Siapa yang menabur angin, dia pasti akan menuai badai.

  ----- Original Message ----- 
  From: Sudeswanto 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, October 10, 2008 9:32 AM
  Subject: RE: Balasan: [saham] Kepentingan Nasional Haruslah Didahulukan



  kondisinya berbeda, 
  tahun 1998 dikarenakan masalah moneter (valas), sosial politik, inflasi yang 
tidak terkendali dan banyak kredit yang macet
  tahun 2005 (atau 2006, saya lupa), kenaikan BBM, inflasi kita YoY sekitar 17% 
dan index mengalami penurunan 
  sekarang, inflasi kita masih dibawah itu tapi index turun lebih dalam,
  sosial politik cukup stabil, inflasi dan kredit masih terkendali

  saya cumen tau dan yakin bahwa di dunia ini ada yang namanya TABUR dan TUAI, 
  tahun 1997-1998, terutama dari US (George Soros) yang mengunjang ganjingkan 
pasar di asia, sehingga banyak bank-bank asia yang collapse, sekarang, tahun 
2008, banyak bank-bank dan lembaga keuangan di US yang collapse

  semua ada waktunya, orang lain boleh bersenang-senang diatas penderitaan 
orang lain, tapi nanti ada waktunya mereka akan tuai kembali apa yang telah 
mereka lakukan, believe it or not, that is ur choice

  God bless us all,
  Sudeswanto



------------------------------------------------------------------------------
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Steven 
Pribadi
  Sent: 10 Oktober 2008 9:17
  To: [email protected]
  Subject: Balasan: [saham] Kepentingan Nasional Haruslah Didahulukan


  BETUL SEKALI PAK
  JANGAN SAMPAI KRISIS 1998 TERULANG KEMBALI
  SUNGGUH MENAKUTKAN AKIBATNYA
  SBY HARUS SEGERA MENGELUARKAN PERPU UNTUK ITU
  JANGAN PEDULIKAN KEPENTINGAN PRIBADI/KELOMPOK
  DAHULUKAN KEPENTINGAN BANGSA
  INGAT PARA PEJABAT-JANGAN SEKALI KALI ADA PIKIRAN KOTOR UNTUK BER-KKN.

  SALAM

  Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

    Dalam menghadapi perkembangan situasi belakangan ini yang tidak
    kondusif, pemerintah perlu mengambil tindakan2 penting dan cepat
    dengan prioritas pada kepentingan nasional.

    Saat ini tidak ada hal yang mendesak untuk membuka bursa saham dengan
    segera. Bila bursa saham di buka, hanya akan memberikan kesempatan
    institusi asing dan juga lokal untuk menjual portfolionya dan
    kemungkinan akan mengkonversinya ke dolar. Pihak asing kemungkinan
    akan menarik dana keluar dari Indonesia, pihak lokal kemungkinan akan
    menaruhnya di LN yang dia anggap cukup aman. Kejadian krisis tahun
    1997/98 hanya tinggal menunggu waktu saja terulang bila hal tersebut
    terjadi.

    Pemerintah saat ini perlu mengambil tindakan2 tegas dan cepat dalam
    mengantisipasi keadaan. Jangan menunggu negara lain dulu bertindak
    baru kita bertindak. Kita punya jatidiri, kita tahu apa yang menurut
    kita baik untuk bangsa ini. Pemerintah perlu memegang tongkat komando
    dengan erat dan percaya diri. Go to hell, IMF!

    Awal September lalu, melalui milis [email protected], saya telah
    berkali2 menyarankan otoritas bursa untuk segera menutup fasilitas
    short sell (menjual saham tanpa memiliki saham lebih dahulu) dalam
    situasi bearish (negatif) seperti sekarang. Otoritas bursa tampaknya
    tidak sependapat. Sekitar 3 hari kemudian setelah saya melontarkan
    pemikiran tersebut, otoritas bursa di Amerika yang justru kemudian
    mengambil tindakan pelarangan short sell. Otoritas bursa kita akhirnya
    baru melakukan pelarangan short sell mulai awal Oktober.

    Selain bursa saham yang perlu ada tindakan antisipasi dengan segerak,
    transaksi valas pun segera harus diambil tindakan2 antipasi
    secepatnya. Transaksi valas harus segera diatur dan dibatasi agar
    ruang gerak para spekulan rupiah bisa ditutup sama sekali. Mata uang
    rupiah bukan untuk spekulasi. Mata uang rupiah digunakan untuk
    transaksi di sektor riil, bukan ajang spekulasi. Thailand selama
    beberapa tahun ini telah berhasil menjalankan kebijakan tersebut
    dengan menerapkan dual rates, offshore rate dan onshore rate. Mereka
    juga menutup ruang gerak spekulan untuk bisa melakukan transaksi valas
    dalam jumlah besar. Bank asing di luar Thailand ditutup ruangnya untuk
    bisa memainkan Baht Thailand.

    Rekomendasi saya kali ini adalah:
    1. Tutup bursa saham sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan
    alasan demi kepentingan nasional yang lebih luas.
    2. Pengaturan transaksi valas dengan ketat agar rupiah tidak jadi
    ajang spekulasi. Transaksi valas hanya bisa dilakukan bila ada
    underlying-nya atau ada didukung transaksi sektor riil nya baik itu
    ekspor ataupun impor.
    3. Turunkan BI rate sampai ke level yang bisa mendorong sektor riil.
    Idealnya BI rate ada di 3%.
    4. Hapuskan Pajak Ekspor CPO dan lainnya menjadi 0%. Pengecualian
    hanya kepada komoditi yang tidak renewable seperti batubara, emas,
    nikel, timah, dll.
    5. Gunakan bank-bank pemerintah sebagai ujung tombak untuk penyaluran
    dana ke sektor-sektor riil. Sektor pertanian, peternakan, dan nelayan
    adalah sektor2 yang harus mendapat perhatian pemerintah secara serius
    karena sektor2 ini yang bisa menyerap banyak tenaga kerja dan
    terbilang cukup aman dari ancaman krisis.

    jabat erat,
    Irwan Ariston Napitupulu





------------------------------------------------------------------------------
  Dapatkan nama yang Anda sukai! 
  Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com. 


   

Kirim email ke