Bu Harti, dalam memilih investasi secara mendasar perlu kompetensi tak ubah seperti kita pasar mau membeli ikan ibaratnya.
Dulu mungkin ibu atau ayah mengajarkan lihat ingsangnya, matanya masih bening ga, atau dagingnya teken kalau ndak mbalik udah ga seger. Kita ga datang ke tukang ikan bilang beli ikan mas.. tapi milih teliti. Kalok beli telor suka diteropong ke arah matahari.. dan seableg trik sebelum mahir belanja di pasar. Mungkin analoginya demikian. Jadi kalau salah beli ikan pertama tama ya wong namanya belajar. Ttg memilih dng baik, pada dasarnya harus dilakukan analisa. Analisa makro: Liat secara makro bagaimana situasi ekonomi, kmd industrinya. Spt disebutkan Telekomunikasi termasuk industri yg berkembang pesat. Kalau baru negerinya crash bangkrut spt kejadian thn 97, atau politis sedang "rame", harga minyak bumi melangit ya hati hati. Contoh: seperti kejadian TINS kemarin itu tergerak pesat sampai naik lbh dari 25% krn harga timah dunia naik tajam sekali. Jadi orang berharap PT Tambang Timah (TINS) akan mendapatkan keuntungan bagus. Kalok tiba tiba mau Lebaran, Natal khan harga telor, daging, bahan makanan suka naik, atau harga kambing tiba tiba melangit krn mau hari Raya Idul Qurban. Atau ada flu burung, harga ayam tiba tiba anjlok jlok.. krn kita ga beli ayam. Ada lalu, yg disebut analisa Fundamental alias lihat apakah "ikan" ini sehat atau tidak. Itu diambil dari data data keuangan perusahaan misalnya. Utk itu perlu memang belajar sedikit ttg analisa keuangan yg penting penting saja berhubungan dng niat beli saham. Kita ga usah tahu sampai mendalam sekali (ya kalau beli ikan bandeng ga usah kita sampai tahu species, genus, family nya apa secara boso Latin lah ibaratnya). Lha kemudian, milah perusahaan mana yang dalam industrinya mau dipilih, mau beli ikan kembung como apa banjar. Walau sama sama ikan tapi rasanya lain. Contoh lain, ibu milih mana bila mau beli saham Bluebird apa President Taxi (seandainya mereka sudah jadi perusahaan Tbk). Jadi walau industrinya berkembang baik, blm tentu perusahaan yang ada disitu bagus kinerjanya. Reputasi manajemennya, reputasi dipasar dimata konsumen. Setelah analisa Fundamental ada analisa teknikal tentang pergerakan "ikan kembung como" tadi di bursa. Studi ini sifatnya mencoba melihat kecenderungan dari data data lampau dari misalnya berapa banyak volume penjualan, naik turunnya harga, harga pembukaan dan penutupan. Ini mencoba membaca statistik angka angka transaksi dengan berbagai alat yg sudah lazim dipakai. Misalnya: Moving Average.. Juga utk bisa memakai ini semua sebaiknya dipelajari, bisa sendiri atau lewat kursus tentunya. Mungkin gambaran umumnya demikian bu Harti, kalau ada rekan lain mau koreksi atau nambahin, Jangan cemas atau rasanya kewalahan bu. Kadang bisa kita lakukan seperti Warren Buffet, investor masyhur itu. Dia ngeliat koq semua orang minum Coca Cola, lha dia beli tuh sahamnya puluhan tahun lalu. Ibu kalau ngeliat wah koq barang Unilever (UNVR) dimana mana dan laris ris.. ya ini khan tanda yang baik juga. Atau weleh properti koq laju bener jualannya, nah mestinya mereka akan butuh semen utk ngebangun.... ya monggo beli saham perusahaan semen. Jadi keep it simple juga in a way, tapi yang inti penting coba kuasai kompetensi "cara beli ikan yang seger" tadi.. hati hati selalu, kritis kalau mendengar rekomendasi atau rumour entah di milis entah lewat temen. Selamat berinvestasi (saya ga setuju kalok kita dibilang "main saham"), untuk belajar internet sudah menyediakan jutaan informasi dng mudahnya. Banyak yg gratisan lagi. th
