memang kontrak jangka panjang TAPI harganya mengikuti harga pasar yg cenderung 
NAIK, klo  ga tentu BUMI  ga mau dong...PTBA aja minta kenaikan harga TERUS sm 
PLN... si TATA sampai beli 30% buat menjamin pasokan ke Megaproyeknya di India, 
 krn China saja udah jd importir batubara padahal dia juga produsen 
terbesar,,,jd  di pasar lg ada shortage..ditambah di australia br ada masalah 
infrastruktur+badai, padahal dia juga eksportir terbesar 
hal lain Arutmin juga sudah menang tender (salah satu pemasok batubara 
terbesar) buat megaproyek PLTU 10.000MW yang harganya nanti akan berpatokan 
pada ICI, yg formulanya juga memasukkan harga minyak dunia

BUMI plg banyak  ekspor ke Jepang,,,, good newsnya pemerintah si JK akan 
mengurangi ekpor  LNG ke jepang krn akan fokus ke domestik krn domestik sendiri 
shortage+mengurangi subsidi BBM....pdhl klo jepang kekurangan gas berarti biaya 
listrik akan naik drastis so barang2 ekspornya akan mahal dan ga kompetitif, 
makanya si saudara tua ini menawarkan  iming2  seperti  EPA+insenttif lain  
agar  indonesia  TIDAK mengurangi jatah gasnya dan brani beli dengan harga 
premium +/- US$ 8 MMBTU (krn masih MURAH bila harus pakai batubara apalgi BBM) 
....besok bln agustus si PM Abe akan datang ke indonesia buat tandatangan,,,, 
untungnya si JK yg pedagang minta imbal beli yg lebih ga sekedar EPA, jepang 
butuh gas-indonesia butuh investasi....di atas kertas indonesia ga bisa 
memenuhi permintaan jepang kecuali ada eksplorasi gas baru besar2-an itupun 
butuh waktu lama hingga bisa benar2 produksi, contohnya PGAS yg delay terus 
:P,,, artinya si saudara tua mesti impor batubara lebih banyak, salah
 satunya ya ke BUMI :))
untungnya si BUMI ini dekat dengan laut dan sangat strategis menjangkau pasar 
ekspor: 
http://www.bumiresources.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10&Itemid=25

, punya pelabuhan tersendiri malah nganggkutnya hanya dg ban belt ...itu 
bedanya dg PTBA, yg masalah pengangkutan KA ga slesai2 dr dulu, mau nambah 
gerbong relnya bakal jebol, mau double track ga ada duit, mau lewat sungai 
pakai tongkang; airnya ga cukup, aplg KAI minta naik harga tiketnya :D...
PTBA itu 70% produksinya udah buat PLTU Suralaya yg harganya jauuuuuuuuuuuuh dr 
harga pasar batubara internasional, makanya dia ga terlalu nikmatin klo harga 
batubara naik,,ga heran dia mau akuisisi 10 pertambangan baru buat memenuhi 
pasar ekspor,,,,samalah kasusnya dengan CPO yg 90% buat ekspor, pada ngilerr 
dengan dollar :D

cuma si PTBA punya potensi di CBM (Coal Bed Methane) yg nantinya kerjasama dg 
PGAS,,,,INI yg bakal bikin PTBA+PGAS meledak harga sahamnya....tunggu aja 2 thn 
lagi, skrg sdg digodok peraturannya

oh ya BUMI akan bagi2 deviden lagi lho setelah kemarin selesai dibayar sm si 
tante TATA


k


On 7/9/07, oki_irawan < [EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
    iya bener sekali pak... BUMi emg berpotensi ke Rp 3.000,- cm yg saya
 khawatirkan para Bandar pasti tau akan hal ini dan pasti nurunin harga
 dulu buat nyari harga murah dulu buat di collect...
 
 best regrads
 
 newbie 

 
 --- In [email protected], Data Saham <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > good news buat penggemar BUMI..:)..
 > klo dr bandarnya si KZ ada di 3.100, agustus bulan depan kayanya dah
 tercapai ga usah nunggu 12 bulan ke depan...so buruan collect sebelum
 telat..
 >  
 > 
 > BUMI Berpotensi Menuju Level Rp. 3.000 
 > ---------------------------------
 >  
 >      Jumat, 6 Juli 2007 13:14:20
 >  StockWatch (Jakarta) - Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
 berpotensi naik dengan target di level Rp 3.000 untuk jangka pendek
 maupun panjang. Harga batu bara di pasar dunia masih relatif tinggi.
 > 
 > "Secara fundamental, kinerja kuartal pertama BUMI cukup solid,
 apalagi proses pembelian 30% saham KPC dan Arutmin oleh Tata sudah
 selesai, sehingga sudah ada cash yang masuk ke BUMI untuk bayar utang
 anak perusahaan dan melakukan ekspansi usaha,'' jelas analis PT Optima
 Investama Ikhsan Binarto.
 > 
 > Secara teknis, kata Ikhsan, potensi kenaikan saham Bumi Resources
 masih sangat besar. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator
 relative strength index (RSI) yang berada di area netral dan belum
 masuk dalam kisaran jenuh beli (overbought), sedangkan moving average
 (MA) 5 masih di atas MA 20. 
 > 
 > Selain itu, tambah Ikhsan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
 oleh Pertamina dan proyeksi naiknya harga batu bara yang masih
 berlanjut di pasar dunia, apalagi harga minyak dunia sudah mencapai
 level US$ 70/barrel diprediksi turut memberikan sentimen positif.
 "Kondisi itu memberi sentimen positif bagi industri untuk mencari
 alternatif energi lainnya, yaitu batu bara agar biaya dari dampak BBM
 bisa berkurang. Akhirnya, permintaan batu bara bertambah sehingga
 harganya diprediksi terus naik,'' jelas Ikhsan.
 > 
 > Dalam kesempatan terpisah, kepala Riset PT Reliance Securities
 Pardomuan Sihombing mengatakan, saham berkode BUMI tersebut berpoteni
 menguat untuk jangka pendek dan panjang. "Diproyeksikan tahun 2007,
 terjadi peningkatan volume produksi terkait dengan kenaikan harga batu
 bara di pasar dunia, ditambah lagi rencana placement KPC menjual 30%
 saham ke Tata,'' jelas Pardomuan. (esta)
 > 
 >        
 > ---------------------------------
 > Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're
 surfing.
 >
 
 

     
               
        



 
     
                       

       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

Kirim email ke