Senin, 17/09/2007
Harga batu bara diprediksi naik 22%
Cetak
JAKARTA: Sejumlah perusahaan sekuritas dan perbankan di Australia menaikkan
prediksi harga batu bara untuk tahun depan. Goldman Sachs menyatakan harga
dapat meningkat hingga 22% menjadi US$68 per ton.
Peningkatan proyeksi harga batu bara global itu dilakukan, setelah Korea
Selatan memborong lebih awal komoditas ini untuk persediaan selama tujuh bulan
guna mengantisipasi kekurangan pasokan di dalam negeri.
Goldman mencatat sektor industri Korsel telah memesan batu bara untuk rencana
pembelian kuartal I/2008 dari Australia seharga US$66 per ton, sebelum
dimulainya kontrak pengiriman 1 April 2008.���
Perusahaan sekuritas ini mencatat harga batu bara Asia sempat mencapai rekor
tertingginya dalam dua tahun di level US$56 per ton setelah China menjadi
pengimpor bersih (net importer) untuk pertama kalinya pada April
2007.�������������������������������������������������
Analis Goldman Sachs, Malcolm Southwood dan Paul Gray, seperti dikutip
Bloomberg mengatakan pasar batu bara Asia Pasifik akan semakin ketat dimulai
dalam beberapa bulan ke depan.
Harga komoditas itu dapat bertengger pada kisaran US$66-US$68 per ton, dipicu
tambahan permintaan dari sektor industri Jepang.
Produsen energi di Korsel sepakat membeli 5 juta ton batu bara dalam
kontraknya untuk tahun depan di level harga lebih tinggi dari harga pasar spot
di Pelabuhan Newcastle Australia, pelabuhan pengekspor komoditas terbesar dunia.
Kekurangan pasok
UBS Investment Research memprediksi pasar batu bara untuk energi pembangkit di
Asia Pasifik termasuk Australia dan Selandia Baru akan berubah dari yang
awalnya surplus 25 juta ton pada 2006 menjadi kekurangan pasok hingga 103 juta
ton pada 2020.
Kekurangan itu setara dengan 70% ekspor batu bara Indonesia pada 2006,
eksporter komoditas terbesar dunia.
Head of Asian Utilities Research UBS, Stephen Oldfiled melalui siaran persnya
yang diterima Bisnis, belum lama ini mengatakan permintaan batu bara global
akan melebihi pasokan dalam 13 tahun ke depan.
Hal ini dipicu bertambahnya permintaan dari China, sehingga akan memicu
terjadi kekurangan pasokan global hingga 229 juta ton pada 2020.�
Oleh Berliana Elisabeth S.
Bisnis Indonesia
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us.