Source:
http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/42435/Kala-Rp-10-Ribu-Jadi-Rp-1



 Sabtu, 31 Juli 2010 | 19:50

PEMOTONGAN NILAI RUPIAH
<http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/42435/Kala-Rp-10-Ribu-Jadi-Rp-1>

Kala Rp 10 Ribu Jadi Rp 1
<http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/42435/Kala-Rp-10-Ribu-Jadi-Rp-1>


JAKARTA. Isu pemotongan nilai rupiah sebenarnya sudah banyak beredar,
terutama sejak nilai tukar rupiah melorot 4-5 kali lipat terhadap dolar
Amerika. Beberapa kali juga pemerintah membantah isu pemotongan rupiah yang
sempat membuat trauma banyak orang Indonesia di tahun 1950 dengan
menggunting uang menjadi setengahnya.

Tapi kini Bank Indonesia benar-benar sudah berancang akan melakukan
pemotongan atau istilah kerennya redenominasi rupiah. Tapi dalam
redenominasi nilai tukar yang terjadi hanya pemotongan nilai mata uang untuk
menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya.

Gubernur BI terpilih Darmin Nasution mengatakan saat ini BI tengah menggodok
wacana mengenai redenominasi nilai tukar rupiah. "BI sedang menyiapkan
sejumlah hal agar nilai Rp 1 itu lebih berarti," ujar Darmin Sabtu (31/7).

Ia menambahkan, rencana redenominasi nilai tukar ini nantinya akan dibahas
terlebih dahulu dengan pemerintah dan DPR. "Harus melalui Dewan Perwakilan
Rakyat baru nanti kita soasialisasikan," jelasnya.

Dalam redenominasi, akan ada pemotongan angka nol pada nilai mata uang.
Pemotongan nol biasanya tiga buah di belakang. Tapi Darmin mengatakan belum
bisa memutuskan berapa jumlah angka nol yang akan dipotong. "Belum bisa
diputuskan sekarang berapa angka nol yang akan dikurangi, apakah tiga atau
empat. Namun hasil pembahasan akan diusahakan disampaikan ke pemerintah
tahun ini," janji mantan Dirjen pajak ini.

Sebenarnya proses untuk melakukan redenominasi nilai tukar membutuhkan waktu
sekitar empat hingga lima tahun.

Menurut Deputi Gubernur BI Budi Rochadi, setidaknya ada tiga persyaratan
yang harus dipenuhi jika ingin melakukan penyederhanaan satuan nilai
tukar.Tiga persyaratan itu adalah kondisi ekonomi yang stabl, inflasi yang
terjaga rendah, dan adanya jaminan stabilitas harga.

Selain itu, untuk melakukan redenominasi nilai tukar juga dibutuhkan
penarikan uang yang beredar di masyarakat secara bertahap. "Hal yang paling
sulit dilakukan dengan cepat dan mudah adalah sosialisai kepada seluruh
masyarakat Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa," jelasnya.


Herlina KD

Kirim email ke