Makin Sulit, Mengais Timah yang Tersisa di Bangka
L Andreas Sarwono
Siang hari itu matahari bersinar sangat terik. Lahan tandus bekas
penambangan timah di Merawang, Bangka, Kepulauan Bangka Belitung,
membuat udara terasa makin menyengat. Namun, sekelompok pekerja
laki-laki dan perempuan tetap saja asyik mencari pasir timah yang
tersembunyi di balik tanah.
Pekerja laki-laki berada di atas alat pengayak sederhana terbuat dari
kayu, yang oleh warga disebut sakan. Tanah dan air dari dalam lubang
bekas galian tambang dipompa ke sakan. Pekerja pria sibuk meratakan
tanah, sementara pekerja perempuan berada di bawah sakan, mendulang air
limpasan.
Dari sakan inilah, pasir timah yang berwarna hitam didapatkan. Karena
perbedaan berat, pasir timah akan tertinggal di alat pengayak, sedangkan
tanah akan hanyut terbawa air. Pekerja perempuan mendulang dengan
lempengan-lempengan plastik untuk mencari sisa-sisa pasir timah yang
terbuang.
Pasir timah yang terkumpul dapat langsung dijual. Biasanya, para pekerja
tambang rakyat atau tambang inkonvensional (TI) ini menjual pasir timah
kepada kolektor. Dari tangan kolektor itulah, selanjutnya timah dijual
ke pabrik peleburan timah (smelter). Harganya Rp 30.000 sampai Rp 33.000
per kilogram.
Namun, upah bagi pekerja tambang jauh di bawah angka itu. Mereka hanya
diberi upah Rp 7.000-Rp 10.000 untuk setiap kilogram timah yang
diperoleh. Dengan semakin sulitnya mengumpulkan pasir timah, semakin
tipis pula penghasilan mereka.
"Satu sakan biasanya bisa menghasilkan 40 kilogram pasir timah. Tetapi,
beberapa hari ini dua sakan hanya bisa menghasilkan 50 kilogram.
Padahal, biaya operasionalnya sudah tinggi," keluh Fahrohid, pengawas
pekerja TI saat ditemui pertengahan Desember lalu di Merawang.
Untuk menyedot lumpur dan menyemprotkan air ke sakan, dibutuhkan dua
pompa diesel. Beroperasi selama enam jam, dua pompa diesel itu
menghabiskan enam drum solar atau sekitar 120 liter. Fahrohid biasa
membeli solar dengan menggunakan tangki kendaraannya di stasiun
pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).
Solar dikuras dari tangki kendaraannya dan dipindahkan ke jeriken. Ia
biasa membeli sekitar 200 liter solar per hari. Walaupun penjualan bahan
bakar di SPBU telah diperketat dengan sistem kupon, Fahrohid bisa dengan
mudah mendapatkan solar.
Satu hari kerja biaya operasional, termasuk ongkos perbaikan mesin
diesel yang kerap rusak, bisa mencapai Rp 1 juta. Jadi, kalau sehari
timah yang diperoleh kurang dari 70 kilogram, berarti penambang akan
menanggung rugi.
"Belum lagi dengan semakin seringnya penertiban TI. Kami sering
didatangi oknum aparat, baik kepolisian maupun pemerintah daerah.
Padahal, kami sudah memiliki izin dari PT Timah selaku pemilik kuasa
pertambangan, tetapi tetap saja ujung-ujungnya kami harus memberikan
duit," ujarnya.
Pendatang
Fahrohid yang asal Madura ini datang ke Bangka delapan tahun lalu
bersama tujuh rekannya. Sekitar tahun 2000 TI diperbolehkan ikut
menambang timah. Hanya beberapa tahun berjalan penambangan
inkonvensional pun merebak di mana-mana. Tidak hanya di areal bekas
penambangan PT Timah, tetapi juga di daerah-daerah yang sebenarnya
dilindungi, seperti hutan lindung, hutan bakau, tepi jalan raya, dan
daerah aliran sungai.
Kini dengan berjalannya waktu, selain sedikitnya 40 keluarga asal
Madura, di Merawang juga ada penambang yang datang dari Lampung,
Yogyakarta, dan Jawa Tengah.
Warso (38), misalnya. Pria kelahiran Wates, Kulonprogo, DI Yogyakarta,
ini baru datang setahun lalu ke Merawang. Sebelumnya ia adalah generasi
kedua transmigran yang bermukim di daerah Lampung Selatan. Gelimang uang
dari tambang timah mendorong ia dan dua rekannya datang ke Bangka.
"Kalau dulu banyak timahnya, saya percaya. Tetapi, sekarang sudah sangat
berkurang. Kami sudah tiga hari mencari timah, tetapi tidak dapat.
Padahal sudah keluar banyak ongkos untuk makan dan solar," ujarnya.
Untuk mendapatkan timah, memang untung-untungan. Walaupun dalam
pengecekan terkandung timah, terkadang setelah dibongkar lapisan
tanahnya tidak terdapat timah seperti yang diharapkan. Kalau begitu,
pekerja harus mencari lubang-lubang bekas tambang yang lain.
Lebih mengenaskan lagi nasib para pendulang timah. Mereka hanya
bermodalkan piring sederhana untuk mendulang timah. Seperti dilakukan
Ahmad Bujang (60) yang telah bekerja di tambang timah sejak tahun 1968.
Kakek renta ini hidup di bedeng sederhana berukuran 3 x 3 meter bersama
delapan pekerja TI lainnya di Gunung Muda, Belinyu, Kabupaten Bangka.
Tubuhnya yang renta tak mampu lagi bekerja terlalu lama di terik
matahari. Satu hari ia paling banyak bisa mengumpulkan satu kilogram
pasir timah. Kadang pula karena hari hujan atau sedang tidak enak badan,
ia tidak bekerja.
"Memanggul tiga sampai empat karung tanah sekarang ini rasanya sangat
berat. Punggung saya sudah tidak kuat lagi. Tetapi, mau bagaimana lagi,
sudah coba cari pekerjaan lain tetapi tidak berhasil," ucapnya sambil
terkekeh.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hudarni Rani pada berbagai kesempatan
menegaskan, dirinya mempersilakan masyarakat ikut menambang timah.
Namun, dia mengingatkan bahwa kegiatan penambangan harus sesuai dengan
persyaratan dan tidak boleh merusak lingkungan.
Ada sekitar 1.000 hektar lahan bekas penambangan di Kepulauan Bangka
Belitung. Lahan yang berbentuk lubang-lubang ini tampak seperti bopeng
di kulit bumi. Padahal, keuntungan yang dihasilkan dari penambangan
timah inkonvensional ini hanyalah sesaat, tidak sebanding dengan
kerusakan lingkungan yang harus ditanggung oleh masyarakat Bangka
Belitung, mulai hari ini hingga anak cucunya nanti....
marcel widiarto wrote:
>
> Saya baru bergabung beberapa hari ini di tempat yang
> baru ini. Salam kenal untuk semuanya. Apakah info ini
> bisa berguna?
>
> PT Timah Tbk Kucurkan Dana PUKK Rp 2,5 M
>
> [Pangkalpinang]. Direktur Keungan PT Timah Tbk,
> Wachid Usman mengatakan,sejak tahun 2003 Pembinaan
> Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) PT Timah Tbk telah
> mencapai hampir 2000 mitra binaan.
> Untuk tahun 2006 PT Timah Tbk telah mengucurkan dana
> bergulir pinjaman PUKK sebesar Rp 5,635 miliar kepada
> 357 usaha kecil dan koperasi sebagai mitra binaan.
> Untuk semester I 2006 dikucurkan Rp 2,41 miliar
> kepada 157 orang, dan 80 persen diantaranya atau Rp
> 4,5 miliar untuk mitra binaan wilayah Pangkalpinang
> dan Bangka. Dan semester II 2006 ini dikucurkan dana
> PUKK sebesar Rp 3,207 miliar kepada 200 usaha kecil
> yang dinilai memenuhi syarat.
> Kebag Humas PT Timah Tbk, Abrun Abubakar, Kamis (11/1)
> mengatakan. Untuk pengembalian dana yang digulirkan
> oleh mitra binaan cukup mengembirakan, namun tetap
> kita pantau kemajuannya. Kalau hasilnya bagus,
> produknya bagus kita pilih untuk diikutkan pameran di
> Jakarta, Surabaya bahkan Malaysia.
> Tahun 2007 mendatang PT Timah Tbk akan mengikutkan
> mitra binaannya pada Inacraft di Jakarta pada bulan
> April mendatang. Selama ini produk yang pernah kita
> ikut sertakan diantaranya pewter, asesoris, kain cual,
> renda dan meubel.
> Dalam pameran yang diikuti tersebut PT Timah Tbk
> ingin menonjolkan produk-produk daerah hasil binaan,
> yakni pengusaha kecil dan koperasi yang ada di daerah
> kabupaten, kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
> Ada produk-produk unggulan yang hendak PT Timah
> kembangkan seperti pewter yang ternyata dalam pameran
> peminatnya cukup banyak termasuk juga kain cual dan
> renda.
> Pameran itu menjadi sarana promosi, dimana mereka bisa
> menjalin hubungan pemasaran yang akan terus dapat
> mengembangkan usaha mereka. Ukuran keberhasilan PUKK
> secara financial adalah pengembalian. Kalau para
> mitra binaan mampu mengembalikan pinjaman, berarti
> PUKK berhasil. Hingga saat ini tingkat pengembalian
> mencapai 85 persen.
>
> --- EKA SUWANDANA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Nggak ngaruh tuh dgn smelter ANTM, yg di BINTAN kan?
> > Setahu saya ANTM dulu punya konsesi tambang
> > Bauxite di sana, tapi sekarang yg ada hanya yg Low
> > Grade. Nah ada yg butuh perusahaan Cina dan
> > Malaysia, karena infrasrtuktur sudah ada, jadi bikin
> > JV dgn ANTM. ANTM nggak keluar uang banyak utk ini.
> >
DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED] untuk unsubscribe dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk subscribe ke milis saham
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/saham/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/saham/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/