Gonjang-ganjing gagal bayarnya KPR di AS menyeret FED, Bank Sentral 
AS, untuk menurunkan sukubunga 50 basis point ke 4,75%. Impact-nya 
memang terasa dengan meloncatnya index Dow sebesar 335,97 poin atau 
2,51% tentunya akan menular ke index lain termasuk IHSG yang 
diprediksi akan kembali menyentuh 2400-an. End of Story? Happy 
Ending? Tunggu dulu kita masih lihat kedepan apakah Lehman Brothers, 
Merrill Lynch, Bear Stearns bisa lolos dari krisis kredit macet. 
Indikator lain mungkin bank-bank di AS dan Eropa seperti Northern 
Rock PLC yang kemarin terkena rush.

Lalu bagaimana dengan negeri sendiri yang baru bisa menggeliat 
setelah krisis 1997. Menurut beberapa pengamat fundamental ekonomi 
baik, cadangan devisa mencapai 51,5 milyar dollar tertinggi 
sepanjang masa, pertumbuhan ekonomi diatas 5%. Tetapi saat krisis 
KPR AS mulai tercium IHSG langsung drop paling dalam dari index lain 
dan saat apresiasi terdongkrak paling tinggi, artinya:
1.      Fundamental belum kuat.Pasar Saham terlihat bagus karena Hot 
Fund yang dengan mudah datang dan pergi. Aslinya sektor riil kita 
jalan ditempat.
2.      Cadangan devisa ternyata masih dibawah Malaysia ($73 milyar) 
dan Thailand ($60milyar) yang terbilang jauh lebih kecil dari 
Indonesia baik luas maupun penduduknya. Jadi cadangan devisa per 
kepala (cadangan devisa dibagi jumlah penduduk) Indonesia, $ 205 per 
kepala bandingkan dengan Malaysia yang $ 2.704.
3.      Surplus perdagangan bukan karena perbaikan kinerja tapi 
lebih karena kenaikan beberapa komoditi seperti, minyak bumi, CPO, 
Karet. Lalu pertumbuhan 5% itu hanya kebetulan tertolong harga 
komoditi yang naik.

Kalo kita flashback ke belakang, tahun 1987 KPR di AS crash saat itu 
pemerintah mendevaluasi rupiah dari Rp 1000 per 1 USD ke Rp. 1600. 
Sepuluh tahun kemudian 1997 krisis ekonomi, Rupiah terdepresiasi 
sampai Rp. 15.000 per 1USD. Sepuluh tahun kemudian 2007 KPR SubPrime 
di AS macet, apakah akan men-drive Krisis Ekonomi Jilid II?

Ada kondisi yang sama antara 1997 dan 2007:
1.      Hot Fund kembali ke negaranya.
2.      Beberapa bahan pokok naik harganya signifikan seperti, 
minyak goreng, minyak tanah, telur, beras.
3.      Pengembang jor-joran membangun apartemen dan rumah sampai 
kelebihan supply dari demand. Saya lihat di Metro-TV dengan Rp. 
200jt sudah dapat memiliki apartemen mewah di Senayan.
4.      Suku bunga rendah, bank menggelontorkan kredit konsumtif 
(KPR, KTA, KKB, kartu kredit) besar-besaran. Sedangkan rasio kredit 
bermasalah (NPL/Non-Performing Loan) untuk kredit konsumtif 
meningkat.

Jangan heran apabila beberapa bulan kedepan akan ada pengembang 
properti yang terjungkal atau bank yang memberi pinjaman ke sector 
properti megap-megap. Bubble ekonomi ini akan segera meletus tinggal 
tunggu jarumnya aja.


ALL-IN-1,
Jos Martino
Individual Trader




Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke