Gejolak pasar keuangan & implikasinya    
   Cetak 
  Performa pasar keuangan Indonesia dibayangi oleh potensi pengetatan 
likuiditas di Amerika Serikat. Namun, sumber likuiditas lain di dunia masih 
banyak. Gejolak terakhir tidak akan banyak berpengaruh terhadap kegiatan 
ekonomi di sektor riil.

Semua biasanya kembali seperti sediakala. Sebut saja koreksi nilai indeks harga 
saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta sebesar 8% pada Januari 2007, yang 
terjadi setelah Pemerintah Thailand memberlakukan kendali arus modal. Atau 
kejatuhan IHSG sebesar 6% pada Mei 2006, yang terjadi karena perubahan sentimen 
sementara. 

Berbagai episode koreksi di pasar modal beberapa tahun belakangan ini biasanya 
tidak bertahan lama. Koreksi biasa-nya diawali oleh IHSG yang naik terlalu 
cepat, diikuti dengan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap berita buruk. 
Pemicu koreksi itu bermacam-macam, tetapi tidak lama kemudian indeks harga 
saham selalu melesat lagi, bagaikan tidak pernah terjadi apa-apa. 

Beberapa hari lalu, setelah mencapai rekor tertinggi 2.400, IHSG merosot hingga 
5,5% dalam seminggu bersamaan dengan indeks harga saham di hampir semua di Asia 
dan Amerika Serikat.� Di pasar obligasi pun, harga surat berharga negara 
(SBN) turun hingga 2%. 

Apa beda koreksi saat ini dibandingkan dengan koreksi-koreksi sebelumnya? 
Koreksi kali ini memang terlihat disebabkan oleh faktor-faktor yang lebih 
struktural ketimbang sebelumnya. 

Sebagaimana banyak diberitakan, koreksi terjadi menyusul kolaps pada pasar 
surat berharga hasil sekuritisasi kredit pemilikan rumah (KPR) di AS, yang 
dikenal dengan pasar mortgage backed securities (MBS). Hal ini diakibatkan oleh 
penurunan harga rumah secara meluas yang berujung pada tergerusnya nilai agunan 
KPR tersebut. 

Median harga rumah di AS memang sudah jatuh sekitar 15% sejak posisi 
tertingginya tahun lalu. Posisi ini merupakan penurunan paling dramatis sejak 
tahun 1930-an.� 

Yang juga membedakan koreksi kali ini dengan yang sebelumnya adalah potensi 
efek berantai. Akibat hancurnya pasar MBS, sejumlah bank di AS dihadapkan pada 
peningkatan risiko gagal bayar pinjaman, terutama dari para hedge fund yang 
meminjam dana untuk dipakai membeli MBS tersebut. 

Neraca perbankan AS pun kini dibayangi oleh prospek terbebani KPR yang tidak 
bisa dijual. Masalahnya bertambah runyam, karena sebagian nasabah KPR merupakan 
kreditur dengan kemampuan membayar yang rendah (subprime). Terlebih lagi, 
tingkat kredit macet untuk KPR di negeri Paman Sam itu dalam tren menanjak. 

Tingkat penyitaan rumah dari KPR dengan suku bunga mengambang sudah mencapai 
3%. Padahal, dua tahun lalu tingkat penyitaan itu masih di kisaran 1%.� 

Imbas regional

Kemampuan dan kemauan perbankan di AS untuk memberikan kredit memang bisa 
berpengaruh signifikan, bukan hanya terhadap ekonomi dan pasar keuangan negara 
itu, melainkan juga untuk pasar keuangan di seluruh penjuru dunia, termasuk 
Indonesia. 

Kredit perbankan berperan penting bagi pembiayaan hedge fund dan perusahaan 
leveraged buyout. Kedua jenis perusahaan ini ikut berpartisipasi dalam kenaikan 
harga berbagai aset dan surat berharga di AS dan Asia selama beberapa tahun 
belakangan ini. 

Berdasarkan satu studi yang dipublikasikan bank sentral Eropa pada akhir 2005, 
setengah dari hedge fund yang fokus di negara berkembang mempergunakan dana 
pinjaman, yang diperoleh dari perusahaan pialang dan perbankan. Indikasi kasar 
dari eksposur perbankan internasional terhadap hedge fund secara keseluruhan 
disebut-sebut melewati angka US$800 miliar pada 2004. Jumlah ini setara dengan 
15 kali jumlah cadangan devisa Indonesia saat ini!� 

Dengan demikian, konsekuensi pengetatan likuiditas (liquidity crunch)� 
di AS bisa terasa. Apalagi� ditambah risiko rembetan ke bank-bank di 
negara lain yang juga mempunyai eksposur, baik langsung maupun tidak langsung, 
terhadap MBS. 

Seberapa besarkah pengaruh hedge fund di pasar keuangan Indonesia? Tidak ada 
yang mengetahuinya secara persis. 

Namun, kita tetap tidak bisa memungkiri bahwa pemodal asing, termasuk hedge 
fund, telah berperan signifikan dalam� mendorong kenaikan harga surat 
berharga domestik. Sebagai gambaran, di pasar obligasi saja, investor asing 
selama tahun ini merupakan pembeli terbesar SBN. Total pembelian neto pemodal 
asing di pasar SBN hampir tiga kali jumlah pembelian investor lokal!� 

Belum kiamat

Jadi, apakah ke depan pasar keuangan Indonesia akan stagnan? Saat ini, 
kelihatannya memang lebih sulit untuk berharap terjadi lagi kenaikan dramatis 
seperti beberapa tahun belakangan ini. Namun, pasar belum akan kehabisan 
peluru. 

Satu tumpuan yang diharapkan bisa mengimbangi efek dari liquidity crunch di AS 
adalah likuiditas global sektor publik. Walaupun liquidity crunch benar-benar 
terjadi, likuiditas global tidak akan sepenuhnya mengering. Hal ini karena 
masih banyak dana dari cadangan devisa bank sentral negara-negara besar-seperti 
Cina, Jepang, dan negara-negara Arab pengekspor minyak-yang dialokasikan untuk 
investasi di pasar negara-negara berkembang. 

Tidak ada yang mengetahui angkanya secara� persis. Namun, dari sekitar 
US$5 triliun total cadangan devisa dunia, IMF Global Financial Stability Report 
2007 mengestimasikan bahwa kekayaan negara yang dikelola secara agresif 
mencapai US$1,4 triliun! Jumlah ini masih terus naik secara cepat sejalan 
dengan surplus neraca perdagangan yang dialami masing-masing negara.

Apakah Indonesia masih akan tetap terlihat di layar radar para investor global? 
Jawabannya, ya. 

Kondisi fundamental makroekonomi Indonesia tidak terpengaruh secara dramatis 
oleh ketidakstabilan pasar belakangan ini. Implikasinya tentu ada. 

Depresiasi rupiah dalam kisaran 3%-5% sejak Mei 2007 mungkin bisa menaikkan 
harga barang-barang impor, namun tidak dalam kadar yang membahayakan. Begitu 
juga dengan kenaikan imbal hasil obligasi, pemerintah dihadapkan pada biaya 
utang yang lebih besar, tetapi dalam kisaran yang masih sangat wajar.� 

Bila dilihat dari sisi positifnya, berkurangnya keaktifan hedge fund� ke 
depan malah mungkin bisa mengurangi volatilitas pasar dan mempermudah 
perencanaan pembiayaan sektor publik dan swasta. Koreksi yang lebih tajam lagi 
di masa mendatang, akibat gelembung harga instrumen keuangan, malah mungkin 
bisa terhindari.

Koreksi yang terjadi minggu lalu adalah konsekuensi dari terintegrasinya pasar 
keuangan dunia saat ini. Tidak banyak yang bisa kita perbuat, selain 
mengalokasikan investasi berdasarkan aspek-aspek fundamental dalam negeri, yang 
dalam hal ini tidak banyak berubah. 

Namun, perkembangan tarik ulur kekuatan-kekuatan keuangan dunia ke 
depan� akan menarik dan perlu dicermati.

Oleh Helmi Arman
Ekonom Bahana Securities


       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

Kirim email ke