Bloomberg melaporkan kemarin Selasa pasca penutupan bursa bahwa Straits
Resources Ltd., perusahaan tambang mineral Australia, telah menerima
penawaran atas sahamnya di anak perusahaan Straits Bulk & Industrial Pty.
Ltd. selaku pemegang kuasa pertambangan di wilayah kerja Sebuku dan
Jembayan, Kalimantan. (Straits Resources Says It Received Approaches for
Indonesian Coal Assets,
http://www.google.com/search?q=Straits+Resources+Says+It+Received+Approaches+for+Indonesian+Coal+Assets
).

Straits Resources berkolaborasi bersama PTT Group of Companies asal Thailand
yang telah mengakuisisi terlebih dahulu sebagian saham tersebut pada awal
2009. Disebutkan bahwa Straits Resouces merencanakan melepas 18.2% sahamnya
pada Strait Asia Resouces Ltd. selaku pemegang saham Jembayan/Sembuku untuk
lebih berkonsentrasi di tambang emas dan tembaga.

Tambang Sebuku saat ini menjadi salah satu penghasil batubara dunia yang
memiliki biaya terendah untuk operasional ekspor. Kapasitas produksi di
tambang itu mencapai delapan juta ton per tahun. Cadangan batubara tambang
ini diperkirakan 381 juta ton.
Sementara itu, kapasitas produksi tambang Jembayan mencapai 11 juta ton per
tahun. Total sumber daya batubara dari tambang ini sekitar 254 juta ton dan
cadangan 112 juta ton.

Straits Resources Ltd. belum merilis siapa pihak yang telah menawarkan
akuisisi tersebut. Namun demikian, merujuk kepada akuisisi tahun 2009
sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada waktu itu, diketahui bahwa PT
Indika Energy adalah penawar prospektif akuisisi 2009 namun kemudian
dibatalkan. Pembatalan diduga karena faktor kesiapan dana pada waktu itu.
Apakah PT Indika Energy atau emiten berkode INDY saat ini telah lebih siap?
Jawabnya mungkin bisa dilihat dari rencana corporate action yang sedang
diantisipasi oleh INDY saat ini.

"PT Indika Energy Tbk (INDY) akan melepas kembali (refloating) 18,5% saham
anak perusahaan, PT Petrosea Tbk (PTRO) kepada publik. Saham publik di
Petrosea saat ini baru 1,5% setelah penawaran tender oleh Inika pada Juli
2009." (Investor)

Secara fundamental INDY menunjukkan kinerja keuangan yang sangat positif
setidaknya semester pertama 2010, sebagaimana dikutip dari Harian Investor,

"Hingga 1H10, INDY membukukan laba bersih sebesar Rp467,16 miliar atau naik
28,13% dibanding periode sama tahun sebelumnya sekitar Rp364,61 miliar.
Kenaikan laba tersebut ditopang oleh lonjakan pendapatan bersih perusahaan
selama 1H10 sebesar 116,7% menajdi Rp1,77 triliun dibanding periode sama
tahun sebelumnya Rp815,17 miliar."

Prospek yang cemerlang ini pun diprediksikan akan dipertahankan pada kuartal
ketiga yang akan segera dilaporkan. Sementara dari aspek teknikal,
pergerakan INDY 1-2 bulan terakhir menunjukkan konsolidasi yang sudah cukup
jenuh dan bersiap untuk segera mencapai harga new high, tidak hanya 52 week
tetapi juga all time high dengan menembus target psikologis 3700 sebagaimana
telah diestimasi oleh Mandiri Sekuritas pada 14 Juli 2010.

Dapat juga dicermati akumulasi yang telah dilakukan oleh beberapa broker
asing, salah satunya yang dominan oleh J.P. Morgan yang berkode BK. J.P.
Morgan tercatat memulai akumulasi secara signifikan sejak 23 Juli 2010
setelah distribusi pada kuartal pertama. Tercatat 150 miliar lebih dan terus
bertambah hingga Rabu ini akumulasi mid-term yang dilakukan J.P. Morgan atas
saham INDY.

Mempertimbangkan kesemua faktor internal dan eksternal di atas, sangat besar
kemungkinan momentum ini tinggal menunggu waktu untuk kenaikan INDY yang
sangat signifikan melampaui all time high dan target price yang ditetapkan
oleh Mandiri Sekuritas. Terlebih sentimen atas menguatnya harga komoditas,
khususnya batubara menjelang akhir tahun serta akan dirilisnya laporan
keuangan kuartal 3, menjadikannya sulit untuk menahan laju saham INDY dalam
waktu yang sangat dekat.

Disclaimer on. At your own risk.

"+"

Kirim email ke