terima kasih atas detailnya pak, memang perhitungannya seperti itu, sepenuhnya tergantung pada kenaikan harga saham tersebut, bukan karena market cap nya ^_^
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Irwan Ariston Napitupulu Sent: 01 September 2008 13:22 To: [email protected] Subject: [saham] Cara Menghitung DJIA Index Sekedar meluruskan saja soal cara menghitung DJIA Index. DJIA Index tidak dihitung berdasarkan equal weight (bobot prosentasenya dalam portfolionya sama) juga tidak dihitung berdasarkan capitalization weight (bobot prosentasenya dalam portfolio berdasarkan market capitalization pada nilai dasar perhitungan masing2 saham). DJIA Index dihitung berdasarkan price weight, kemudian dibagi dengan angka pembagi tertentu. Sekedar contoh saja agar bisa membedakan satu dengan lainnya. Katakan komponen indeks ada 4 saham dengan rincian masing2 sbb: Saham A: harga 10 jumlah saham 1 milyar, market cap = 10 milyar. Saham B: harga 50 jumlah saham 100 juta, market cap = 5 milyar Saham C: harga 100 jumlah saham 10 juta, market cap = 1 milyar Saham D: harga 200 jumlah saham 1 juta, market cap = 200 juta Total market cap 16,2 milyar Kalau menghitung dengan equal weight, karena komponen hanya ada 4, maka bobot masing2 saham itu dalam portfolio adalah sama yaitu sebesar 25% (100% dibagi 4). Katakan indeks awalnya adalah 100 , maka masing2 saha di porto awalnya sama yaitu senilai 25. Bila kalau portfolio dirinci isinya akan terlihat sbb: Saham A = 2,5 unit (unit bisa dibaca dengan lembar kalau bingung) Saham B = 0,5 unit Saham C = 0,25 unit Saham D = 0,125 unit. Kenaikan 10% di saham A (atau naik 1 poin) akan memberikan efek kenaikan 2,5% (10% x 25%) kepada indeks atau pada contoh di atas maka indeks akan berubah dari 100 menjadi 102,5. Kenaikan 10% di saham D (atau naik 20 poin) akan memberikan efek kenaikan yg sama yaitu sebesar 2,5% (10% x 25%) kepada indeks atau dalam contoh di atas indeks akan naik dari 100 menjadi 102,5. Sekedar catatan tambahan saat ini SP500 ada yg dihitung dengan cara equal weight untuk memenuhi permintaan market, namanya jadi SP500 EWI (Equal Weight Index) Kalau menghitung dengan capitalization weight (seperti pada SP500 dan juga IHSG) maka dalam contoh di atas rincian perhitungannya sbb: Saham A = 61,73% (10 milyar/16,2 milyar) = 6,17284 unit (61,73/10) Saham B = 30,86% (5 milyar/16,2 milyar) = 0,617284 unit (30,86/50) Saham C = 6,17% (1 milyar/16,2 milyar) = 0,0617284 unit (6,17/100) Saham D = 1,23% (200 juta/16,2 milyar) = 0,00617284 unit (1,23/200) Kenaikan 10% di saham A (atau naik 1 poin) akan memberikan efek kenaikan ke indeks sebesar 6,17284% (10% x 61,73%), atau dalam contoh di atas, indeks dari 100 akan berubah menjadi 106,173 Kenaikan 10% di saham D (atau naik 20 poin) akan memberikan efek kenaikan ke indeks sebesar 0,123% (10% x 1,23%) atau dalam contoh di batas, indeks dari 100 akan berubah menjadi 100,123 Kalau dengan perhitungan price weight (seperti perhitungan DJIA 30), maka cuma dilihat harga sahamnya saja kemudian dibagi dengan nilai pembagi. Jumlah unit/lembarnya sama untuk masing2 saham tanpa perdulikan market capitalization maupun harga sahamnya. Ini yang mungkin Pak Sudeswanto jadi rancu dengan menyebut istilah equal weight untuk perhitungan di DJIA padahal sebenarnya tidak demikian perhitungannya. Maksudnya Pak Sudeswanto adalah equal jumlah unit/lembar sahamnya, cuma waktunya ngetiknya kurang lengkap nulisnya. Jadi, saya anggap Pak Sudeswanto hanya salah menggunakan istilah saja, tapi maksudnya sama. Saya lanjutkan saja dengan contoh di atas agar rekan2 bisa melihat perbedaan masing2 dari ketiga cara menghitung index. Karena disepakati, awal index adalah 100 (agar bisa kita bandingkan dengan perhitungan lainnya), maka perhitungan awalnya sbb: Saham A harga 10, jumlah 1 unit = 10 (10 x 1) Saham B harga 50, jumlah 1 unit = 50 (50 x 1) Saham C harga 100, jumlah 1 unit = 100 (100 x 1) Saham D harga 200, jumlah 1 unit = 200 (200 x 1) Total nilainya jadi 400. Karena kita sepakati nilai dasar index = 100, maka angka 400 untuk bisa menjadi 100 harus dibagi dengan angka 4. Jadi, angka pembaginya adalah 4 untuk contoh kasus ini. Bisa saham A naik 10% atau naik 1 poin (harga naik dari 10 jadi 11), maka pengaruhnya ke indeks: [(11x1) + (50x1) + (100x1) + (200x1)] / 4 = 100,25 alias indeks naik 0,25%. Bila saham D naik 10% atau naik 20 poin (harga naik dari 200 jadi 220), maka pengaruhnya ke indeks: [(10x1) + (50x1) + (100x1) + (220x1)] / 4 = 105, alias indeks naik 5%. Begitulah perbedaan ketiga cara perhitungan di atas. Oh ya, saat ini angka pembagi untuk DJIA 30 index adalah 0,12283402 Jumlahkan saja harga2 penutupan komponen DJIA 30 yg bisa dilihat di: http://finance. <http://finance.yahoo.com/q/cp?s=%5EDJI> yahoo.com/q/cp?s=%5EDJI lalu hasil penjumlahannya dibagi dengan angka pembaginya yaitu 0,12283402 Nanti angka hasilnya akan sama dengan penutupan indeks DJIA 30 yg jumat kemarin ditutup 11.543,55 Kesimpulannya? Untuk mainin indeks DJIA naik turunnya, bandar tinggal mainkan saja saham2 yg harga absolutnya besar seperti IBM yg harga penutupan hari jumat 121,73 Setiap kenaikan 1 dolar (0,82%) di saham IBM akan menaikan indeks sebesar 8,14 poin. Sementara untuk memberikan kenaikan yg sama sebesar 8,14 poin dengan menggunakan komponen DJIA lainnya yaitu GM yg kemarin ditutup di 10 dolar, juga dengan cara menaikan 1 dolar. Kenaikan 1 dolar di GM setara dengan kenaikan 10%. Kalau saham IBM dinaikan 10% dari harga penutupan jumat kemarin atau naik 12,173 poin, maka pengaruhnya ke indeks akan menaikkan indeks DJIA sebear 81.4 poin :) Disitulah 'keanehan' perhitungan indeks DJIA 30, tapi tetap saja masih banyak yg suka pakai karena sudah kadung dipakai banyak orang :) Semoga uraian panjang saya di atas, bisa jadi masukan dan pengetahuan rekan2. catatan: silahkan di forwad tulisan saya di atas ke milis2 lain yg dianggap perlu untuk nambah2 pengetahuan. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu
