Emiten Pasar Modal Bersinar di Tengah Lesunya Iklim Dunia Usaha
Ditopang Tambang - Telekomunikasi Pada pengujung 2006, indeks menembus 1.805,523 poin. Salah satu penyebabnya adalah kinerja emiten yang cemerlang sepanjang tahun. Sekitar 85 persen emiten di BEJ mencetak laba bersih. ------------------ SALAH satu sektor yang menunjukkan performa positif pada 2006 lalu adalah industri telekomunikasi, pertambangan, perbankan, dan infrastruktur. Beberapa emiten di sektor tersebut membukukan laba bersih yang signifikan. Hanya beberapa di antaranya yang mengalami kerugian. Seperti yang terjadi di sektor telekomunikasi. Indonesia sebagai emerging market memiliki potensi besar. Dari 220 juta penduduk, telendensitas telekomunikasi (penetrasi pasar) baru mencapai 27 persen. Masih jauh dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN yang pendapatan per kapitanya hampir sama. Misalnya saja Thailland. Dari kondisi tersebut, tak heran jika banyak perusahaan telekomunikasi yang go public dan sahamnya menjadi incaran investor (blue chips). Mulai PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Tbk, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). Ketiganya merupakan pemain utama di industri telekomunikasi. Saat ini, laporan kinerja Telkom 2006 tengah di nanti-nanti pelaku pasar. Sebab, dua operator telekomunikasi lainnya sudah memublikasikan kinerja keuangannya. Hanya BUMN telekomunikasi tersebut yang belum. Indosat mengalami penurunan laba bersih 13,1 persen dari Rp 1,623 triliun pada 2005 menjadi Rp 1,410 triliun tahun lalu. Sementara XL berhasil mencetak laba bersih Rp 651,883 miliar dibanding 2005 yang masih mencatat rugi bersih Rp 224,092 miliar. Beberapa emiten telekomunikasi yang masih seumur jagung juga mencetak laba bersih yang terhitung lumayan besar. Sebut saja PT Bakrie Telecom Tbk yang meraih laba bersih untuk pertama kalinya. "Pada 2005 Bakrie Telecom masih merugi Rp 144,3 miliar. Tahun ini, kami membalikkan situasi dengan mencatat laba bersih Rp 72,68 miliar," ungkap Dirut Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie. Kondisi yang sama dilamai PT Mobile-8 Telecom Tbk yang mengalami peningkatan laba bersih menjadi Rp 35 miliar jika dibandingkan rugi kotor Rp 287 miliar pada 2005. Meski belum dipublikasikan, Men BUMN Sugiharto sudah membeber keuntungan Telkom. "Telkom untung lebih dari 10 triliun pada 2006," ungkap Sugiharto di sela-sela Gelar Karya BUMN 2007 kemarin. Sementara laba bersih Telkom pada 2005 hanya Rp 7,993 triliun. Salah satu penyebab bersinarnya kinerja Telkom adalah peningkatan jumlah pelanggan. Tahun ini, diharapkan pertumbuhan pelanggan bisa mencapai 18 juta. Di sisi lain, harga komoditas sektor pertambangan di dunia secara otomatis mendongkrak kenaikan pendapatan beberapa emiten pertambangan. Seperti yang terjadi pada harga nikel dunia. Saat ini, harga nikel bisa mencapai USD 22 per pound. Diperkirakan harga rata-rata nikel 2007 di kisaran USD 17 per pound. Tak heran jika PT International Nikel Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba bersih Rp 4,6 triliun pada 2006. Jumlah itu meningkat 91,7 persen dari posisi laba bersih 2005 yang hanya Rp 1,9 triliun. PT Bumi Resources Tbk mencatat kenaikan 80,35 persen laba bersih. Dari USD 123,263 juta pada 2005 menjadi USD 222,304 juta pada 2006. Pertumbuhan laba bersih itu seiring kenaikan penjualan bersih 5,71 persen dari USD 1,751 miliar menjadi USD 1,851 miliar. PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dan anak perusahaan juga mengalami pertumbuhan laba bersih, walaupun tipis. Yakni naik 4 persen menjadi Rp 485,670 miliar pada 2006 dibandingkan tahun buku 2005 yang hanya Rp 467,060 miliar. Kenaikan tersebut didukung pertumbuhan penjualan bersih dari Rp 2,998 triliun menjadi Rp 3,533 triliun. Untuk PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk mencatatkan Rp 1,89 triliun. Naik dari posisi 2005 yang hanya Rp 1,03 triliun. Pendapatannya mencapai Rp 6,63 triliun atau meningkat 22 persen dibanding 2005. "Pendapatan berasal dari bisnis distribusi Rp 5,53 triliun dan bisnis transmisi Rp 1,1 triliun," terang Direktur Keuangan PGN Djoko Pramono. Dari bisnis transmisi, volume gas yang diangkut meningkat 13 persen menjadi 681 MMSCFD. Kenaikan terbesar diperoleh dari jalur pipa transmisi Grissik-Singapura yang meningkat 27 persen. Selain itu, meski PGN mengalami kendala pasokan di Jawa Timur, volume penjualan distribusi malah meningkat lima persen. Yakni dari 308 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) menjadi 323 MMSCFD. "Kenaikan volume tersebut berasal dari penambahan pelanggan dan peningkatan volume penjualan di wilayah Batam." Meski begitu, ada juga emiten blue chips yang mengalami penurunan laba bersih akibat kondisi pasar Indonesia. Seperti yang dialami PT Astra International Tbk. Laba bersih perusahaan yang melantai dengan kode ASII dan anak perusahaannya turun 32 persen menjadi Rp 3,712 triliun pada 2006 dibanding 2005 sebesar Rp 5,457 triliun. "Penyebabnya adalah penurunan di seluruh volume penjualan motor dan mobil selama 2006," terang Presdir Astra International Michael D. Ruslim. Jika dipaparkan, pendapatan dari bisnis otomotif lebih rendah 51 persen dari posisi tahun sebelumnya. Namun, emiten tersebut semuanya optimistis bahwa kondisi makro dan mikro pada 2007 akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Dengan begitu, akan mendukung target pertumbuhan mereka di 2007. Termasuk emiten perbankan. Beberapa bank yang tingkat kreditnya rendah berhasil membukukan laba bersih yang lumayan baik. Seperti BCA yang menghasilkan laba bersih Rp 4,26 triliun atau naik 17,94 persen. Sementara bank pelat merah prestasinya juga menggembirakan. Bank Mandiri yang berhasil membukukan kenaikan laba bersih 301,31 persen. Lalu BNI dan BRI yang berturut-turut mencetak kenaikan laba bersih 36,13 persen dan 11,79 persen. (Andreswari W.) -- Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk unsubscribe dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk subscribe ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
