Transaksi Berjangka Gelap Marak JAKARTA- Transaksi bursa berjangka di Indonesia belum berkembang pesat karena masih tingginya perdagangan di pasar gelap. Transaksi gelap yang tidak dilaporkan ke Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) itu diperkirakan mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan jumlah yang sebenarnya.
"Masih banyak yang melakukan (perdagangan gelap). Aturannya, yang boleh melakukan perdagangan haruslah (perusahaan berjangka) yang berizin. Tapi, yang berizin pun masih ada yang menyimpang," ujar Direktur BBJ Sudomo dalam acara Optimizing Local Resources for Competitivenes kemarin. Menurut dia, untuk melakukan perdagangan berjangka harus dalam koridor perundang-undangan. Kalau keluar dari itu harus ditindak. Para pelaku di pasar gelap tersebut tidak bermain di perdagangan komoditi tapi di valuta asing (foreign exchange) dan indeks. Berdasarkan analisa BBJ, banyak perusahaan berjangka yang tidak melaporkan transaksinya ke BBJ. Misalkan, jika total transaksi yang dilaporkan ke BBJ sebanyak 20 ribu lot, transaksi yang tidak dilaporkan bisa 10 kali lebih besar dari itu. "Itu berdasar market noise," katanya. Meski begitu, Sudomo menilai itu tidak banyak mempengaruhi pergerakan harga di bursa berjangka. Sebab, mereka tetap harus mengikuti transaksi antarbank sedunia. Dari segi nilai, transaksi gelap itu juga tidak terlalu besar. Menurut dia, bermain di bursa berjangka adalah bagaimana cara meminimalkan resiko. Itu pun diperlukan waktu yang lama untuk mempelajari pasar. "Kalau bukan ahlinya, jangan coba-coba deh. Ini memang bukan untuk orang biasa," lanjutnya. Hingga saat ini, BBJ hanya mempunyai kontrak untuk dua komoditi, yaitu emas dan olein. Sedangkan untuk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) belum dimulai. Sudomo menilai seharusnya Indonesia menjadi pemain besar di sektor perdagangan komoditi CPO. "Indonesia produsen nomor satu kelapa sawit. Setiap tahun memproduksi 18 juta ton. Sementara total konsumsi mencapai 4 juta ton. Itu termasuk konsumsi yang besar di dunia," ujarnya. Namun, ironisnya, harga CPO Indonesia justru di bawah CPO Malaysia. Menurut Sudomo, itu terjadi karena adanya perbedaan dalam hal infrastruktur dari perkebunan kelapa sawit ke konsumen. Di Malaysia, kelapa sawit langsung dapat diangkut dengan truk. Sedangkan kelapa sawit di Kalimantan dan Sulawesi harus diangkut dengan kapal untuk diolah ke Jawa. "Dunia hanya kenal CPO Malaysia dan Sumatera karena pelabuhan di Kalimantan atau Sulawesi tidak ada yang ocean going (kelas internasional)," jelasnya. (wir/ttg) Sony Anugrah wrote: > > Hmmmm, pengalaman yang tidak mengenakkan ya Pak Thomas. > Sebenarnya kalo mmg sudah merasa tidak cocok sama BBJ dan > "keluarganya" karena selalu membawa hal yang tidak baik (merugikan), > ya itu merupakan hak investor. > Namun menurut saya BEI pun juga sama. Maksud saya adalah bahwa bila > ada seseorang investor yang tidak hati2 dalam memilih pialang, makan > akan mengalami kerugian juga. > > Best Regards, > > Sony Anugrah, SH === If you need an office in Surabaya you don't have to invest on furnitures, ac etc. Use our virtual office instead. Visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email mailto:[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs. ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
