Minggu, 20/05/2007
Astra yang digdaya Sidang pembaca yang mulia, bukalah media massa bisnis di
negeri ini -entah berbentuk koran, majalah atau tabloid- yang terbit selama
2006 dan sepertiga 2007 ini. Ada berbagai macam penghargaan yang diberikan oleh
media massa bisnis itu.
Mulai dari kepuasan pelanggan, kekuatan merek, produk terbaik, laporan
keuangan, kepercayaan investor, pengelolaan human capital, public relation,
hingga kepada sang CEO-nya. Bila kita perhatikan dengan seksama, apa yang dapat
disimpulkan dari aneka macam penghargaan tersebut? Jawabannya ternyata
sederhana: Astra International.
Ya, tak salah Astra International beserta anak usahanya menjadi jawara dari
aneka penghargaan tersebut. Lantaran digdayanya Astra, ada seloroh yang
sekarang beredar, jika ada media massa menggelar ajang award lagi -entah apa
itu awardnya- tidak perlu pakai survei-survei segala. Lha mau disurvei apanya
kalau yang menang lagi-lagi Astra?
Seloroh konyol ini memang tidak perlu ditanggapi serius. Namun bila dicerna
dengan akal sehat, seloroh tersebut hampir pasti mendekati kenyataan. Astra
International, tak pelak dipastikan ikut dalam jajaran pemenangnya. Malah
lantaran terlalu digdayanya, Astra mampu mempelesetkan visi yang digelorakan
Jack Welch untuk GE "Menjadi nomor satu atau nomor dua dalam penghargaan yang
diikuti."
Mengapa Astra yang menjadi pemenang? Hal demikian ternyata bukan tanpa sebab,
apalagi kongkalikong antara media massa, lembaga penilai dan manajemen Astra.
Astra memang layak menjadi pemenang. Jalan panjang nan berliku yang dilakoni
Astra sejak pertengahan tahun 70-an untuk menjadikan dirinya perusahaan unggul
akhirnya berbuah ranum nan lebat.
Semua aspek yang ada dalam tubuh Astra layak disebut dijalankan secara
profesional. Tidak heran manakala muncul ajang penghargaan semua aspek yang
dimiliki Astra -mulai dari produk, pemasaran, human capital, distribusi,
keuangan, hingga public relation- merebut piala.
Sebuah buku luar biasa namun teramat miskin dibahas di negeri ini bertajuk
"Dare to do - the story of William Soeryadjaja and PT Astra International" yang
ditulis kepala riset Universitas Insead Perancis Charlotte Butler, menuturkan
dengan cerdas napak tilas Astra International dari perusahaan ecek-ecek yang
dikelola serampangan menjadi perusahaan terbaik di negeri ini.
Oleh Butler, sejarah Astra dibagi dalam empat bagian pokok dengan pokok pertama
adalah sejarah Astra dari 1957 sampai 1989. Pokok kedua menuturkan evolusi
bisnis Astra yang merambah kemana-mana. Pokok ketiga adalah pembenahan
organisasi dan manajemen Astra. Pokok keempat, karena buku ini rampung pada
2002 menuturkan tentang perjalanan Astra dari 1989 hingga 2000.
Prinsip 3W
Seperti yang sering disampaikan oleh mantan CEO Astra TP Rachmat, dan juga
dibahas panjang lebar dalam buku ini, bahwa keberhasilan Astra tak lain karena
manajemen Astra menerapkan 3W: winning concept, winning culture dan winning
team.
Winning concept, seperti namanya bertutur tentang konsep, metodologi, cara dan
referensi terbaru yang layak dijalankan oleh manajemen Astra guna mendukung
kinerja bisnisnya.
Winning culture bermain pada wilayah moral, kebiasaan dan perilaku warga
organisasi dalam bekerja dan berhubungan dengan para stakeholdernya. Winning
team tak lain berbicara tentang kekuatan kelompok dalam menuntaskan semua
rencana yang telah disepakati.
Winning concept yang dijalankan manajemen Astra tidak semata-mata berhenti pada
dataran tulisan yang menarik untuk dijadikan referensi namun tergagap-gagap
dalam pelaksanaan.
Manajemen Astra selalu terbuka terhadap pendekatan manajemen kontemporer.
Dekade 80-an Astra mulai menerapkan konsep bernama Total Quality Control yang
diadaptasi dari gaya manajemen perusahaan Jepang. Konsep yang selanjutnya
disebut Astra Total Quality Control (ATQC) intinya bergulat pada proses
perbaikan secara terus menerus dengan pedoman pada data. ATQC menjadi tonggak
kokoh bagi Astra untuk bertumbuh kencang meninggalkan para pesaingnya lantaran
para pesaingnya pada waktu itu masih terjebak pada sistem yang mengutamakan
hasil tanpa didukung data.
Kesuksesan konsep ini kemudian pada 1988 diperbaiki melalui konsep kedua yang
lazim disebut Man Management Astra. Kepedulian manajemen terhadap manusia
pekerja ditunjukkan dengan keseriusan untuk mencetak manusia-manusia unggul ala
Astra. Kompetensi SDM dibangun agar memiliki karyawan berkelas dunia. Pelatihan
massif dijalankan. Pengembangan eksekutif bekerja sama dengan lembaga-lembaga
terbaik macam Insead Perancis, Asian Institute of Management Philipina dan LPPM
Jakarta.
Apabila perusahaan Anda ingin memperoleh penghargaan prestisius dari media
massa bisnis di negeri ini, lima sistem yang dikembangkan oleh Astra dapat
dijadikan benchmarking.
Pertama, ciptakan bahasa yang sama dalam menjalankan bisnis. Kedua, konsistensi
dan keterlibatan manajemen puncak dalam mengelola manusia. Ketiga, memperkuat
budaya perusahaan dan mengimplementasikan.
Keempat, pengelolaan proses manajemen yang berorientasi pada perbaikan
terus-menerus. Kelima, bersahabat dengan konsep bisnis kontemporer.
A.M. Lilik Agung
Praktisi manajemen dan mitra pengelola Red Piramid
email: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.