Angka Merah Laporan Ekonomi Isyaratkan Resesi AS   
18/02/2008 22:50:54 WIB
Oleh Dian Agustina
 
WASHINGTON, Investor Daily 
'Angka merah' dalam rangkaian laporan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah 
Amerika Serikat (AS) dan sejumlah institusi negara itu, Sabtu (16/2) waktu 
setempat, menunjukkan bahwa negara itu tengah di ambang resesi.
 
Tingkat kepercayaan konsumen AS anjlok ke rekor terendah selama 16 tahun pada 
Februari. Menurut survei Reuters/University of Michigan, indeks sentimen 
konsumen di negara itu merosot menjadi 69,6 pada Februari dari 78,4 pada 
Januari.
 
Indeks tersebut adalah yang terendah sejak AS dilanda resesi pada Februari 
1992. "Indeks sentimen pernah serendah itu selama resesi pada pertengahan 
1970-an, awal 1980-an, dan awal 1990-an," jelas Richard Curtin, direktur 
survei, seperti dikutip Reuters.
 
Temuan itu terungkap selang beberapa hari setelah Gubernur Federal Reserve Ben 
Bernanke memperingatkan bahwa outlook ekonomi 2008 AS memburuk.
 
The Fed memangkas suku bunganya hingga dua kali pada Januari untuk mendongkrak 
sentimen konsumen dan ekonomi secara keseluruhan. Kedua sektor itu melesu 
akibat tumbangnya pasar perumahan AS.
 
Kecemasan publik AS tentang kekuatan ekonomi negara ditambah data-data tentang 
bubble harga, mempertegas skenario terjadinya stagflasi, yakni melesunya 
pertumbuhan dan terjadinya lonjakan inflasi. 
 
Mengerikan
 
Kepala Ekonom AS pada High Frequency Economics Ian Shepherdson mengatakan, data 
sentimen konsumen teranyar itu 'mengerikan'.
 
"Ini mengerikan. Berlanjutnya volatilitas di pasar, lonjakan harga energi dan 
makanan, dan tentu saja, bencana di pasar perumahan, membuat para konsumen 
merasakan kengerian yang sangat besar," jelas dia.
 
Secara terpisah, data yang dikeluarkan The Fed akhir pekan lalu menunjukkan, 
produksi industri AS naik tipis 0,1% pada Januari, kenaikan selama dua bulan 
berturut-turut. Meski begitu, survei aktivitas manufaktur di New York 
menunjukkan hasil buruk.
 
Keith Hembre, kepala ekonom pada FAF Advisor di Minneapolis, menggambarkan 
data-data industri terbaru itu 'buruk'. 
 
"(Data-data) itu adalah gambaran resesi. Tidak banyak order yang datang. 
Semakin banyak tekanan penurunan dalam produksi," jelas dia.
 
Kemungkinan Pemangkasan Bunga
Tekanan kenaikan harga-harga saat ini kemungkinan bakal memaksa The Fed kembali 
memangkas suku bunga. ???????
 
Sejumlah data ekonomi AS lainnya yang dirilis selama Januari-Februari 
menunjukkan kelesuan yang sama. Sektor jasa terkontraksi untuk kali pertama 
dalam kurun lima tahun, sedangkan level angkatan kerja juga turun untuk kali 
pertama sejak Agustus 2003. Yang sedikit menggembirakan, penjualan ritel pada 
Januari naik tipis 0,3%.
 
Survei Departemen Tenaga Kerja menunjukkan, harga-harga impor AS naik 1,7% pada 
Januari menyusul kenaikan harga minyak. Sedangkan harga-harga ekspor naik 1,2%, 
kenaikan terbesar sejak Januari 1989. 
 
"Kenaikan harga impor merupakan pengingat bahwa ekonomi memasuki resesi, 
inflasi masih menjadi ancaman, yang datangnya bukan hanya dari sumber-sumber 
internal. Risiko-risiko yang menggelayut saat ini adalah bahwa penurunan ini 
tidak akan mengubur risiko inflasi," jelas Josh Stiles, pakar obligasi pada 
IDEAGlobal, New York. 
 
Kekhawatiran bakal melemahnya daya beli konsumen, yang menyumbang sekitar 70% 
dari PDB, membuat saham tergelincir. Hal itu mengisyaratkan persoalan-persoalan 
serius dalam ekonomi AS. (*)

Kirim email ke