Bank Indonesia Disarankan Menahan Tingkat Suku Bunga
Jakarta, Kompas - Meskipun ruang penurunan masih ada, bank sentral disarankan menjaga suku bunga acuan atau BI Rate tetap pada level 8,25 persen. Di tengah gejolak pasar keuangan global, penurunan BI Rate berpotensi memicu pelarian dana jangka pendek yang lebih besar dari Indonesia. Peringatan itu dikemukakan Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, Kepala Ekonom Bank Mandiri Martin Panggabean, dan pengamat moneter Iman Sugema akhir pekan lalu di Jakarta. Hari Selasa (7/8), Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia akan menentukan BI Rate. Sejak pertengahan 2006, suku bunga di Indonesia cenderung menurun dan diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun 2007. Tony menyarankan BI untuk sementara sebaiknya tidak melanjutkan penurunan BI Rate karena kondisi keuangan global masih belum stabil. "Pada penetapan BI Rate berikutnya, BI mungkin baru bisa melanjutkan penurunan," kata Tony. Penurunan BI Rate bisa dilanjutkan dengan mempertimbangkan faktor di dalam dan luar negeri. Misalnya, perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global, terutama Amerika Serikat (AS). Martin juga menyarankan hal serupa. Kondisi pasar keuangan yang sedang bergejolak saat ini menyebabkan investor jangka pendek merumuskan kembali tempat yang layak untuk menanamkan dananya. Dalam situasi seperti ini, investor akan sangat sensitif terhadap faktor yang bisa memengaruhi imbal hasil dan tingkat risiko investasinya. "Investor memerlukan pegangan saat ini. Jika BI Rate tetap di level 8,25 persen, investor kemungkinan akan bertahan dan tidak memindahkan dananya ke luar negeri. Soalnya, imbal hasil yang mereka peroleh masih relatif besar," kata Martin. Seperti diberitakan, dipicu kerugian sejumlah bank dan manajer investasi akibat kredit macet sektor perumahan di AS, pasar saham New York anjlok, menyeret bursa saham sedunia, termasuk Indonesia. Selain pasar saham, pasar valuta di Indonesia juga bergejolak, ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Pasar saham dan uang Indonesia terpengaruh karena investor yang menanamkan dananya juga merupakan bagian dari institusi global yang umumnya langsung bereaksi terhadap gejolak perekonomian dunia. Menurut Martin, jika BI Rate kembali diturunkan, imbal hasil di pasar uang akan menurun. Harga obligasi dan saham domestik juga akan jatuh. Ini tentu akan membuat investor melepas aset rupiah untuk dialihkan ke aset-aset berdenominasi dollar AS. Akibatnya, rupiah akan semakin melemah. Mulai lepas Beberapa indikator menunjukkan investor asing mulai melepas aset rupiah. Salah satunya terlihat dari penurunan porsi asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 14 persen pada pekan kedua Juli 2007 menjadi 12,8 persen pada pekan ketiga Juli 2007. Martin juga mengatakan, langkah untuk menahan suku bunga semakin kuat jika melihat inflasi bulan Juli 2007 yang mencapai 0,72 persen, lebih besar dari ekspektasi pasar. Inflasi yang meroket juga terjadi di sejumlah negara sehingga suku bunga di negara bersangkutan berpotensi naik. Suku bunga di Eropa, yang juga merupakan pasar keuangan berpengaruh di dunia kemungkinan segera naik untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi. Sementara Iman Sugema mengatakan, saat ini terjadi kecenderungan penarikan dana (capital outflow) secara bersamaan dari pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia. "Aliran dana keluar yang terjadi memang masih belum berbahaya dan masih bisa ditutupi surplus perdagangan. Namun, BI tampaknya tidak akan menurunkan suku bunga karena khawatir akan memicu sentimen negatif dari pelaku pasar dan memperparah hengkangnya dana asing," kata Iman. (FAJ) -- Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
