SUARA PEMBARUAN DAILY
---------------------------------
BBM Naik
Industri Logam dan Tekstil Terpukul [JAKARTA] Kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) industri sebesar 5-6 persen per 1 Oktober 2007 memukul industri
tekstil dan logam. Kenaikan ini berdampak pada kenaikan biaya (cost) energi
dalam proses industri tekstil dan logam. Pada industri tekstil kenaikan biaya
produksi diperkirakan mencapai 0,5-1 persen, sedangkan industri logam mencapai
1-2 persen.Demikian dikatakan Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka
(ILMTA) Departemen Perindustrian Ansari Bukhari, kepada SP, di sela-sela acara
buka puasa, di Jakarta, Kamis (27/9).
"Industri tekstil dan logam merupakan industri yang paling banyak
mengkonsumsi energi. Sebab, untuk dua industri tersebut energi merupakan
komponen terbesar dan menjadi faktor krusial yang sangat signifikan. Jadi bila
ada kenaikan BBM industri, dua kelompok tersebut yang semakin tertekan," ujar
Ansari.
Saat ini biaya energi pada industri tekstil sebesar 11-16 persen dari biaya
produksi, sementara untuk industri logam, besi baja, dan peleburan baja biaya
energi mencapai 20 persen. Dikatakan Ansari, khusus untuk industri tekstil
kenaikan BBM industri akan terasa di sektor hulu yakni industri serat, benang
dan kain. Sementara untuk industri garmen kenaikan BBM industri tidak terlalu
berdampak, karena bahan bakar yang digunakan adalah listrik bukan solar.
"Kenaikan BBM akan berdampak pada industri yang memakai bahan bakar energi
dan solar. Untuk industri yang memakai listrik masih berada di garis aman,
seperti industri alas kaki dan permesinan. Struktur pemakaian energi di dua
industri tersebut tidak terlalu besar," papar Ansari.
Ditambahkan Ansari, kebanyakan dari industri tekstil dan logam masih
konsisten menggunakan bahan bakar solar. Sementara harga solar saat ini sudah
mencapai Rp 6.200 per liter. Cara yang ditempuh untuk menekan biaya energi
tinggi dalam produksi tekstil dan logam, yakni dengan meningkatkan ekspor ke
luar negeri. Saat ini, total ekspor industri tekstil sebesar 70 persen dan
industri logam 10 persen.
"Bila BBM industri naik, otomatis harga produk ikut naik. Sayangnya kenaikan
harga tidak diikuti dengan peningkatan daya beli. Bagi industri logam dan
tekstil yang pangsa pasarnya masih di dalam negeri, kenaikan BBM terasa sekali.
Untuk itu, pemerintah meminta produsen gencar melakukan ekspor agar biaya
energi untuk produksi terbantu," tambah Ansari.
Ganti Solar
Sementara itu, Direktur Industri Logam Direktorat ILMTA I Gusti Putu
Suryawirawan, mengatakan upaya yang harus dilakukan masing-masing industri
untuk menekan kenaikan harga yakni dengan mengganti bahan bakar solar menjadi
listrik. Sebab, saat ini bahan bakar listrik yang masih berada di posisi aman
dari kenaikan.
"Para produsen mulai mencari cara yang lebih efisien untuk menekan biaya
energi produksi. Apalagi kenaikan BBM industri tidak bisa dihindari lagi.Solar
hanya dijadikan bahan bakar cadangan saja, sementara bahan bakar utamanya
listrik," papar I Gusti Putu. [EAS/M-6]
---------------------------------
Last modified: 28/9/07
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com