Saat ini ada 7 emiten grup Bakrie di BEI. Kalau chart bisa dilihat bahwa 
umumnya trennya menurun dalam waktu 1 tahun terakhir ini. Saya coba memberikan 
gambaran dari sisi ROE (return on equity) yaitu kira2 keuntungan bersih 
perusahaan dibanding modalnya. Menurut saya ROE kurang dari 10% berarti 
usahanya kurang bagus karena suku bunga SBI saja 6.5%, suku bunga pinjaman bisa 
lebih dari 10%.

               2007         2008         2009
BNBR  |   4.55% | -244.32%  | -32.49%
BTEL   |   7.69% |     2.69%  |     1.95%
BUMI   | 70.32% |    31.89% |    12.95%
DEWA |   3.43% |      3.81% |    -0.67%
ELTY   |   3.25% |     6.04%  |     2.85%
ENRG  |   3.45% |    -0.94%  |   -99.32%
UNSP  |   8.66% |     7.03%  |      9.47%

Dari tabel di atas kita lihat bahwa BNBR memiliki kinerja terburuk karena rugi 
bersihnya sangat besar disusul oleh ENRG. Kinerja terbaik dicatat oleh BUMI 
tapi masalahnya BUMI ini kinerjanya terus menurun. Kinerja yang stabil dicatat 
oleh UNSP.

Dari keseluruhan emiten Bakrie yang benar2 berbobot hanya BUMI dan UNSP saja. 
BUMI memiliki tambang yang produksinya baik dan UNSP memiliki perkebunan yang 
produksinya pun cukup baik. Masalah di BUMI adalah tren laba yang terus menurun 
akibat beban utang. Masalah di UNSP adalah akuisisi Domba Mas yang belum jelas 
skemanya bagaimana karena aset Domba Mas hanya sekitar 1.1 trilyun rupiah, 
sedangkan utangnya sekitar 3 trilyun rupiah sehingga dengan skema akuisisi yang 
belum jelas, nasib utangnya yang besar menjadi tidak jelas juga. Jika Domba Mas 
dibeli dengan dana sekitar 2 trilyun rupiah tanpa utang (utang Domba Mas tidak 
dibawa setelah akuisisi oleh UNSP) maka valuasi UNSP akan bagus sekali.


---

Fabianto


      

Kirim email ke