Kamis, 09/10/2008 10:31 WIB
BI Dikecam Naikkan Suku Bunga Sendirian
Aprizal Rahmatullah - detikFinance
(Foto: dok detikcom)
Jakarta - Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 9,5% mengundang
banyak kecaman. BI dinilai salah langkah karena menaikkan BI Rate di tengah
negara lain yang justru menurunkan suku bunganya.
Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menyatakan, keputusan Bank Indonesia ini
membuat Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mengikuti saran IMF untuk
menaikkan suku bunga.
"Dua bulan lalu IMF menyarankan untuk meningkatkan suku bunga pada Indonesia,
padahal sekarang semua negara turunkan suku bunganya. Satu-satunya yang ndablek
ikutin saran IMF cuma Indonesia, hal ini akibat salah langkah karena pemerintah
mendengarkan saran IMF," ujarnya.
Ia menyampaikannya disela acara "Deklarasi Keikutsertaan Rizal Ramli untuk
Presiden pada Konvensi Partai Bintang Reformasi" di Hotel Nikko, Jl Thamrin,
Jakarta, Kamis (9/10/2008).
Ia juga menilai semua kebijakan yang diambil pemerintah sejak Januari hingga
Oktober 2008 terlalu percaya diri untuk menanggulangi bubble di sektor bursa.
"Akibatnya, begitu terjadi langsung panik," katanya.
The Fed menurunkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin menjadi 1,5
persen. Tindakan The Fed juga langsung diikuti oleh bank sentral lain. European
Central Bank (ECB) dan bank sentral Inggris, Kanada, Swiss juga ikut memotong
suku bunga.
Bank of England menurunkan suku bunganya setengah persen menjadi 4,50 persen.
Sedangkan European Central Bank memotong suku bunganya setengah persen menjadi
3,75 persen. ECB melakukan pemotongan itu berdasarkan koordinasi dengan bank
Kanada dan Swiss.
Dari Asia, China juga memotong suku simpanan satu tahunnya sekitar 27 basis
poin menjadi 3,87 persen mulai hari Kamis. Sedangkan suku bunga pinjaman akan
turun 27 basis poin menjadi 6,93 persen. Sementara Bank Indonesia tidak bisa
mengikuti karena terlebih dahulu menaikkan suku bunga BI Rate ke level 9,5
persen.
Penutupan Perdagangan BEI
Sementara terkait penutupan perdagangan saham di BEI yang ditutup untuk dua
hari ini, menurut Rizal hal ini penuh kepentingan politis.
"Ada juga menteri yang memiliki kepentingan bisnis, yang ingin melindungi
sahamnya agar tidak jatuh," tudingnya.(lih/ddn)