Ulasan dari sdr jos patut direnungkan sesudah eforia ssekarang ini. Memang
saham2 sedang booming karena the fed. Tetapi apa bisa terus seperti ini
selamanya ? tentu tidak. Sudah waktunya jangan gegabah. slow but sure, pruden
and still make money. apapun ada batasnya. cukuplah bila sudah cukup.
tetap cccuannn. yes !
To: [email protected]
From: "jos_martino" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 19 Sep 2007 09:54:13 -0000
Subject: [saham] Awal Krisis Ekonomi jilid II ?
Gonjang-ganjing gagal bayarnya KPR di AS menyeret FED, Bank Sentral
AS, untuk menurunkan sukubunga 50 basis point ke 4,75%. Impact-nya
memang terasa dengan meloncatnya index Dow sebesar 335,97 poin atau
2,51% tentunya akan menular ke index lain termasuk IHSG yang
diprediksi akan kembali menyentuh 2400-an. End of Story? Happy
Ending? Tunggu dulu kita masih lihat kedepan apakah Lehman Brothers,
Merrill Lynch, Bear Stearns bisa lolos dari krisis kredit macet.
Indikator lain mungkin bank-bank di AS dan Eropa seperti Northern
Rock PLC yang kemarin terkena rush.
Lalu bagaimana dengan negeri sendiri yang baru bisa menggeliat
setelah krisis 1997. Menurut beberapa pengamat fundamental ekonomi
baik, cadangan devisa mencapai 51,5 milyar dollar tertinggi
sepanjang masa, pertumbuhan ekonomi diatas 5%. Tetapi saat krisis
KPR AS mulai tercium IHSG langsung drop paling dalam dari index lain
dan saat apresiasi terdongkrak paling tinggi, artinya:
1. Fundamental belum kuat.Pasar Saham terlihat bagus karena Hot
Fund yang dengan mudah datang dan pergi. Aslinya sektor riil kita
jalan ditempat.
2. Cadangan devisa ternyata masih dibawah Malaysia ($73 milyar)
dan Thailand ($60milyar) yang terbilang jauh lebih kecil dari
Indonesia baik luas maupun penduduknya. Jadi cadangan devisa per
kepala (cadangan devisa dibagi jumlah penduduk) Indonesia, $ 205 per
kepala bandingkan dengan Malaysia yang $ 2.704.
3. Surplus perdagangan bukan karena perbaikan kinerja tapi
lebih karena kenaikan beberapa komoditi seperti, minyak bumi, CPO,
Karet. Lalu pertumbuhan 5% itu hanya kebetulan tertolong harga
komoditi yang naik.
Kalo kita flashback ke belakang, tahun 1987 KPR di AS crash saat itu
pemerintah mendevaluasi rupiah dari Rp 1000 per 1 USD ke Rp. 1600.
Sepuluh tahun kemudian 1997 krisis ekonomi, Rupiah terdepresiasi
sampai Rp. 15.000 per 1USD. Sepuluh tahun kemudian 2007 KPR SubPrime
di AS macet, apakah akan men-drive Krisis Ekonomi Jilid II?
Ada kondisi yang sama antara 1997 dan 2007:
1. Hot Fund kembali ke negaranya.
2. Beberapa bahan pokok naik harganya signifikan seperti,
minyak goreng, minyak tanah, telur, beras.
3. Pengembang jor-joran membangun apartemen dan rumah sampai
kelebihan supply dari demand. Saya lihat di Metro-TV dengan Rp.
200jt sudah dapat memiliki apartemen mewah di Senayan.
4. Suku bunga rendah, bank menggelontorkan kredit konsumtif
(KPR, KTA, KKB, kartu kredit) besar-besaran. Sedangkan rasio kredit
bermasalah (NPL/Non-Performing Loan) untuk kredit konsumtif
meningkat.
Jangan heran apabila beberapa bulan kedepan akan ada pengembang
properti yang terjungkal atau bank yang memberi pinjaman ke sector
properti megap-megap. Bubble ekonomi ini akan segera meletus tinggal
tunggu jarumnya aja.
ALL-IN-1,
Jos Martino
Individual Trader
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com