AS Cairkan Talangan Terbesar 

Kongres-Gedung Putih Beli Kredit Macet Rp 6.510 T 

WASHINGTON - Pembukaan pasar keuangan dunia hari ini akan mendapat
pemicu baru. Rapat maraton untuk membahas proposal penyelesaian krisis
ekonomi di AS akhirnya mulai mendapat hasil kemarin (28/9). Kongres AS
dan Gedung Putih mencapai kesepakatan menyangkut pembayaran dana
talangan (bailout) finansial terbesar dalam sejarah. 

Kesepakatan itu memerintah Departemen Keuangan AS membeli kredit
bermasalah perusahaan kolaps dengan dana publik senilai USD 700 miliar
(Rp 6.510 triliun). Mengingat jumlahnya yang sangat besar, kesepakatan
petinggi pemerintahan AS kemarin merupakan intervensi terbesar
pemerintah dalam sejarah guna mencegah kehancuran ekonomi suatu negara. 

Indonesia pernah mengambil langkah intervensi seperti AS tersebut, namun
dengan nilai hanya sepersepuluhnya, yakni Rp 650 triliun. Pada 15
Januari 1998, pemerintah RI memutuskan menjamin pembayaran seluruh
kewajiban bank, baik kepada deposan maupun kreditor, lewat program
penjaminan (blanket guarantee).

Namun, karena kendala kondisi keuangan pemerintah waktu itu, Bank
Indonesia (BI) menyediakan dana talangan lebih dulu, sehingga program
tersebut kemudian dikenal dengan istilah Bantuan Likuiditas Bank
Indonesia (BLBI).

Menkeu AS Henry M. Paulson Jr bersama Ketua House of Representative
(DPR) AS Nancy Pelosi serta para pemimpin kongres muncul dari balik
pintu ruang rapat tertutup dengan wajah letih. Mereka mengadakan jumpa
pers untuk mengumumkan bahwa kesepakatan tentatif telah tercapai
kemarin, setelah dua hari berlangsung pertemuan maraton. 

''Kami mencapai kemajuan berarti. Kami harus memberikan komitmen
rancangan undang-undang, sehingga bisa segera menyetujui secara
formal,'' ujar Nancy setelah pertemuan Minggu siang WIB.

Henry menambahkan, anggota staf kongres akan bekerja dalam waktu tersisa
untuk menuntaskan bahasa yang dipakai dalam kesepakatan dan menyusun
draf rancangan undang-undangnya. RUU itu akan dibawa ke sidang DPR untuk
diambil suara hari ini. ''Kami sudah bekerja keras dan mencapai
kesepakatan yang segera berlaku efektif di pasar serta efektif bagi
seluruh rakyat Amerika,'' ungkapnya.

Kongres AS dan Gedung Putih berlomba mencapai kesepakatan sebelum pasar
Asia kembali buka pada Senin pagi ini untuk menghindarkan jatuhnya harga
saham seperti yang terjadi pada pekan lalu.

Dalam draf RUU yang beredar di media, program bailout itu termasuk
pembatasan pembayaran CEO yang perusahaan-perusahaannya mendapatkan
talangan. Kongres juga mengharuskan pemerintah memanfaatkan peran
barunya sebagai pemilik surat berharga mortgage yang merugi sebagai
bagian dari upaya yang agresif guna menghindarkan kebangkrutan lebih
jauh.

Dalam kasus-kasus tertentu, pemerintah akan menerima saham ekuitas di
perusahaan-perusahaan yang dibantu, sehingga warga pembayar pajak bisa
menikmati keuntungan jika rencana penyelamatan tersebut berjalan baik
dan perusahaan-perusahaan swasta itu tumbuh lagi dalam beberapa bulan
atau tahun ke depan.

Gedung Putih juga menyetujui pengawasan ketat oleh kongres atas jalannya
program tersebut. Juga, harus dipatuhinya ketentuan tidak adanya
benturan kepentingan (conflict of interest) dari perusahaan-perusahaan
yang dipilih Depkeu untuk melaksanakan program bailout tersebut.

