Harga Minyak Tembus Terendah

JAKARTA - Peluang harga BBM kembali turun kian terbuka lebar. Sebab,
harga minyak mentah dunia terus menuju titik terendah baru. Jurus
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas produksi 2,2
juta barel per hari terbukti tak cukup ampuh untuk mengatrol harga emas
hitam itu.

Di Bursa Berjangka New York (NYMEX), Jumat lalu (kemarin WIB), harga
minyak jenis light sweet untuk pengiriman Januari ditransaksikan di
level USD 33,44 per barel. Ini adalah harga minyak mentah terendah sejak
2 April 2004. Hingga kini, harga minyak telah anjlok 77 persen dari
posisi puncak USD 147 per barel Juli silam.

Ekonom Ichsanuddin Noorsy menilai, harga premium saat ini memang bisa
turun lebih besar. Sebab, harga Rp 5.000 per liter masih jauh dari harga
pasar. ''Seharusnya, harga premium bisa Rp 2.500 per liter jika
pemerintah tidak mencari untung," kata Ichsan dalam diskusi bertajuk
Harga BBM Turun, antara Politis dan Realistis di Jakarta kemarin
(19/12). Dia khawatir, selisih harga yang cukup besar bisa menjadi
peluang Pertamina untuk membiayai kepentingan politik menjelang 2009.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi)
Thomas Darmawan menyatakan, penurunan harga BBM sangat efektif
mendongkrak kinerja perekonomian. Menurut dia, penurunan harga solar dan
premium mampu menurunkan harga pangan dan bahan pokok hingga lima
persen.

Penurunan harga terutama terjadi pada bahan pokok nonkemasan seperti
minyak goreng curah atau bahan pangan pertanian. "Ini karena biaya
transportasi hampir seratus persen masuk dalam struktur biaya," tambah
Thomas. Kontribusi beban energi dalam struktur biaya industri makanan
dan minuman berkisar 3-15 persen.

Thomas mengatakan, penurunan harga pangan dan bahan pokok memang
berjalan lambat. Itu disebabkan pemerintah sedang memperketat impor.
Padahal, sebagian besar bahan baku industri makanan dan minuman
merupakan barang impor. Bahan makanan kemasan diperkirakan bakal turun
pada 2009. "Saat ini masih menggunakan stok lama. BBM menjadi salah satu
kontribusi biaya makanan kemasan," imbuhnya.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa
menambahkan, pemerintah seharusnya berada di depan untuk menciptakan
stimulus ekonomi dari sisi fiskal. Itu harus dilakukan terutama pada
saat sektor swasta masih lesu diterpa perlambatan ekonomi. Karena belum
mampu memberikan insentif fiskal dalam nominal besar, pemerintah harus
memperbaiki kualitasnya.

"Insentif fiskal nilainya kecil. Yang terpenting sekarang, penyerapan
dipercepat," katanya kepada koran ini kemarin (20/12). Erwin
menjelaskan, perlambatan pertumbuhan industri masih berlanjut karena
semua sektor mengurangi kapasitas produksinya.

Chief Economist Bank BNI Tony Prasetiantono menyebut, insentif fiskal
berupa penurunan tarif pajak akan efektif mengurangi beban pengusaha.
"Ini harus ditambah dengan percepatan dan kemudahan pembayaran restitusi
pajak," ujar Tony.

Di sisi lain, otoritas moneter juga masih bisa mengambil peran
mendongkrak pertumbuhan. Bank Indonesia (BI) dipercaya masih memiliki
peluang melonggarkan likuiditas. "Inflasi akhir 2008 saya perkirakan
10,8 persen. Angka ini cukup membuat BI percaya diri untuk menurunkan BI
rate ke arah 8 persen hingga kuartal pertama 2009 nanti," jelasnya.

Ekonom senior Indef Fadhil Hasan menilai, insentif fiskal saja tidak
akan cukup untuk melawan perlambatan ekonomi global. ''Harus diikuti
dengan pembangunan infrastruktur, terutama di wilayah kota dan
lokasi-lokasi industri yang banyak menyerap tenaga kerja," katanya.

Untuk mengantisipasi pemutusan hubungan kerja (PHK), harus ada upaya
mempermudah akses pembiayaan yang masuk ke sektor usaha mikro dan kecil.
"Program KUR (kredit usaha rakyat) dan skema pembiyaan mikro dan kecil
lainnya harus menjadi prioritas utama dalam program pemerintah pada
2009," tegas Fadhil.


-- 
50 sqm office space in Surabaya. Just 3 km from CBD. Contact: 
031-5013570, HP: 0852 3008 3510 or mailto:[email protected]


------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [email protected]

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke