Sorry bukan 4T tapi 14T. Ekonomi & Bisnis 20/05/07 18:45
Setiawan Djody Sediakan 1,6 Miliar Dolar AS untuk Beli Kembali Telkomsel Jakarta (ANTARA News) - Pengusaha nasional, Setiawan Djody, menyediakan dana mencapai 1,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk membeli kembali saham Telkomsel yang saat ini dikuasai perusahaan telekomunikasi Singapura (Singtel). "Dana itu berasal dari perusahaan 'investment banking' luar negeri, antara lain dari Jepang dan Timur Tengah. Mereka siap bekerja sama dengan Setco untuk menyediakan pendanannya," kata Setiawan Djody di Jakarta, Mingggu. Djody mengatakan, Setdco sebagai kelompok bisnisnya ingin mendeklarasikan pembelian kembali kembali, dan bukan untuk menuntut secara hukum saham Telkomsel yang merupakan hak Setco. "Kami ingin menyelesaikan secara 'B to B' (business to business)," ujarnya. Dia mengemukakan, dana 1,6 miliar dolar AS itu disediakan untuk membeli 35 persen saham Telkomsel yang kini dikuasai Singtel. "Namun, kami hanya ingin membeli saham yang menjadi hak Setdco, yakni sebanyak 22,3 persen. Kalau mereka mau jual sisanya juga (12,7) persen, ya akan kami beli juga," katanya. Djody mengakui, pihaknya telah berkirim surat kepada Pemerintah Singapura yang isinya menyatakan bahwa akan membeli kembali saham Telkomsel yang menjadi haknya dari Singtel, namun hingga kini ia belum menerima jawaban. Mengenai kemungkinan pihak Singtel yang tidak ingin menjual kepemilikan sahamnya di Telkomsel, Djody mengatakan, Pemerintah Singapura harus melihat kepentingan kerjasama yang lebih luas lagi dengan Indonesia, bukan hanya semata masalah bisnis. "Sebagai orang Jawa, ya saya mengalah, kalau tidak mau juga saya 'ngalih' (pindah), kalau tidak mau juga ya sudah," katanya. Mengenai upaya atau langkah hukum yang diambil Setdco terhadap Singtel, Djody mengatakan, hal itu sangat tergantung sejumlah hal. Namun, dia tidak bersedia menjelaskan secara detil langkah hukum tersebut. Menurut Djody, awalnya Setdco hanya memiliki lima persen saham di Telkomsel, kemudian perusahaan telekomunikasi Belanda (KPN) memiliki 17,3 persen. Tapi, karena KPN bangkrut, akhirnya kepemilikan KPN bersama-sama (22,3 persen) dengan Setdco di Telkomsel dijual. Dia menyatakan, Setco sebagai bagian dari pemilik saham Telkomsel memiliki hak "first right of refusal" menyatakan menyanggupi untuk membeli saham KPN tersebut. "Pada saat itu (2001), kami telah memberikan penawaran sebesar 650 juta dolar AS atau lebih mahal dari yang ditawarkan Singtel, yakni hanya 601 juta dolar AS," katanya. Namun, ia mengemukakan, kenyataannya Singtel yang menjadi pemenang tender pembelian saham Telkomsel tersebut. "Hal ini aneh dan kontroversial, padahal kami mempunyai harga penawaran yang lebih bagus, dan kami juga punya hak pertama untuk menolak atau menyetujui pembelian saham Telkomsel tersebut," demikian Setiawan Djody, yang juga dikenal sebagai impresario dan budayawan itu. (*) Copyright © 2007 ANTARA ----- Original Message ----- From: Hambali Mr. To: [email protected] Sent: Tuesday, May 22, 2007 11:09 AM Subject: Balasan: Re: Balasan: Re: [saham] ada apa dengan TELKOM menurut info, dia sudah menghubungi bumn nya singapura untuk membeli saham tlkm, tapi belum ada jawabannya. mengenai telkomsel saya kurang yakin dengan info tersebut gambler <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bukannya Telkomsel yg dia mau? Udah siapin dana lebih dari 4T tuh. ----- Original Message ----- From: Hambali Mr. To: [email protected] Sent: Tuesday, May 22, 2007 7:49 AM Subject: Balasan: Re: [saham] ada apa dengan TELKOM menurut kabar burung mr. stiawan djodi mau beli tlkm di harga tidak terlalu mahal, dikisaran dibawah Rp. 9000. disclimer. andry tjoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Fundamental : Lap Keu Kurang bagus pa Technikal Menuju 9000-9300 On 5/21/07, dedy syahrial <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ada apa dengan Telkom ? Kok malah turun pasti ada masalah nih tolong dong penjelasannya baik dari segi Fundamental maupun teknikal juga dari segi ekonomi makro terima kasih -------------------------------------------------------------------------- Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! ------------------------------------------------------------------------------ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
