Mungkin berita lama dibawah bisa membantu.

Bhakti, Pintu Gerbang untuk Soros
Kerjasama George Soros dan PT Bhakti Investama, agaknya tidak terbatas sekadar 
memiliki saham. Kabarnya Soros akan mendayakan Bhakti sebagai gerbang untuk 
melakukan penetrasi di Indonesia. Adakah kaitannya dengan pembentukan PT Bhakti 
Capital Indonesia? 

Nama PT Bhakti Investama (BHIT) belakangan kerap diidentikkan dengan nama besar 
spekulan kakap George Soros. Maklum, lewat BHIT-lah Soros untuk pertama kalinya 
secara terbuka menjejakkan langkah investasinya di pasar modal Indonesia dengan 
membeli saham BHIT sebanyak 14%. Dan berkat nama besar Soros pula harga saham 
BHIT melambung hingga kini. Dan sejak itu, setiap kali ada emiten atau 
perusahaan Indonesia yang dicaplok pengusaha asal Yahudi ini, pada saat itu 
pula nama BHIT muncul.

Simak saja bagaimana Soros membeli saham Bank CIC (BCIC) sebanyak 18,87%. 
Seorang sumber menyebut andaikata di pasar modal Indonesia tidak ada ketentuan 
penawaran tender (tender offer) -ketentuan yang harus dilakukan oleh pihak 
manapun yang membeli saham emiten 20% keatas- bisa jadi Soros akan mengambil 
alih BCIC secara mayoritas. Masuknya Soros ke BCIC-pun melibatkan tangan BHIT. 
Sejak masuk bursa, BCIC memang telah ditangani BHIT.

Begitupun ketika pengusaha yang dikenal dengan julukan ''langkahnya mendahului 
kurva" itu mengambil alih mayoritas PT Bentoel International dan mentake over 
PT Transindo Multi Prima (RMBA). Langkah back door listing yang dilakukan PT 
Bentoel terhadap RMBA pun juga meminjam tangan BHIT. Yang juga membuat publik 
kaget adalah langkah Soros yang masuk ke industri layar kaca dengan 
menyuntikkan modal Rp 100 miliar ke PT Mitrasari yang memiliki 54% saham PT 
Surya Citra yang mengelola SCTV. Berkat suntikan modal itu PT Datacom Asia yang 
dimiliki Peter F. Gontha terdilusi dari semula 46% menjadi 26%. Sementara porsi 
Mitrasari sendiri naik menjadi 74%. Skenario inipun dibantu oleh BHIT. Yang 
mutakhir, Soros melalui bendera Lazard Freres dan BHIT masuk dalam satu 
konsorsium merebut saham PT Astra International (ASII). Tidak mustahil, saham 
ASII milik Lazard akan dialihkan ke BHIT.

Sepak terjang Soros belum akan terhenti dengan membeli perusahaan otomotif 
terbesar di Indonesia. Ambisinya, akan merambah ke berbagai sektor terutama 
ritel dan keuangan. Ini bisa dimaklumi jika menyimak jejak intervensi Soros di 
pasar international. Sektor yang digemarinya dan sering diincar adalah sektor 
telekomunikasi, farmasi, ritel, teknologi dan pertambangan.

Beberapa perusahaan yang kabarnya tengah diincar Soros adalah Indosat (ISAT), 
Gudang Garam (GGRM), HM Sampoerna (HMSP), Telkom (TLKM), Matahari Putra Prima 
(MPPA), Ramayana Lestari Jaya (RALS), Hero Supermarket (HERO), Artha Graha 
Investama (TMPI), Metrodata Electronics (MTDL), Multipolar Corporation (MLPL), 
Clipan Finance (CFIN), Bank NISP (NISP) dan Bank Panin (PNBN).

Kerjasama BHIT dengan Soros itu ikut mempercantik kinerja keuangan BHIT. 
Sepanjang 1999 lalu, ia berhasil menggaet laba bersih Rp 80,9 miliar. Padahal 
targetnya cuma Rp 70,5 miliar. Dan kontribusi terbesar bersumber dari 
investment banking dan manajer investasi yang mencapai Rp 72,91 miliar. Rezeki 
ini terus mengalir pada tahun 2000. Selama kuartal pertama data non audit 
menunjukkan BHIT berhasil mengumpulkan laba sebelum pajak hingga Rp 93,29 
miliar, dengan kontribusi terbesar juga berasal dari kegiatan investsment 
banking.


Bhakti jadi Holding. Sampai kapan Soros membelanjakan uangnya di BEJ? Tidak ada 
informasi pasti untuk hal itu. Yang pasti sepak terjang Soros belum akan 
berakhir. Kabarnya Soros akan semakin aktif lagi. Informasi terbaru yang 
disampaikan seorang sumber PROSPEKTIF, Soros akan menjadikan Bhakti sebagai 
pintu gerbang untuk investasi yang dialirkannya ke Indonesia. Skenarionya: 
semua saham-saham yang dimiliki Soros akan dimasukkan ke BHIT, dan saham-saham 
yang akan dibeli Soros -dalam porsi besar- dilakukan melalui BHIT. 
Ujung-ujungnya BHIT akan dijadikan menjadi sebuah holding company yang selain 
akan memayungi perusahaan milik BHIT sendiri juga menjadi wadah 
perusahaan-perusahaan milik Soros di Indonesia. Sedangkan bisnisnya sebagai 
perusahaan sekuritas akan dialihkan ke anak perusahaan lain, persis yang pernah 
dimainkan oleh PT Lippo Securities yang memindahkan bisnis sekuritasnya ke anak 
perusahaan PT Ciptadana Sekuritas.

Masih menurut sumber tadi, untuk memuluskan skenario itu, BHIT akan membeli 
mayoritas saham sebuah perusahaan sekuritas. Disebut-sebut perusahaan sekuritas 
yang diincar itu adalah PT Agung Securities. Dengan mengalihkan usaha broker 
dealer ke Agung Securities, BHIT bisa berkosentrasi sebagai perusahaan 
investasi.

Benarkah informasi ini? Harry Tanoesoedibdjo, Dirut BHIT mengelak. ''Soros cuma 
menjadi pemegang saham minoritas, '' katanya. Harry benar, Soros sejauh ini 
memang baru memiliki 14 persen saham BHIT. Bagaimana nantinya ? ''Arah Bhakti 
Investama sepenuhnya tergantung keputusan pemegang saham. Dan sampai sekarang 
pemegang saham terbesar masih pendiri," jawab Harry diplomatis. Memang sejauh 
ini keluarga Bhakti melalui PT Bhakti Panjiwira masih menguasai 46,06% saham 
BHIT.

Toh meski Harry menampik, namun Kabiro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam Arys 
Ilyas mengaku telah menerima permintaan dari BHIT untuk mengalihkan usaha 
sekuritasnya. Tapi bukan ke Agung Securities, melainkan ke PT Bhakti Capital 
Indonesia (BCI), sebuah anak perusahaan yang baru dibentuk. ''Pengalihan ini 
sudah disetujui oleh pemegang sahamnya," ungkap Arys. Bahkan pengalihan 
keanggotaan (seat) BEJ akan dilakukan dalam pekan-pekan ini. Selanjutnya BHIT 
memang akan menjadi sebuah holding company.

Penjelasan Arys ini ternyata senada dengan informasi resmi yang dikeluarkan 
BHIT. Melalui siaran pers-nya, BHIT mengungkapkan bahwa pada tahun 2000 ini ia 
melalui BCI akan memperbesar kegiatan sekuritas, baik di bidang stock broking 
maupun financial advisory termasuk merger dan akuisisi serta kegiatan di bidang 
fixed income. Ia juga akan meningkatkan kegiatan PT Bhakti Asset Management & 
The Indonesias Recovery Company Limited (IRCL) dengan menerbitkan reksadana 
baru dan dicretionary account. Selain itu, BHITpun akan menjajaki 
peluang-peluang di bidang investsment banking dan melakukan investasi strategis 
di bidang multimedia dan consumer goods. Dengan rencana-rencana besar itu, 
dapat dipahami jika BHIT memang berniat menjadi sebuah holding company untuk 
memayungi berbagai investasi yang dilakukannya. 


Rencana untuk menjadikan BHIT sebagai holding, sebenarnya telah diungkapkan 
Harry akhir tahun lalu. Seperti yang ditulis Swa, BHIT akan memiliki empat anak 
perusahaan yang menjadi andalannya. Pertama BCI tadi yang memang akan 
difokuskan untuk menggarap stock broking, underwriting, financial advisory 
termasuk merger dan akuisisi serta kegiatan di bidang fixed income. Kedua, PT 
Bhakti Asset Management (BAM) yang mengurusi dana masyarakat yang digalang 
melalui reksadana (Big Nusantara, Big Palapa dan Big Jayakarta) serta menangani 
klien kakap yang terdiri dari investor institusi. Ketiga, IRCL yang mengelola 
dana dari klien asing, dan terakhir PT Andatafek yang dibelinya pada Juli tahun 
lalu.

BHIT rupanya akan membangun institusi bisnis di pasar modal secara integrated. 
Simak saja bagaimana, ia membeli Andatafek sebuah perusahaan biro administrasi 
efek, justru ketika jasa BAE hampir tidak dibutuhkan lagi karena BEJ akan 
menerapkan scripless trading?. Seorang analis menduga, pembelian itu bukan 
dimaksudkan untuk mencari keuntungan dari jasa BAE, tapi lebih dimaksudkan 
mencari peluang investasi. Dengan menguasai BAE, ia akan mudah melihat 
siapa-siapa yang menjadi pemegang saham emiten yang akan menjadi incarannya. 
''Negosiasi akan lebih mudah dilakukan," ujarnya.

Tanda-tanda Positif. Adakah yang salah jika BHIT menjadi holding yang juga 
memayungi saham perusahaan milik Soros? Tentu tidak. Cuma investor butuh 
kepastian apakah saham-saham yang akan dikuasai Soros nantinya memang akan 
dialihkan ke BHIT? Lantas bagaimana bentuk pengalihannya, pendanaannya dan 
sebagainya? Jika BHIT harus membeli saham-saham milik Soros, dari mana sumber 
duitnya? Karena BHIT perusahaan publik, rasanya tidak mungkin Soros atau 
pemegang saham pendiri sekalipun menyuntikkan modal secara cuma-cuma. Jika 
memang skenarionya begitu, menurut Irwan Darmawan, analis dari Ichiyosi 
Securities, satu-satunya pendanaan yang terbaik melalui rights issue. ''Kalau 
dana pinjaman, risikonya terlalu besar," katanya.

Lepas dari apakah BHIT nanti akan jadi gerbang atau tidak bagi investasi Soros 
di Indonesia, Arys Ilyas menyebut masuknya Soros di BEJ merupakan tanda-tanda 
positif bagi pasar modal. ''Itu artinya ia melihat di Indonesia banyak 
perusahaan yang baik," katanya. Pasar lebih aktif dan emiten memperoleh promosi 
gratis jika sahamnya disentuh Soros karena ketenaran Soros telah menjadi trade 
mark.

Analis Nomura Securities Goei Siaw Hong menilai jika benar skenario bahwa BHIT 
akan membeli saham-saham milik Soros, bukanlah sesuatu yang perlu dimasalahkan. 
''Sepanjang akuisisi dilakukan pada harga yang wajar, hal itu positif," tutur 
Goei. Dan jika saham yang dibelinya itu kemudian dimaintenance, maka nantinya 
nilai sahamnya akan naik. ''Ini akan memberikan nilai tambah baik untuk Bhakti 
sendiri maupun pemegang saham," ujarnya.

