Eropa Terseret Kian Dalam Prancis Masuk Resesi, Jerman Dapat Talangan
PARIS - Krisis finansial di AS semakin mengganggu stabilitas ekonomi Uni Eropa. Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Jean-Claude Trichet mengingatkan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut terus melemah. Bahkan ke depan akan semakin memburuk. Karena itu, Uni Eropa harus bersatu. "Gejolak finansial yang tak terduga saat ini menuntut Eropa agar makin kompak," kata Trichet dalam wawancaranya dengan Radio Europe-1 di Paris kemarin. Krisis finansial ini telah memukul raksasa Eropa seperti Prancis dan Jerman. Target pertumbuhan ekonomi dua negara tersebut meleset. Sejumlah lembaga keuangan juga lempar handuk dan terpaksa diinjeksi dana oleh pemerintah untuk menghindari kebangrutan. "Kegiatan ekonomi di Eropa melemah. Outlook ekonomi menampakkan risiko yang makin tinggi," kata Trichet. Hari ini, empat negara Eropa yang tergabung dalam G-8 menggelar Paris Meeting untuk membahas langkah mengurangi dampak krisis. Keempat negara itu adalah Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia. Selain pertumbuhan ekonomi yang melemah, kata Trichet, Eropa juga menghadapi lonjakan angka inflasi. Karena itu, ECB berencana memainkan instrumen suku bunga. "Ada dua opsi. Pertama, mempertahankan suku bunga tetap 4,25 persen. Opsi lainnya menurunkan suku bunga. Mungkin kita pilih mempertahankan suku bunga, tetapi lihat dululah," katanya. Kata Trichet, gejolak finansial yang dipicu krisis subprime mortgage telah memukul sektor keuangan sejak akhir tahun lalu. Namun, puncaknya terjadi bulan lalu ketika saham-saham di Wall Street berguguran. Howard Archer, ekonom dari Global Insight, mengatakan ECB tidak perlu khawatir untuk menurunkan suku bunga. Apalagi angka inflasi bulan lalu turun dari 4,1 persen menjadi 3,6 persen. "Saya yakin ECB akan memangkas suku bunga dari 4,25 persen menjadi 4 persen." Eropa pantas waspada. Prancis mulai masuk resesi. Pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga dan keempat tahun ini diperkirakan negatif. Menurut prediksi lembaga statistik The Insee, pertumbuhan di masing-masing kuartal tersebut turun 0,1 persen. Padahal pada kuartal kedua sudah terpangkas 0,3 persen. The Insee memprediksi pertumbuhan Prancis tahun 2008 akan turun menjadi hanya 0,9 persen. Selain itu, estimasi The Insee, tingkat pengangguran juga akan melonjak menjadi 7,4 persen hingga akhir tahun ini. Pada kuartal ketiga 2007, tingkat pengangguran berada di level 7,2 persen. Prancis layak disebut memasuki resesi. Sebab pengertian teknis ekonomi dari resesi adalah ketiga suatu negara mencatat pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Tak jauh berbeda dengan Prancis, Jerman juga mulai kelimpungan. Namun kesulitan di Jerman masih berkutat pada ambruknya sejumlah lembaga keuangan. Terakhir, Jerman mendapat persetujuan dari Uni Eropa untuk memberikan bailout (talangan) senilai USD 1,2 miliar untuk bank spesialis KPR (kredit perumahan rakyat) yaitu Hypo Real Estate Holding AG. (AP/AFP/fan) -- Get latest Canadian immigration rules for professionals and investor opportunities. Everyday 9:00-17:00 Visi IndoCanada 021-830 6715, 031-501 3570 or mailto:[EMAIL PROTECTED] ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
