Klub Saham Gocap Kuasai 10% Emiten di BEI
Indro Bagus SU - detikFinance
(Foto: Indro-detikfinance)
<a
href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a3db6179&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE'
target='_blank'><img
src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=31&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3db6179'
border='0' alt='' /></a>
Jakarta
- Anggota klub saham receh seharga Rp 50 alias gocap semakin bertambah
seiring dengan penurunan indeks sepanjang semester II-2008. Jumlahnya
saat ini sudah mencapai 10% dari total semua saham yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia.
Kondisi
ekonomi makro dan global yang kurang kondusif diperkirakan bakal terus
menambah jumlah anggota klub harga saham minimal di Bursa Efek
Indonesia.
"Kelihatannya untuk jangka panjang tren indeks masih
bakal menurun. Saham-saham berharga Rp 50 bisa bertambah," ujar analis
PT BNI Securities, Muhammad Alfatih saat dihubungi detikFinance, Senin
(1/12/2008) malam.
Alfatih
mengatakan bahwa untuk jangka pendek, tren Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) masih ada dorongan untuk naik. Namun untuk jangka panjang
diperkirakan tren penurunan akan terus berlanjut.
"Kalau kita
lihat, saat ini tingkat permintaan cukup melambat. Ini bisa berarti dua
hal, pertama penurunan akan berlanjut. Kedua bisa jadi ini tanda-tanda
untuk rebound," jelas Alfatih.
Namun sebagaimana dijelaskan
Alfatih, untuk jangka panjang tren penurunan indeks masih sangat kuat.
Apalagi, lanjut Alfatih, kondisi ekonomi makro yang kian buruk
berpotensi mengkoreksi harga saham-saham di lantai bursa.
"Seperti
kita tahu, proyeksi ekonomi tahun depan masih melambat. Ini bisa
memberi tekanan cukup kuat terhadap permintaan dan bisa memukul
harga-harga saham dalam kisaran di bawah Rp 100. Malah bisa semakin
banyak yang harganya Rp 50," jelas Alfatih.
Harga saham sebesar
Rp 50 merupakan batas terendah harga saham di lantai bursa. Tidak ada
saham yang harganya bisa jatuh melewati batas tersebut.
Namun
seiring dengan gugurnya IHSG, harga-harga saham emiten yang jatuh ke
level Rp 50 semakin hari kian bertambah. Penurunan terjadi akibat
tingginya tekanan jual terhadap permintaan beli. Akibatnya, banyak
saham yang harganya jatuh tajam hingga mencapai batas terendah.
Bahkan
pada saham-saham yang harganya sudah menembus level Rp 50 pun masih
mengalami tekanan jual cukup besar. Artinya, jika tidak ada penetapan
batas terendah harga saham di level Rp 50, sejumlah saham harganya
dipastikan bakal lebih rendah dari Rp 50.
Bagi saham-saham
tertentu, bahkan yang sudah menyentuh level tersebut, masih terdapat
tekanan jual cukup besar tanpa adanya minat beli. Sebut saja
saham-saham berkode FREN, IATA, INAF dan sebagainya.
Berdasarkan
catatan detikFinance, dari 398 emiten yang tercatat di BEI, 39 emiten
harga sahamnya telah menyentuh level Rp 50. Angka ini masih akan terus
bertambah.
Saham berkode BNBR misalnya, lantaran masalah gadai
saham yang tak kunjung selesai, sejak dibuka suspensinya harganya terus
anjlok hingga kena penolakan otomatis batas bawah 10% setiap hari
perdagangan berturut-turut.
Pada penutupan perdagangan kemarin,
Senin (1/12/2008), BNBR ditutup di level Rp 54. Jika BNBR kembali kena
auto rejection batas bawah, maka saham BNBR bisa jadi akan menjadi
anggota klub saham gocap yang paling anyar.
Anak usahanya yang
berkode saham BTEL, sebelumnya sempat terdaftar sebagai anggota klub
saham gocap. Namun kembali naik dan kemarin ditutup di level Rp 52.
Emiten
yang baru saja mencatatkan saham perdananya tahun ini pun tak luput
ikutan terdaftar sebagai anggota klub gocap. Satu emiten baru berkode
saham KOIN kemarin harganya ditutup di level Rp 50.
Dua temannya
yang baru jadi emiten di 2008, berkode WEHA dan GZCO sedikit lebih
beruntung. Masing-masing ditutup di level Rp 80 dan Rp 82 pada
perdagangan kemarin.
Anggota klub gocap masih menarik minat
cukup banyak calon anggota. Dari 398 emiten tercatat, 92 emiten
memiliki harga di bawah Rp 100. Jika 39 emiten telah menjadi anggota
klub gocap, maka sisanya sebanyak 53 emiten berpotensi mendaftarkan
diri sebagai anggota klub gocap.
Berikut daftar 39 emiten klub gocap:
AKKN,
APLI, ASRI, BCIC, BEKS, BIPP, CNKO, CTTH, DEWA, DSFI, FORU, FREN, GSMF,
IATA, IGAR, INAF, INPC, KARK, KIJA, KOIN, LCGP, LMAS, LPPF, LPPS, MAMI,
MDLN, MLPL, MYRX, MYTX, POLY, PTRA, PYFA, SDRA, SIMA, SIPD, TRUB, TIRT,
WICO, ZBRA.
Berikut daftar 53 emiten dalam kisaran harga Rp 51-100 dan harga penutupan
Senin kemarin:
AHAP
(Rp 69), AMAG (Rp 51), BABP (Rp 61), BACA (Rp 91), BAYU (Rp 72), BKDP
(Rp 52), BKSL (Rp 80), BNBA (Rp 52), BNBR (Rp 54), BTEK (Rp 90), BTEL
(Rp 52), BVIC (Rp 72), CKRA (Rp 90), CPRO (Rp 69), DAVO (Rp 51), ELTY
(Rp 68), ETWA (Rp 66), FMII (Rp 75), FPNI (Rp 69), GZCO (Rp 85), HADE
(Rp 52), INCI (Rp 78), JKSW (Rp 84), KAEF (Rp 72), KBLI (Rp 52), KDSI
(Rp 65), KONI (Rp 92), LAMI (Rp 75), LMPI
(Rp 65), MCOR (Rp 75),
META (Rp 72), MTDL (Rp 74), MYOH (Rp 54), PNLF (Rp 76), PRAS (Rp 94),
PUDP (Rp 80), RAJA (Rp 76), RODA (Rp 77), SDPC (Rp 100), SKLT (Rp 90),
SMDM (Rp 100), TMPI (Rp 58), TOTL (Rp 89), SPMA (Rp 87), SQMI (Rp 90),
SULI (Rp 93), TMPO (Rp 58), UNIT (Rp 85), WAPO (Rp 80), WEHA (Rp 80),
WOMF (Rp 81), YULE (Rp 82).