MS kan baru satu, gimana pendapat big houses yang lain kan belum tentu sama ... kalau semua berpikiran sama ya bakal gak ada transaksi dung yau ..
2013/7/6 T Jayamudita <[email protected]> > ** > > > ** > Friday, July 05, 2013 16:41 WIB Riset Morgan Stanley Tak Akan > Terlalu Berdampak: BEI > *Ipotnews *- Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai riset Morgan > Stanley tentang pasar modal Indonesia tidak akan terlalu berdampak terhadap > kinerja pasar modal Indonesia. BEI yakin industri pasar modal Indonesia > masih dapat tumbuh seiring dengan kinerja emiten yang terus melakukan > ekspansi usaha. > > Demikian dikatakan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul > Hidayat, Jumat (5/7). Ia menambahkan bahwa setiap investor pasti telah > memiliki perspektif investasi sendiri sehingga dampak dari proyeksi > tersebut tidak akan terlalu berdampak signifikan. > > "Emiten yang terus melakukan ekspansi menandakan pertumbuhan ekonomi yang > masih positif. Minat perusahaan untuk memperoleh pendanaan dari pasar modal > juga masih tetap tinggi," tambah Samsul, Jumat (5/7). > > Sebelumnya Kepala Morgan Stanley (MS) yang berbasis di New York, Jonathan > Garner, memberikan gambaran bahwa pasar modal Indonesia bukan lagi tempat > yang nyaman bagi investor untuk berinvestasi. Pasar ekuitas Indonesia > diturunkan menjadi underweight (jenuh jual) dari equalweight (normal). > > "Pasar saham Indonesia merupakan yang paling rentan di Asia Tenggara untuk > pelarian modal di tengah valuasi mahal dan saham besar oleh investor > asing," ujar Garner, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/7). > > Oleh Morgan Stanley, IHSG juga divaluasi aktiva bersihnya sebesar 2,8 kali > aktiva bersih. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi di antara 17 > pergerakan ekuitas Asia, bahkan setelah mengalami pelemahan 11% dari level > tertingginya di 20 Mei 2013. "Indonesia masih merupakan negara yang relatif > kelebihan kepemilikan (overowned)," tulis Garner dan koleganya di Hong > Kong, Yang Bai dan Pankaj Mataney. > > *Tingkat Utang Rendah* > > Dari sisi makro ekonomi, Global Research Bank of America Merril-Lynch, > Andrew Peck, dalam risetnya mengatakan dari sisi rasio tingkat utang, > Indonesia dan Filipina paling baik dibandingkan negara di kawasan Asia > lainnya. Korea, China dan Malaysia adalah negara dengan rasio tingkat utang > yang paling mengkhawatirkan. > > "Tingkat utang Indonesia dan Filipina belum mengalami peningkatan secara > drastis dalam beberapa tahun terakhir meskipun pertumbuhan produk domestik > bruto-nya naik cukup signfikan. Saat ini (kuartal pertama 2013), Indonesia > merupakan negara dengan rasio utang publik terendah di Asia setelah > Hongkong, yakni hanya sekitar 23% dari PDB," jelas Peck, seperti dikutip > dalam risetnya, Jumat (5/7). > > Padahal jika melihat di kuartal kedua 1997, sebelum krisis moneter > terjadi, rasio utang publik Indonesia sebesar 71,8% dan di kuartal keempat > 2007 sebesar 33,1%. Tingkat utang surat utang pemerintah Indonesia dalam > denominasi mata uang asing di kuartal pertama 2013 juga tercatat cukup > rendah di level 14,1% terhadap PDB dibandingkan di kuartal kedua 1997 di > level 26,3% dan kuartal keempat 2007 sebesar 18,7% terhadap PDB. > > "Kedua negara (Indonesia dan Filipina) memang mengalami pertumbuhan utang > yang cepat dalam beberapa tahun terakhir, namun sebagian besar berasal dari > tingkat utang dengan basis bunga utang yang rendah. Kredit dalam negeri > Indonesia hanya sekitar 33% dari PDB dan di Filipina hanya 39 dari PDB," > papar Peck. > > Untuk sementara, lanjut Peck, rasio tingkat utang tersebut memang tidak > mewakili risiko sistemik terjadinya krisis di suatu negara. Namun hal > tersebut dapat tumbuh menjadi tidak stabil jika pemerintah dan bank sentral > di negara-negara di Asia mengacuhkannya. "Kami berharap tindakan > makroprudensial yang tepat dapat dilakukan oleh pemerintah dan bank sentral > di Korea, China, Malaysia dan Thailand. Sedangkan Indonesia dan Filipina > terhindar dari risiko tersebut," imbuh dia.*(Rheza/ha)* > > >