Ia memberikan contoh ketika Soros dan BHIT membeli saham PT Bentoel 
International. ''Bentoel dibeli dengan harga murah," paparnya. Dengan melakukan 
perubahan manajemen dan efisiensi, dalam jangka panjang Bentoel akan tumbuh 
sebagai perusahaan yang sehat dan prospeknya bagus. Begitu pula dengan 
saham-saham lain yang dibeli secara konsorsium antara BHIT dengan Soros. Tiga 
tahun ke depan, lanjut Goei, tidak menutup kemungkinan saham yang dibelinya 
akan naik tiga kali lipat.


Kalau benar Soros akan memasukkan sahamnya ke BHIT, bukan berarti Soros 
melakukan investasi jangka pendek. ''Itu merupakan strategi investasi, bukan 
dia beli untuk dijual lagi tiga bulan ke depan," katanya. Meski Soros dikenal 
sebagai spekulan kakap, tapi Goei tidak melihat bahaya di belakangnya. 
Sebaliknya, masuknya Soros ke beberapa emiten merupakan sinyal bagi investor 
lain bahwa investasi di Indonesia memiliki prospek yang bagus. 

Arys malah menduga, dengan semakin liberalnya pasar modal Indonesia dimana 
asing boleh membeli 100%, bisa jadi bukan cuma Soros yang tertarik ke 
Indonesia. Kasus Astra adalah sekedar contoh dimana banyak investor kakap luar 
negeri yang berebut masuk ke Indonesia. Jika ekonomi semakin baik, bukan 
mustahil teman-teman Soros lainnya semakin bernafsu belanja saham di BEJ.

Satu hal yang harus diwaspadai, kata Arys, prilaku investor lokal yang suka 
membuntuti investor asing. Pada saat asing masuk, saham akan naik karena 
investor lokal juga berebut ikut-ikutan beli, Sebaliknya, jika investor asing 
keluar, lokalpun terseret untuk keluar. Begitupun ketika Soros masuk akan 
membawa kenaikan harga saham sebuah emiten, demikian pula saat ia keluar. Saat 
Soros sudah merasa cukup menggali keuntungan di Indonesia, ia bisa dengan 
seenaknya pindah ke bursa lain yang harganya relatif murah. Jika demikian, 
adakah nama besar Soros akan berbalik menjadi ancaman saat ia memutuskan untuk 
keluar? Semoga tidak. 

Sumber: Prospektif /Adi Hidayat, Dedes Eka Rini, Evi Kurniawati, Rizal Bhakti, 
Yuniarti, Novitasari Yuningsih, Ign. Didit Setiadi, Mukti Rigowo

Mengukur Potensi Saham BHIT


Bhakti Investama berobsesi menjadi salah satu perusahaan keuangan non-bank 
terbesar di Indonesia. Mungkinkah? Bagaimana trend sahamnya ke depan? 


Rabu malam (12/4) PT Bhakti Investama (BHIT) mengeluarkan press realese. Isinya 
tentang kinerja keuangan konsolidasi selama tahun 1999. Rupanya, melalui 
realese yang cuma selembar itu, BHIT ingin pamer bahwa prestasinya sepanjang 
1999 cukup luar biasa. Laba bersihnya Rp 80,9 miliar, lebih tinggi dari 
perkiraan Rp 70,5 miliar. Dan laba bersih sebelum pajak untuk kuartal pertama 
tahun ini telah mencapai Rp 93,27 miliar.

Berita singkat ini tentu menyita perhatian. Meski ini sudah tentu sangat 
positif, karena publik bisa mengetahui lebih dini tentang perkembangan usaha 
yang dilakukan BHIT, tapi pengungkapan kinerja keuangan yang bisa dibilang 
cepat ini bukan satu kebiasaan bagi BHIT. Apalagi laporan keuangan resmi belum 
juga dipublikasikan (iklan, red). Ditambah lagi, informasi tadi juga telah 
menyebut hasil selama kuartal pertama 2000, yang baru 12 hari berakhir. Jika 
prilaku seperti ini menjadi budaya bagi semua emiten di BEJ, alangkah 
bahagianya investor, juga BEJ dan Bapepam. Investor tidak perlu menunggu 
terlalu lama melihat kinerja keuangan emiten, BEJ dan Bapepam tidak kehilangan 
waktu untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang perkembangan kinerja keuangan 
emiten.

