Jakarta – PT Bumi Resources (BUMI) akan menerbitkan saham baru
tanpa HMETD pada akhir September ini. Namun, China Investment
Corporation (CIC) dikabarkan tidak ikut serta sebagai investor
strategis. Bagaimana imbasnya terhadap BUMI? Menjelang aksi korporasi BUMI,
beredar rumor bahwa CIC tidak akan masuk sebagai stand by buyer non preemptive
right issue BUMI. CIC disebutkan tidak akan subscribe,
karena posisinya sebagai kreditor BUMI dinilai jauh lebih
menguntungkan, terutama dengan adanya perjanjian utang dengan bunga
tinggi. Selain itu, perusahaan investasi raksasa asal China ini enggan
berpartisipasi, karena risiko kreditur yang jauh lebih kecil.Terkait
hal ini, pengamat pasar modal Satrio Utomo mengatakan, CIC memang sejak
awal terlihat tidak mau menambah kepemilikan di BUMI. Apalagi CIC
sebelumnya sudah memberikan pinjaman kepada BUMI dengan nilai yang cukup
besar. “CIC khawatir dengan utang yang terus ditukar dengan saham,”
katanya kepada INILAH.COM.CIC tahun lalu diketahui memberi
pinjaman ke BUMI senilai total US$1,9 miliar, dengan tingkat bunga 12%
per tahun. Pinjaman senilai US$600 juta jatuh tempo 2013 dan US$600 juta
berikutnya pada 2014. Sementara itu, pinjaman senilai US$700 juta
sisanya memiliki waktu jatuh tempo pada 2015.Untuk memperoleh
utang dari CIC, BUMI telah menjaminkan 70% saham PT Arutmin Indonesia,
13,6% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), dan 70% saham PT Indocoal Kaltim
Resources. Selain itu, Bumi menggadaikan 70% saham PT Indocoal Kalsel
Resources dan 99,9% saham PT Sitrade Coal kepada CIC.
Source:inilah
Rita