Kedua kandidat presiden AS langsung merespons kesepakatan yang tercapai
di gedung DPR. Calon presiden dari Republik, Senator John McCain,
menyatakan keputusan Gedung Putih dan kongres harus diterima, meski
berat. ''Pilihan ini sangat sulit. Namun, jika alternatif lainnya adalah
tidak melakukan apa-apa, ini harus diterima,'' tegasnya. 

Kandidat Demokrat, Senator Barack Obama, menekankan perlunya prioritas
penyelamatan kredit pembayar pajak. ''Saya menekankan, ini sangat
keras,'' ujarnya.

Jika politisi memberi angin terhadap program bailout, tidak demikian
halnya dengan tokoh bisnis AS. Miliarder Warren Buffett menyatakan
kepada para negosiator di kongres bahwa AS akan menghadapi kehancuran
perekonomian terbesar dalam sejarah jika program bailout disetujui.
Penentangan orang terkaya nomor dua di AS tersebut disampaikan kepada
Senator Kent Conrad yang mengepalai komisi anggaran beberapa saat
sebelum Nancy Pelosi mengumumkan kemajuan perundingan. 

USD 700 M Belum Cukup 

Chief Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk Tony Prasetiantono
menjelaskan, lampu hijau dari kongres AS atas rencana bailout USD 700
miliar dari pemerintahan Bush tersebut dinilai bisa berdampak positif,
meski tidak otomatis akan meredakan demam pasar keuangan global. 

''Kerusakan secara sistemik bisa perlahan dikurangi. Setidaknya tidak
ada kerusakan yang lebih parah. Harga saham di Wall Street akan menguat,
juga nilai tukar USD,'' ujarnya saat dihubungi tadi malam (28/9). 

Menurut dia, sebenarnya dana talangan tersebut belum cukup. ''Investor
masih menerka apakah bailout sebesar itu sudah cukup karena banyak
akademisi yang menghitung seharusnya USD 1 triliun,'' jelasnya. 

Dia menambahkan, bailout tersebut tidak akan mengganggu keseimbangan
fiskal Negeri Paman Sam itu. Dengan tambahan dana talangan tersebut,
kata dia, bond yang dikeluarkan pemerintah AS sudah mencapai USD 5
triliun. ''Sementara PDB-nya USD 14 triliun. Jadi, rasio itu masih dalam
batas wajar,'' katanya. 

Hal tersebut berbeda ketika pemerintah RI mengeluarkan dana talangan Rp
650 triliun ketika BLBI mengucur, yang rasio dengan PDB-nya tidak
berbeda jauh. ''Dari sisi APBN, AS memang akan sedikit mengganggu.
Sebab, sebelumnya AS mengeluarkan tax refund USD 157 miliar untuk
memberi stimulan. Tapi, tekanan fiskal ini tidak terlalu membahayakan,''
ungkap Tony. 

Bagi sektor finansial tanah air, jelas dia, kucuran dana talangan
pemerintah AS tersebut akan lebih memberikan kepercayaan bagi investor
untuk masuk lebih dalam. ''Wall Street akan menanjak. Itu akan membawa
rebound bagi bursa regional dan Indonesia. Investor domestik juga lebih
yakin karena melihat aksi investor asing yang mulai percaya diri. Sebab,
selama ini investor asing masih menjadi follower,'' ujarnya. 

Di tempat terpisah, Chief Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan
menuturkan, krisis finansial global memang telah berada di titik yang
cukup parah. ''Krisis sudah masuk ke beyond subprime,'' tegasnya. 

Kerugian akibat subprime mortgage yang membikin kegalauan di sektor
finansial di seluruh jagat disebut IMF menimbulkan kerugian USD 1
triliun atau sekitar Rp 9.300 triliun. Padahal, semula kerugian
diprediksi hanya USD 100 miliar. ''Bahkan, kini sejumlah akademisi
menyebut kerugiannya mencapai USD 2 triliun,'' jelas Fauzi. 

Menurut dia, dengan adanya bailout, gejolak sektor finansial di AS bisa
mulai diredam. ''Pasar hanya menunggu jawaban, kapan badai finansial AS
berakhir,'' ujarnya. (AP/CNN/eri/kim)


-- 
Virtual office in Surabaya? Visit
http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or 
mailto:[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs.


------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke