akan berdoa agar Allah swt. menyembuhkanmu.”



Si Pengawal pun beriman. Allah swt. menyembuhkan matanya. Pulanglah ia

ke istana dan kembali bertugas mendampingin Raja seperti biasa. Tentu

saja Raja kaget. Pengawalnya sudah tidak buta lagi.



“Siapa yang menyembuhkanmu?” tanya Raja.



“Tuhanku,” jawab si Pengawal.



“Apakah ada Tuhan selain aku?” tanya Raja lagi.



“Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah,” jawab si Pengawal.



Raja marah. Ia memerintahkan pengawal-pengawalnya yang lain untuk

menyiksa si Pengawal beriman itu. Raja ingin tahu siapa orang di balik

perubahan akidah Pengawalnya itu. Maka tersebutlah nama si Pemuda.



Raja luar biasa murka. Si pemuda dipanggil untuk menghadap. Raja

berkata, “Wahai anak muda, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta

dan orang yang terkena penyakit kulit. Engkau juga mampu melakukan

yang tak dapat diperbuat orang lain.”



Si Pemuda berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang dapat

menyembuhkan hanya Allah swt.”



Mendengar jawaban itu Raja murka. Ia menyiksa Pemuda itu. Raja

menyiksanya terus menerus hingga tersebutlah nama sang Rahib sebagai

guru si Pemuda. Raja memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk

menangkap sang Rahib. Setelah sang Rahib berhasil di hadirkan, Raja

berkata, “Keluarlah dari agamamu!” Sang rahib menolak. Ia dihukum

gergaji. Tubuhnya terbelah menjadi dua dari kepala hingga tubuh bagian

bawah.



Raja juga memerintahkan Pengawalnya yang telah beriman untuk keluar

dari keyakinan barunya, “Keluarlah dari agamamu!’ Si Pengawal menolak.

Ia pun dihukum gergaji. Tubuhnya terbelah menjadi dua, dari kepala

hingga ke tubuh bagian bawah.



Lalu Raja memanggil si pemuda. “Keluarlah kamu dari agamamu!” Si

Pemuda menolak. Raja menyuruh beberapa pengawalnya membawa Pemuda itu

ke atas gunung. “Jatuhkan dia dari puncak gunung kalau dia tidak mau

keluar dari keyakinannya.”



Setelah sampai di puncak gunung si Pemuda berdoa, “Ya Allah, tolonglah

aku dari mereka.” Gunung pun bergoyang. Para pengawal yang akan

mengeksekusi si pemuda itu jatuh. Mati.



Si Pemuda yang selamat datang kepada Raja. Raja heran, “Apa yang

mereka perbuat kepadamu?” “Aku telah diselamatkan oleh Allah swt.,”

tegas si Pemuda.



Maka Raja memerintahkan pengawalnya yang lain untuk membawa si Pemuda

ke tengah laut. Lemparkan jika ia tidak keluar dari agamanya, begitu

perintah Raja. Ketika sampai di tengah laut, si Pemuda berdoa, “Ya

Allah, tolonglah aku dari mereka.” Tiba-tiba perahu oleng. Terbalik.

Semua tewas tenggelam, kecuali si Pemuda.



Sekali lagi si Pemuda menghadap Raja. Raja terkejut, “Apa yang

terjadi?” Dengan tegas si Pemuda berkata, “Allah membinasakan mereka

dan menolong aku.” Lalu ia menambahkan, “Engkau tidak akan bisa

membunuhku kecuali engkau mengikuti saranku.”



“Apa itu?” tanya Raja.



“Kumpulkan rakyatmu di sebuah lapangan luas dan engkau salib aku di

sebatang kayu. Lalu panah aku dengan busur milikku sambil kau ucapkan

bismillah Rabb ghulam, dengan nama Allah Tuham pemuda ini. Jika engkau

lakukan itu, engkau akan berhasil membunuhku.”



Raja pun melakukan apa yang disarankan si Pemuda. “Bismillah Rabb

ghulam,” ucap Raja. Panah pun meluncur. Tepat menembus pelipis si

pemuda. Si pemuda meletakkan tangannya di pelipis yang terkena anak

panah. Ia pun menghembuskan nafas terakhir. Orang-orang yang

menyaksikan peristiwa itu berkata, “Kami beriman kepada Tuhannya

pemuda ini.”



Seseorang berkata kepada Raja, “Tidakkah engkau saksikan apa yang

engkau khawatirkan? Orang-orang telah beriman kepada Tuhannya pemuda

itu.”



Raja murka luar biasa. Ia memerintahkah tentaranya membuat parit lalu

mengisi parit itu dengan api yang membakar. “Yang tetap beriman kepada

Tuhannya pemuda itu, ceburkan ke dalam parit itu!” titah Raja terucap.

Maka, satu per satu orang-orang yang beriman kepada Tuhannya si Pemuda

diceburkan ke dalam parit berapi itu. Sampai giliran seorang wanita

yang menggendong anaknya. Ia ragu untuk mencebut ke dalam kobaran api.

Anaknya berkata, “Wahai ibu, sabarlah. Lakukan, engkau berada dalam

kebenaran.”



Begitulah, kisah orang-orang yang beriman sebelum kita. Rasulullah

saw. menceritakannya kepada kita seperti yang diriwayatkan Muslim

(3005), Tirmidzi (3340), Ahmad (6/17, 18), Nasa’i (11661), Ibnu Hibban

(873), Tharani (7319), Ibnu Abi Ashim (287). Mereka telah membuktikan

kebenaran iman mereka. Dan pasti akan tiba giliran kita untuk diuji?

Semoga Allah swt. mengokohkan iman di hati kita apa pun yang terjadi.

Amin.



Dalam Sirah Ibnu Hisyam, Tafsir Ibnu Katsir, dan Mu’jam Al-Buldan

disebutkan, jenazah Pemuda ini ditemukan di zaman Khalifah Umar bin

Khaththab. Jari si Pemuda tetap berada di pelipisnya seperti ketika ia

dibunuh. Penemuan ini terjadi saat seorang penduduk Najran menggali

lobang untuk suatu keperluan. Ketika tangan si Pemuda ditarik dan

dijauhkan dari pelipisnya, darah memancar dari luka panas. Jika

tangannya dikembalikan ke posisi semula, darah itu berhenti mengalir.

Di tangan si Pemuda tertulis kata-kata Rabbku adalah Allah. Mendengar

kabar itu, Umar bin Khaththab memerintahkan agar jasad di Pemuda

dibiarkan seperti semula.



Ibnu Katsir berkata, “Kisah itu terjadi antara masa Isa bin Maryam

a.s. dengan Rasul Muhammad saw., dan ini lebih mendekati. Wallahu

a’lam.”



– Kisah Ashabul Ukhdud –



http://www.dakwatuna.com/2008/kisah-seorang-pemuda-kader-ahli-sihir/








      

Kirim email ke