> Seharusnya kisah nyata berikut ini banyak diedarkan di
> internet supaya berita berimbang antara
> yg meng'hero'kan '3 sekawan' dan kenyataan
> akibat kelakuannya....
>
> Best regards,
> Hendri
>
> ----------
>
> Kamis, 06/11/2008 15:39 WIB
> Nasib Korban Bom Bali Kini
> Derita Tumini Tak Hilang Meski Amrozi Cs Segera Dieksekusi
> Gede Suardana - detikNews
>
> Foto: Gede S/detikcom
>
> Denpasar - Amrozi, Imam Samudra dan Muklas akan segera
> dieksekusi mati. Tapi dampak bom yang diledakkan trio bomber
> itu masih meneror para korban. Tumini, salah satunya. Bom
> yang meledak 6 tahun lalu itu membuat hidup warga Bali ini
> tidak sama lagi.
>
> Tumini merupakan salah satu korban selamat dari bom Bali
> yang menewaskan 202 orang dan melukai ratusan orang
> tersebut. Tumini, selamat dari amukan ledakan meskipun pada
> 12 Oktober 2002 malam itu ia berada di salah satu pusat
> ledakan di Paddy's pub.
>
> Saat itu, Tumini datang ke Paddy's untuk mengantar
> temannya yang juga beruntung selamat dari ledakan. Tumini
> mengalami luka yang cukup serius. Sekujur tubuhnya terbakar
> mulai dari kaki hingga kepala.
>
> Beruntung ia berhasil memadamkan kobaran api di sekujur
> tubuhnya dengan menceburkan diri ke kolam renang di sebuah
> hotel jauh di belakang Paddy's pub.
>
> Selain mengalami luka bakar serius, telinga Tumini pun
> mengalami gangguan akibat suara ledakan yang menyalak di
> dekatnya. Di dalam payudara terdapat serpihan logam serta
> ususnya keluar dari perutnya yang robek.
>
> Kini kondisi Tumini telah pulih kembali meskipun bekas luka
> bakar masih membekas di beberapa bagian tubuh, seperti
> tangan, kaki hingga wajah. "Telinga saya hanya
> berfungsi sebelah. Genderang telinga kiri tidak berfungsi
> total," tutur Tumini kepada detikcom.
>
> Praktis, ia hanya mendengar melalui telinga bagian kanan.
> Kondisi Tumini membaik setelah ia menjalani operasi sebanyak
> 6 kali. Ia menjalani operasi penyembuhan luka bakar dan
> telinga di RSUP Sanglah, Denpasar dan sebuah rumah Sakit di
> Australia.
>
> Biaya perawatan Tumini ditanggung sepenuhnya oleh rumah
> sakit tersebut serta yayasan yang menyantuni para korban bom
> Bali. Yayasan itu adalah YKIP (Yayasan Kemanusiaan Ibu
> Pertiwi) dan Yayasan Kids.
>
> Selain mendapatkan tanggunggan kesehatan, kehidupan Tumini
> pun ditanggung sepenuhnya oleh yayasan ini. Segala jenis
> kebutuhan hidup, seperti makan, pakaian, hingga seluruh
> biaya sekolah untuk seorang anaknya ditanggung oleh yayasan.
> Ia mendapatkan santunan sebesar Rp 600 ribu per bulan untuk
> mencukupi kebutuhan hidup.
>
> Namun, bantuan kebutuhan hidupnya tersebut berakhir sejak
> tahun 2005. Yayasan hanya tetap membiayai kebutuhan sekolah
> anaknya hingga sarjana nanti.
>
> Sejak bantuan itu terputus, Tumini harus berjuang ditengah
> deritanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Berutung,
> Tumini memiliki pengalaman kerja.
>
> Sebelum tidak berdaya akibat ledakan, Tumini bekerja
> sebagai karyawan laundry di kawasan Kuta.
>
> Kini ia bekerja sebagai tukang cuci panggilan di beberapa
> rumah langganannya, yaitu rumah tangga anggota TNI AU.
> "Sejak bantuan diputus, saya kerja nyuci, menyetrika ke
> rumah-rumah," ujarnya pasrah.
>
>
> Lumayan, ia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk
> membiayai kebutuhannya. Namun, ia tidak mendapatkan
> penghasilan sebesar teman-teman seprofesinya. Sebulan ia
> mengantongi penghasilan Rp 300 ribu. "Dulu semasih
> kerja sebagai karyawan laundry saya mendapatkan uang Rp 800
> ribu sebulan," katanya lirih.
>
> Maklum, ia tidak setangguh dulu. Fisiknya cepat lelah jika
> bekerja seharian. "Kondisi saya tidak sekuat dulu.
> Sekarang tidak stabil. Capek sedikit, saya tidak mampu lagi
> bekerja," tuturnya.
>
> Semangat Tumini bekerja pun terhalang oleh matahari. Ia
> tidak mampu menuntaskan pekerjaan di tengah sengatan
> panasnya matahari. Hal ini diakibatkan karena sekujur tubuh
> termasuk wajahnya menjalani operasi plastik untuk
> menyembuhkan luka bakar di kulit.
>
> "Kalau terkena panas matahari, kulit wajah, tangan dan
> kaki, badan terasa panas. Rasanya kulit mengkerut seperti
> karet melepuh. Panas dan sakit sekali," katanya.
>
> Tumini tidak patah semangat. Ia tetap bekerja sepenuh hati.
> Untuk menghindari sengatan matahari, ia hanya bekerja pada
> pagi dan sore hari. "Jadi saya hanya dapat uang
> sedikit. Tapi saya bersyukur langganan memaklumi kondisi
> saya dengan tidak mencari tenaga pengganti," kata
> Tumini.
>
> Meskipun dengan kondisi tertatih, Tumini harus tetap
> melanjutkan hidupnya dengan berdikari. "Kalau tidak
> begini saya tidak akan makan," demikian Tumini yang
> telah hidup menjanda ini.(gds/iy)
>
------------------------------------
Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.
DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/saham/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/saham/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/