Mau Jatuh Cepat-Cepat atau Pelan-Pelan? 

Dahlan Iskan

SETELAH banyak kiat dijalankan di mana-mana dan hasilnya juga masih
belum bisa meredakan krisis, para penganut aliran pasar bebas mulai
unjuk gigi lagi: seharusnya negara jangan turun tangan. Biarkan pasar
terjun bebas. Biarkan banyak bank kolaps. Biarkan banyak perusahaan
bangkrut. Biarkan pasar modal mencapai titik terendahnya. Terjun bebas
secara cepat lebih baik karena kita bisa segera tahu di mana titik
terendahnya. Dari situ baru mulai dipikirkan lagi bagaimana bangun
kembali. Daripada jatuh pelan-pelan, lama tapi akhirnya jatuh juga!

Pendapat itu didasarkan kenyataan bahwa meski berbagai negara sudah
melakukan bailout dalam jumlah yang belum pernah terjadi dalam sejarah,
toh kesulitan tidak juga teratasi. Indeks harga saham masih terus
merosot, termasuk setelah Amerika Serikat memilih presiden baru sekali
pun. Ini berarti krisis sekarang ini memang benar-benar krisis yang
terjadi akibat fondasi ekonomi yang rapuh. Bukan hanya karena rasa
konfiden yang jatuh.

Memang banyak negara sudah menginjeksikan uang rakyat ke berbagai
lembaga keuangan. AS menggunakan dana USD 700 miliar yang berasal dari
pembayar pajak alias rakyat. Dan, karena negara itu sedang mengalami
defisit terbesar dalam sejarahnya, pada dasarnya dana itu juga berasal
dari pinjaman. Negara sudah meminjam uang begitu besar untuk
menyelamatkan lembaga keuangan. Hasilnya belum kelihatan jelas. Bahkan,
kini menjalar ke sektor riil. Pabrik mobil di sana sudah pula minta
disuntik dana negara. Kalau permintaan ini dipenuhi, bagaimana industri
baja yang juga tinggal menunggu giliran saja untuk mengalami hal yang
sama? Lalu bagaimana dengan industri kaca? Industri cat? Dan seterusnya.

Dulu, pikiran untuk menginjeksikan uang negara ke lembaga keuangan
tersebut didasari pemikiran agar kepanikan masyarakat bisa segera reda.
Kepanikan itu dipicu oleh pernyataan bangkrutnya Lehman Brothers,
perusahaan keuangan terbesar di dunia. Masyarakat panik karena "Lehman
yang begitu raksasa saja bangkrut, bagaimana dengan yang lain?" Ini,
kecil-kecilan, mirip dengan yang dialami Indonesia ketika krisis 1997
lalu. Saat itu, secara teori ekonomi (IMF) 16 bank swasta nasional harus
ditutup. Jangan diinjeksi. Maka ditutuplah bank-bank itu. Ternyata,
"teori" tersebut meleset. Akibat penutupan itu, kepanikan memuncak.
Pertanyaan semua orang waktu itu: besok bank yang mana lagi yang
ditutup? Lusa yang mana lagi?

Begitulah seterusnya hingga akhirnya toh pemerintah harus memberikan
jaminan kepada kalangan perbankan. Jaminan itulah yang kemudian ternyata
juga salah: pemilik uang di bank itu ternyata para pemilik bank itu
sendiri. Akibatnya, pemerintah harus menginjeksi para penabung yang pada
dasarnya pemilik bank itu sendiri.

Pemerintah AS juga berpikiran bangkrutnya Lehman Brothers adalah
pelajaran berharga. Kebangkrutan itu ternyata disusul dengan kepanikan
dan dampaknya berupa turunnya rasa percaya diri yang luar biasa. Harga
saham terus merosot. Kehilangan uang di pasar modal ternyata lebih besar
dari nilai yang harus dibayar seandainya Lehman Brothers diinjeksi uang
negara.

Memang setelah injeksi diberikan oleh pemerintah, rasa percaya diri
mulai pulih. Tapi, rasa percaya diri saja ternyata tidak cukup. Toh,
harga saham terus merosot. Perusahaan yang terancam bangkrut terus
membesar. 


-- 
Virtual office in Surabaya? Visit
http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or 
mailto:[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs.



------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke