Waspadai Aktivitas "Hedge Fund" Otoritas pasar modal dan otoritas moneter
hendaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas hedge fund di pasar
finansial. Sepak terjangnya bisa menimbulkan ketidakstabilan sistem keuangan
manakala dana yang mereka kelola "dimainkan" menuju arah yang berbalik dalam
waktu seketika atau sudden reversal. Dana hedge fund yang masuk ke pasar
saham ada yang jangka pendek dan jangka panjang. Untuk yang jangka panjang,
biasanya berupa penyertaan saham (langsung) di suatu perusahaan, sementara yang
jangka pendek biasanya dalam aktivitas jual beli saham di pasar modal.
"Investasi yang jangka pendek ini yang biasanya volatile dan memiliki
kerawanan," kata peneliti senior Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat
Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Dwityapoetra S Besar, saat
dihubungi Jumat (18/5). Hedge fund yang pada awalnya dikembangkan Alfred
Winslow Jones pada tahun 1947 merupakan kumpulan dana yang ditujukan untuk
melakukan investasi dalam posisi jangka panjang maupun jangka pendek,
menggunakan arbitrasi, perdagangan obligasi atau opsi, dan melakukan penanaman
dalam setiap kesempatan untuk memperoleh pendapatan dengan risiko yang kecil.
Perkembangan aset yang dikelola hedge fund meningkat dengan pesat dari 257
miliar dollar AS pada tahun 1995 menjadi 1,5 triliun dollar AS pada tahun 2006.
Jumlah perusahaan hedge fund terus meningkat mencapai lebih dari 8.500
perusahaan. Berdasarkan Hedge Fund Intelligence, posisi lima besar
berdasarkan aset yang dikelola sampai akhir 2006 diduduki JP Morgan Aset
Management dengan dana kelolaan 34 miliar dollar AS. Di posisi selanjutnya
Goldman Sachs Asset Management dengan dana kelolaan 32,5 miliar dollar AS,
Bridgewater Associates 30,2 miliar dollar AS. Kemudian, DE Shaw Group 26,3
miliar dollar AS, dan Farallon Capital Management 26,2 miliar dollar AS.
Betapa dahsyat kekuatan mereka untuk mendikte pasar. Negara yang memiliki daya
tahan
stabilitas keuangan bisa "babak belur" dibikinnya. Salah satu indikator
kekuatan stabilitas keuangan suatu perekonomian (negara) adalah besarnya
cadangan devisa. Indonesia, misalnya, cadangan devisanya saat ini hampir 50
miliar dollar AS. Menurut Dwityapoetra, jumlah tersebut sebenarnya cukup
aman. "Akan tetapi, dalam cadangan devisa tersebut sudah dimasukkan juga
perhitungan dana hedge fund yang masuk Indonesia. Dengan demikian, jika terjadi
penarikan dana secara mendadak, maka cadangan devisa juga akan turun," katanya.
Dalam beberapa tahun belakangan, mereka mulai mengarahkan investasinya ke
negara berkembang karena belum terlalu banyak pemantauan dan regulasi terhadap
kehadiran mereka. Perpindahan investasi ke Asia disebabkan karena pasar saham
di Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang relatif stabil sehingga potensi untuk
spekulasi berkurang. Selain itu, otoritas pengawasan di AS dan Inggris juga
semakin ketat. "Di Asia, terutama di negara berkembang termasuk
Indonesia, belum ada pengawasan dan regulasi terhadap aktivitas mereka di
pasar saham. Dengan demikian, dananya masih bebas dan deras mengalir," katanya.
Derasnya aliran dana itu juga dipicu tingkat keuntungan yang ditawarkan dari
pasar saham di Indonesia yang dinilai masih menguntungkan. Ada dua hal yang
mereka cari, yakni keuntungan dari pembagian dividen serta capital gain dari
jual beli saham di bursa Indonesia. "Pada bulan Juni nanti kemungkinan ada
koreksi karena reposisi strategi investasi oleh para emiten. Harus diwaspadai
strategi para hedge fund yang menaikkan harga saham kemudian melakukan aksi
ambil untung dengan melepas kepemilikannya. Hal ini bisa membuat indeks jeblok
dan merusak stabilitas keuangan," katanya. Antisipasi Untuk mengantisipasi
hal tersebut, dia mengatakan, sebaiknya BI dan Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) melakukan kerja sama dengan otoritas negara lain
di Asia, seperti Monetary Authority of Singapore dan
Hongkong Monetary Authority. "Singapura telah memiliki regulasi untuk
mengawasi kegiatan hedge fund di negara tersebut. Indonesia dapat meminta
informasi dari Singapura mengenai aktivitas mereka di sana," katanya. Untuk
jangka panjang, BI dan Bapepam-LK bisa melakukan pengawasan dan pengaturan
terhadap aktivitas mereka. "Aturan yang diberlakukan, misalnya, keharusan
melaporkan aktivitasnya kepada otoritas pasar modal dan otoritas moneter. Di
tingkat lebih tinggi bisa dibuat aturan mengenai izin untuk beraktivitas di
Indonesia, bahkan sampai tingkat pengaturan modal yang harus dimiliki,"
katanya. Sebagai tantangan, dengan aturan yang terlalu ketat, mereka akan
segan untuk masuk ke suatu negara. Padahal, kehadiran mereka juga bisa
berdampak positif terutama dalam hal penyediaan likuiditas di pasar saham.
Dia mengingatkan, harus diwaspadai jika kenaikan harga saham di pasar saat ini
tidak disertai dengan pembagian dividen sebagian besar emiten di bursa, maka
terjadi
pasar yang menggelembung. Menanjak Indeks di pasar saham Jakarta terus
melonjak selama dua bulan terakhir ini. Padahal, pada Januari dan Februari,
indeks sempat luruh. Indeks saham yang awal Januari mencapai 1.836,53 turun
menjadi 1.759,49 pada awal Maret, antara lain karena dampak bursa China.
Hingga perdagangan Rabu lalu, Indeks Harga Saham Gabungan BEJ berada pada
posisi 2.063, yang berarti naik 12,3 persen dibandingkan dengan awal tahun.
Harga IHSG tersebut sudah mencapai 21,13 kali lipat laba emiten di bursa tahun
2006. Dibandingkan dengan negara lain, indeks harga saham gabungan di bursa
Malaysia besarnya 18,8 kali, Filipina 15,37 kali, Singapura 14,22 kali, dan
Thailand 13,3 kali. UBS dalam risetnya memperkirakan indeks saham di BEJ akan
terus naik hingga 2.125 hingga akhir tahun ini. Adapun estimasi pertumbuhan
earning per share (EPS) di BEJ sekitar 40,3 persen, jauh lebih tinggi dari
rata-rata kawasan yang diperkirakan sebesar 19,2 persen. "Indonesia
masih merupakan pasar termurah keempat di Asia, dilihat dari perkiraan price
earning pada 2008, setelah Thailand, Korea, dan Taiwan," demikian hasil riset
UBS. Memang sulit mengetahui berapa dana global yang beredar. "Mereka keluar
masuk pasar, seperti saat ini sedang masuk dan pernah keluar pada awal tahun
lalu," ujar Milan Zavadjil, Ketua Tim Artikel IV IMF. Walaupun ada aliran dana
jangka pendek yang deras, Zavadjil yakin pemerintah dapat mengatasi jika
terjadi penarikan dana milik para investor asing tersebut. Gerak China
Aliran dana global bukan hanya ke Indonesia. Aliran juga mengucur deras ke
China dan membuat pasar saham melonjak sehingga semua pihak memerhatikan apa
yang terjadi di China. Kemarin, Bank Sentral China mengeluarkan peringatan
mengenai bahayanya perekonomian yang terlalu overheating atau panas dan pasar
saham yang terlihat sangat bergairah. Para dealer di bursa China mengatakan,
kemungkinan indeks saham akan tetap berada pada posisi 4.000-an
dan para investor menahan diri untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh
otoritas untuk mendinginkan perekonomian China. Gubernur Bank Sentral China
Zhou Xiaochuan di Shanghai mengatakan, China akan melanjutkan penggunaan
perangkat ekonominya jika dianggap perlu untuk mendinginkan perekonomian.
Keprihatinan regulator meningkat mengenai pasar saham China yang terus melonjak
dan kemungkinan bank sentral akan menaikkan tingkat suku bunga untuk meredam
aksi spekulasi di pasar saham. Konglomerat Hongkong Li Kashing dan Direktur
Eksekutif HSBC Peter Wong juga memperingatkan, maraknya perdagangan saham di
bursa China lain akan berdampak pada Hongkong jika terjadi ledakan dari pasar
saham yang menggelembung. (TAV/JOE)
Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new
Car Finder
tool.http://us.rd.yahoo.com/evt=48518/*http://autos.yahoo.com/carfinder/;_ylc=X3oDMTE3NWsyMDd2BF9TAzk3MTA3MDc2BHNlYwNtYWlsdGFncwRzbGsDY2FyLWZpbmRlcg--
hot CTA = Yahoo! Autos new Car Finder tool