Investasi dalam Dolar Anda mempunyai dana lebih dan berniat investasi dalam US$ secara mudah dan aman? Jika ya, Anda mempunyai tiga pilihan yaitu deposito/tabungan US$, obligasi US$, dan reksa dana pendapatan tetap US$. Investasi saham dan properti di luar negeri tidak bisa dibilang mudah dan investasi lain di luar pilihan di atas tidak memenuhi kriteria aman. Menurut data Bank Indonesia per April 2007, pilihan utama investor Indonesia adalah deposito US$ yang mencapai Rp191,4 triliun, diikuti tabungan US$ sebesar Rp4,2 triliun. Apa yang harus diperhatikan investor sebelum berinvestasi dalam US$ dan bagaimana menghitung return-nya? Berikut panduannya. Risiko nilai tukar Deposito US$ ditawarkan hampir semua bank devisa di Indonesia dengan suku bunga 2% - 4,75%. Sama seperti deposito rupiah, deposito US$ juga dijamin Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) dan bunganya kena pajak penghasilan 20%. Bedanya adalah suku bunganya. Suku bunga deposito US$ tidak mengacu pada SBI, tetapi pada rate Federal Reserve Bank Amerika Serikat (AS) atau Fed rate, yang besarnya 5,25% saat ini. Suku bunga SBI lebih tinggi karena inflasi di Indonesia lebih tinggi daripada di AS. Ini sesuai dengan Persamaan Fisher. Kalau rate-nya lebih rendah, apa dong menariknya deposito US$? Jawabannya adalah potensi penguatan atau apresiasi US$ terhadap rupiah. Menurut paritas daya beli, mata uang negara yang inflasinya lebih rendah akan mengalami apresiasi sebesar selisih tingkat inflasinya sehingga total return deposito US$ adalah suku bunga nominal plus apresiasi US$ terhadap rupiah. Maksudnya adalah jika inflasi di AS 3% dan di Indonesia 7% maka kemungkinan apresiasi US$ adalah 4%. Jika rate deposito US$ adalah 4,5% dan US$ mengalami apresiasi sebesar 4% selama periode deposito, misalnya, dari Rp9.000 menjadi Rp9.360, maka return menjadi 8,5%. Return inilah yang mestinya dibandingkan dengan suku bunga nominal deposito rupiah. Jika ternyata US$ tidak menguat tetapi melemah (depresiasi) sebesar 2%, katakan dari Rp9.000 menjadi Rp8.820, return yang diperoleh investor hanya sekitar 2,5% (4,5% - 2%). Karena return bisa lebih tinggi dan lebih rendah dari bunga nominal, kita mengatakan deposito US$ mengandung risiko nilai tukar yaitu risiko yang ditimbulkan dari perubahan kurs. Mereka yang mempunyai harta atau kewajiban dalam valuta asing termasuk deposito US$ harus memperhatikan risiko ini. Obligasi US$ Obligasi US$ berbunga lebih tinggi daripada deposito US$. Investor obligasi US$ dapat memperoleh bunga 5,5% p.a. untuk korporasi berperingkat AAA hingga 7% untuk korporasi berperingkat A. Selain risiko likuiditas, maturitas, dan default (lihat tulisan saya tentang risiko obligasi korporasi di harian ini, 11 Februari 2007), obligasi US$ juga mengandung risiko nilai tukar dan risiko harga. Jika Fed Rate turun, harga pasar obligasi US$ akan naik atau terjadi capital gain. Dan jika Fed Rate naik, akan ada capital loss. Ingat, harga pasar obligasi berbunga tetap adalah berbanding terbalik dengan suku bunga pasar. Karena itu, total return investasi dalam obligasi US$ adalah bunga obligasi plus/minus capital gain/loss plus/minus apresiasi/depresiasi US$. Sebagai ilustrasi, seorang investor pada 2007 membeli obligasi General Electric (GE) berbunga 5,5% pada harga 100 saat kurs Rp9.100/US$ dan Fed Rate 5,25%. Jika tahun depan Fed Rate turun menjadi 4% sehingga harga pasar obligasi GE naik menjadi 106, dan US$ mengalami apresiasi 5% menjadi Rp9.555, total return investor tersebut adalah 5,5% (bunga nominal) + 6% (capital gain) + 5% (apresiasi US$) atau 16,5%. Menarik bukan? Sayangnya, tidak seperti deposito US$, obligasi US$ ritel di Indonesia hanya ditawarkan beberapa bank asing terkemuka yang bertindak sebagai agen penjual. Sebuah bank asing itu, misalnya, menawarkan belasan obligasi korporasi AS berrating minimal A, untuk investor dengan dana minimal US$50.000. Obligasi yang direkomendasikan itu adalah GE, Goldman Sachs, JP Morgan, Morgan Stanley, Walmart, Hutchinson, dan lainnya. Pada saat yang sama, tidak kurang dari belasan korporasi Indonesia, untuk 2006 saja, menerbitkan obligasi US$ bernilai US$3 miliar lebih tetapi ditujukan untuk investor institusi seperti reksa dana. Reksa dana US$ Jika Anda kurang tertarik dengan deposito/tabungan US$ karena berbunga rendah tetapi dana Anda tidak cukup besar untuk membeli obligasi korporasi US$, Anda dapat memilih sekitar 10 reksa dana pendapatan tetap US$ yang ditawarkan perusahaan sekuritas Indonesia dengan nama Reksa Dollar, Melati Dollar, Mr Dollar, dan lainnya. Dana yang dihimpun reksa dana US$ itu akan ditanamkan dalam obligasi US$ yang dikeluarkan pemerintah/korporasi Indonesia dan luar negeri. Jadi, investasi dalam reksa dana pendapatan tetap US$ sebenarnya sama saja dengan investasi dalam obligasi US$ tetapi secara tidak langsung. Budi Frensidy Staf Pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan --------------------------------- Get your own web address. Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
