Saham BUMI, Jumat (24/9) diprediksi melemah. Ketidakpastian masa
depan sinergi BTEL-TLKM menjadi pemicunya mengingat perpanjangan direksi
Telkom hanya sebulan. Saatnya ‘profit taking’!
Pengamat pasar modal, Satrio Utomo mengatakan, potensi pelemahan saham PT Bumi
Resources (BUMI)
akhir pekan ini karena beberapa faktor. Salah satunya soal penguatan
saham grup Bakrie termasuk BUMI selama ini yang berpangkal pada
pembicaraan dengan PT Telkom (TLKM).
Namun, menurut Satrio, kemarin, keluar berita, perpanjangan direksi Telkom
hanya sebulan. Karena itu, deal Telkom dengan PT Bakrie Telecom (BTEL) akan
sangat tergantung pada direksi yang baru.
“Karena itu, BUMI akan mengarah ke level support Rp1.950 dan Rp2.150 sebagai
level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (23/8).
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp75 (3,48%) ke
level Rp2.075 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp2.150. Harga
tertingginya mencapai Rp2.175 dan terendah Rp2.000. Volume transaksi
mencapai 262,9 juta unit saham senilai Rp547,6 miliar dan frekuensi
5.080 kali.
Lebih jauh Satrio mengatakan, apa yang diketahui pasar selama ini
terkait direksi Telkom tidak seperti itu. “Bagi pasar Direksi Telkom
sudah pasti dipimpin Rinaldi Firmansyah,” imbuhnya.
Keadaan ini, berpeluang memicu pergerakan saham grup Bakrie kembali
mundur termasuk saham BUMI. Tapi, ini harus masih harus dicermati pasar.
“Pengaruh negatifnya bisa dalam waktu yang panjang. Sebab, main sentiment
pergerakan grup Bakrie dan BUMI berasal dari dari sinergi Flexi-Esia itu,”
ucapnya.
Satrio mengkhawatirkan, pelaku pasar saat ini akan wait and see kembali atas
BUMI sehingga menahan tren penguatan selama ini.
Di sisi lain, potensi tertekannya saham BUMI, juga karena faktor teknikal.
Menurutnya, jika dilihat dari sisi candlestick terakhirnya, saham BUMI akan
mengalami penurunan akhir pekan ini. “Candlestick IHSG pun tidak terlalu baik
sehingga tidak kondusif bagi pergerakan BUMI,” tutur Satrio.
Source: Inilah
Rita