Pasar Menyambut Positif Stimulus Global LONDON - Perdagangan saham menunjukkan tren positif awal pekan ini. Bursa saham di seluruh dunia menguat kemarin (8/12). Hal itu terjadi karena pasar menyambut positif rencana dan stimulus baru dari negara-negara dengan perekonomian kuat untuk memacu pertumbuhan ekonomi mereka.
Pada penutupan perdagangan Jumat (5/12), indeks di Wall Street rebound. Ini akhirnya berimbas pula pada lonjakan perdagangan di bursa-bursa Eropa dan Asia kemarin. Pasar bergerak positif meski Jumat pekan lalu muncul data terbaru bahwa angka PHK dan pengangguran di AS mencapai 533 ribu pekerja pada November lalu atau tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Kendati ada data itu, investor mulai percaya dengan langkah berbagai negara untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya. Indeks Dow Jones Industrials naik 3,1 persen ke level 8.635,42 Jumat. Bursa Eropa juga bergerak ke teritori hijau kemarin. Indeks FTSE 100 di London, Inggris, melonjak 168,70 poin (4,2 persen) ke posisi 4.218,07. Indeks DAX di Jerman melambung 242,97 poin (5,6 persen) menjadi 4.624,44. Indeks CAC-40 Paris, Prancis, melesat 174,33 poin (5,8 persen) ke level 3.162,34. Di Asia, indeks Hang Seng Hongkong menguat 1.198,78 poin (8,7 persen) dan ditutup 15.044,87. Itu merupakan indeks penutupan tertinggi dalam periode tujuh minggu terakhir. Indeks Nikkei-225 di Tokyo, Jepang, naik 411,54 poin (5,2 persen) dan ditutup pada posisi 8.329,05. Indeks Sensex di Mumbai, India, naik 4,6 persen. Sementara indeks Shanghai, Tiongkok, melonjak 3,6 persen. Indeks acuan di Australia juga terdongkrak 4,1 persen. Sedangkan bursa di Singapura, Malaysia, dan Indonesia tutup karena hari libur. ''Saat indikator ekonomi terlihat menakutkan, para pembuat kebijakan di banyak negara mulai bergerak lebih agresif guna mengakomodasi pasar,'' komentar Jeremy Batstone-Carr, head of research Charles Stanley, London. Para investor menunggu kelanjutan kabar positif dari sejumlah negara. Tiongkok dan India berencana meluncurkan paket baru stimulus besar-besaran. Di Washington, AS, rencana penyelamatan (bailout) tiga raksasa otomotif (Big Three) tampaknya akan segera terlaksana. Tiongkok berencana mengeluarkan stimulus baru. Para pejabat di Beijing sedang membahas rencana penambahan paket stimulus sebelumnya senilai USD 586 miliar (sekitar Rp 7.032 triliun dengan kurs Rp 12 ribu per USD). Pertemuan itu juga membahas mengenai kemungkinan untuk mendongkrak ekspor, memotong pajak pekerja berpenghasilan rendah, dan menginjeksi pasar modal Tiongkok yang terpuruk. Hanya, sejauh ini pemerintah Tiongkok masih belum mengumumkan. ''Yang jelas, semua merupakan tanda dan bukti bahwa pemerintah berupaya menyegarkan kembali kepercayaan investor,'' kata Ting Lu dan T.J. Bond, ekonom Merrill Lynch, dalam laporannya. Pekan lalu, Tiongkok bersama AS mengumumkan seusai forum Dialog Ekonomi Strategis (SED) bahwa mereka menawarkan hingga USD 20 miliar (sekitar Rp 240 triliun) dalam bentuk pinjaman pembiayaan impor bagi negara-negara berkembang. Kredit seperti itu makin sulit didapatkan negara berkembang karena para pemilik dana menahan uang mereka akibat krisis finansial global. Pemerintah Tiongkok juga mengkaji kenaikan defisit fiskal 2009 sebesar 56 persen guna menjaga pertumbuhan ekonominya di tengah perlambatan perekonomian global. Menkeu Tiongkok Xie Xuren menawarkan kenaikan defisit fiskal RMB 280 miliar atau USD 40,7 miliar (sekitar Rp 488,4 triliun). Sebelumnya, dia menyebut pada 2008 defisit fiskal tetap akan dipertahankan di bawah RMB 180 miliar. Proposal tersebut keluar setelah Tiongkok merilis paket stimulus RMB 4 triliun atau USD 586 miliar bulan lalu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Itu dilakukan dengan mengenjot konsumsi domestik di tengah lesunya ekspor negara tersebut. Ekonomi Tiongkok melemah ke posisi 9 persen pada kuartal III 2008. Itu level pertumbuhan terendah dalam lima tahun teralhir. Bank Dunia meramalkan pertumbuhan negara tersebut akan anjlok menjadi 7,5 persen pada 2009 dari proyeksi semula 11,9 persen. Proyeksi itu merupakan terendah dalam 19 tahun. Pemerintah India juga mengumumkan Minggu (7/12) soal rencana membelanjakan stimulus atau dana tambahan USD 4 miliar (sekitar Rp 48 triliun). Mereka juga akan memangkas pajak dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi negara itu yang mulai melambat. Pengumuman tersebut menyusul keputusan bank sentral India yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 1 persen. Di Washington, Kongres AS siap mengetok palu untuk menyetujui sokongan (bailout) bagi Big Three dalam seminggu ini. Wakil Demokrat di Kongres Minggu memberikan sinyal bahwa setelah negosiasi dengan Gedung Putih, paket pinjaman jangka pendek senilai USD 15 miliar (sekitar Rp 180 triliun) segera dicairkan bagi General Motors Corp. Ford Motor, dan Chrysler. Namun, mereka memberi peringatan bisa menarik bantuan sewaktu-waktu jika ketiga perusahan itu tidak mengambil langkah nyata guna menyelamatkan diri dan mempertahankan bisnis mereka kembali. Selain itu, para investor juga menyambut rencana Presiden AS terpilih Barack Obama yang diumumkan pekan lalu. Itu terkait dengan program fasilitas publik yang bisa menyerap dana lebih besar daripada sistem jalan tol antarnegara bagian. Sejauh ini, para pelaku pasar juga menunggu data soal sektor ritel, inflasi, dan sentimen konsumen yang akan memberikan petunjuk baru mengenai konsumsi di AS, yang mewakili tiga perempat ekonomi AS. ''Berbagai data yang ada mengindikasikan akan terjadinya perlambatan perekonomian. Itu sebabnya otoritas fiskal dan moneter membuat paket kebijakan yang saling mendukung antara satu dengan yang lain,'' kata Hans Redeker, analis BNP Paribas. Harga minyak juga relatif stabil pada perdagangan kemarin menyusul rencana pemangkasan produksi kartel minyak OPEC. Ini dilakukan untuk meredam penurunan harga minyak dari posisi terendah dalam empat tahun terakhir. Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Januari naik USD 2,51 ke posisi USD 43,32 per barel dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange. Padahal, Jumat harga minyak terkoreksi hampir USD 3 di posisi USD 40,81. (AP/AFP/aan/dwi) -- Office Representation in Surabaya? Visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or mailto:[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suits your needs. ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