Yang jadi pertanyaan mengapa BHIT me-realese kinerja keuangannya lebih cepat 
dari biasanya? Mungkinkah ia ingin menjadi pioner dan sekaligus contoh bagi 
emiten lain untuk menjunjung tinggi terhadap keterbukaan informasi? Ataukah ada 
maksud lain, misalnya untuk merangsang investor menubruk saham BHIT sehingga 
harga di pasar mengalami peningkatan? Entahlah. Yang jelas Harry Tanoesoedibjo, 
Dirut BHIT punya opsesi tampil sebagai salah satu perusahaan keuangan non-bank 
terbesar di Indonesia. 

Namun, jika disimak dari realese tadi memang menunjukkan bahwa BHIT yang kini 
14% sahamnya dimiliki George Soros, memiliki prestasi gemilang. Harry boleh 
bertepuk dada dengan rapotnya selama 1999 lalu. Bayangkan dari rugi pada 1988 
yang mencapai Rp 99,9 miliar, kini keuntungannya semakin menumpuk. Andai saja 
untuk tiga kuartal ke depan, prestasi ini bisa dipertahankan berarti laba 
sebelum pajak yang bakal diraih BHIT bisa mencapai Rp 372,8 miliar, angka yang 
tidak bisa dianggap enteng. 

Analis Nomura Securities, Goei Siaw Hong menilai andaikan saja BHIT memantapkan 
diri sebagai perusahaan investasi, termasuk membeli saham-saham yang kini 
tengah dikuasai Soros, hasilnya nanti akan lebih positif. Ia yakin saham-saham 
yang kini digenggam Soros untuk dua-tiga tahun ke depan harga berlipat ganda.

Harga saham BHIT sendiri kini berada di Rp 975, jauh lebih rendah dari 
posisinya setelah stock split Februari lalu dari nominal Rp 500 menjadi Rp 250. 
Saat itu harga saham sebelum split telah mencapai level Rp 2.325, dan ketika 
split menjadi Rp 1.150. Pada harga itu, BHIT memiliki PER lebih tinggi 
dibandingkan saham PT Lippo Securities dan PT Makindo. Tapi seorang pialang 
menyebut, dengan laba sebelum pajak kuartal pertama yang telah mencapai Rp 
93,27 miliar tadi, PER BHIT semakin merosot. "Dibandingkan saham Trimegah, 
saham BHIT masih lebih oke," katanya. Saham Trimegah Securities yang telah 
mencapai Rp 9.000 sudah sulit untuk bergerak.

Samiarto, seorang investor yakin, untuk tiga bulan ke depan saham BHIT akan 
mengalami pertumbuhan cukup signifikan. "Kalau balik ke Rp 1.150 sangat bisa," 
ungkapnya, yang mengaku telah membeli saham BHIT. Apalagi pada Juni atau Juli 
mendatang, perseroan berencana akan melakukan rights issue senilai Rp 200 
miliar. Secara tehnikal, agar sahamnya laku bisa saja harga saham BHIT didorong 
lebih tinggi, sehingga mengesankan penawaran saham baru dijual dengan harga 
premium. Tapi ada pemikiran lain, bisa saja manajemen apakah saham rights 
issue-nya nanti akan dibeli publik atau tidak. Sebab, koleganya, Soros sudah 
ancang-ancang untuk memborong. Nah, mungkinkah Soros akan memperbesar 
kepemilikannya melalui pembelian saham baru yang ditawarkan secara terbatas 
itu? Semuanya bisa terjadi.

Sumber: Prospektif /Evie Yulia Kurniawati  





  ----- Original Message ----- 
  From: H. Ruslim 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, May 20, 2007 8:59 PM
  Subject: [saham] Bhakti - group



  Dear all,

  ada yang tahu, Bhakti ini memiliki perusahaan apa saja ya ?
  Thank's sebelumnya

  rgds

  Harry

   

<<space.gif>>

Kirim email ke