Follow up atas simple/popular long term investment outlook ICBP (14 Oktober 2010) sebagaimana lengkapnya pada email di bawah. Pilihan yang cukup beralasan ICBP over INDF.
Surat INDF ke Bapepam LK/BEI (No. 048/ISM/CS/X/10, 29 Oktober 2010) ( http://www.idx.co.id/eReport/IssuerAnnouncement/tabid/289/lang/id-ID/language/id-ID/Default.aspx ) "...Peningkatan penjualan yang disumbang oleh Grup Produk Konsumen Bermerk ("CBP") (kontribusi 43% terhadap pemasukan INDF, red.) diimbangi dengan PENURUNAN penjualan Grup Bogasari dan Agribisnis, yang masing-masing terutama disebabkan oleh penurunan harga jual tepung terigu dan penjualan CPO..." Surat ICBP ke Bapepam LK/BEI (No. 020/ICBP/CS/X/10, 29 Oktober 2010) ( http://www.idx.co.id/Portals/0/Emiten/201010/FFB1C540-98FE-45BE-9885-065E731C96C8.PDF ): "...mengumumkan kinerja keuangan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. IBP membukukan penjualan bersih sebesar Rp13.57 triliun, meningkat 10,4$ dari Rp12,29 triliun pada periode yang sama tahun lalu, didorong oleh pertumbuhan volume di seluruh divisi dan harga jual rata-rata yang lebih tinggi. Divisi-divisi yang termasuk dalam ICBP adalah Mi Instan, Dairy, Penyedap Makanan, Makanan Ringan dan Nutrisi & Makanan Khusus..." "+" 2010/10/14 positif01 <[email protected]> > ICBP secara sentimen sudah mencukupkan waktunya berada dalam deraan dan > tekanan pasar. Konfirmasi dari otoritas berwenang dan berdaulat di Singapura > serta Malaysia mencukupkan kekhawatiran yang sempat berkembang, dan lebih > dari cukup untuk mengembalikan confidence pasar. Secara umum, menghentikan > konsumen makan mi di tengah akselerasi konsumsi mi itu sendiri dari tahun ke > tahun hampir dirasa tidak mungkin, kecuali ada intervensi langkah-langkah > hukum untuk melarang, yang juga lebih tidak mungkin lagi. Yang dialami oleh > mi instan lebih dulu dialami oleh produk yang mendominasi pasar seperti Coca > Cola yang di awal masa jayanya pernah diributkan dengan kontroversi sebagai > minuman obat bukan minuman biasa, dan sampai saat ini isu tentang bahaya > minuman soda karbonasi masih timbul tenggelam. Yang terjadi tingkat konsumsi > soda justru meningkat. > > Indomie noodles in Singapore safe to eat ( > http://www.channelnewsasia.com/stories/singaporelocalnews/view/1086815/1/.html > ) > Indomie safe to eat: Malaysia ( > http://health.asiaone.com/Health/News/Story/A1Story20101013-242206.html) > > Secara strategi dagang dengan competitive advantage sebagai pengelola merek > dagang salah satunya mi instan dari sekian produk konsumsi lainnya, tidak > salah menempatkan ICBP sebagai paralel lokal dari produk global yang > memiliki competitive advantage seperti Coca Cola atau P&G. Dengan penguasaan > pengelolaan merek dagang dan pangsa pasar yang sangat signifikan, > produk-produk ICBP secara teknis memiliki efek "monopoli" yang dengan > sendirinya akan selalu mampu men-drive pasar ke depan dan akhirnya > meningkatkan earnings dan dividen untuk manfaat pemegang saham. Dan sebagai > produk konsumsi, produk-produk ICBP tidak akan lekang (durable)ditinggal > zaman sebagaimana produk teknologi akan selalu ditinggalkan masanya setiap 2 > minggu (seperti produk telepon genggam). "Durability" dan "Competitive > Advantage" adalah dua kata kunci yang menjadi pijakan investor sekelas > Warren Buffet dalam pencarian super stocks-nya. Buffet pernah berujar, > > "I look for business in which I think I can predict what they're going to > look like in ten to fifteen years' time. Take Wrigley's chewing gum. I don't > think the Internet is going to change how people chew gum." > > INDF price bias. Banyak pelaku pasar yang segera membandingkan harga ICBP > saat ini di kisaran 5400-5700 sebagai harga yang mahal dengan membandingkan > terhadap saham induknya INDF, dan terlebih acuannya terhadap P/E ratio. > Kesan pertama membenarkan jika ICBP seharusnya di bawah harga INDF dan harga > INDF sendiri (5000-an)sudah di bawah harga IPO-nya dulu di 6200. Well, itu > konklusi kilat yang kurang tepat. INDF sudah mengalami stock split 2 kali ( > http://www.indofood.com/about_history.aspx). Tahun 1996 dengan rasio 1:2 > dan 2000 1:5. Artinya jika ingin melihat "label" harga INDF terhadap ICBP, > kalikan dulu dengan leverage stock split rasionya (kurang lebih 5-7) dan > akan didapat "label" riil di 30.000. Bagaimana dengan P/E ratio ICBP yang di > kisaran 15-25 di atas PER sektoral? Well, PER tool yang bermanfaat untuk > menampilkan sekilas secara kilat valuasi, tetapi tidak selalu akurat untuk > merefleksikan ekspektasi pasar, terlebih pengaruh cycle bursa lebih dominan > menjelaskan mengapa PER tinggi ketimbang PER memprediksi cycle akan ke mana. > William O'Neill (How to Make Money in Stocks) pernah berujar, > > "Reliance on P/E ratios often ignores more basic trends. The general > market, for example, may have topped, in which case all stocks are headed > lower. To say a company is undervalued because at one time it was selling at > 22 times earnings and it can now be bought for 15 is ridiculous and somewhat > naive." > > Namun demikian, saya tidak akan men-dismiss PER begitu saja, tetapi seperti > Bill menggunakannya lebih sebagai sarana estimasi ekspansi harga untuk 2 > tahun ke depan. Caranya, dengan mengalikan PER actual saat buying dengan > prediksi kenaikan PER 2 tahun ke depan, dan kemudian mengalikan PER future > tersebut dengan estimasi earnings 2 tahun ke depan. Dengan estimasi PER > ICBP, katakanlah 20 pada saat beli di 5550 maka 2 tahun ke depan PER > diprediksi naik 30% (20 X 130%=26). Kemudian eps diestimasi 2 tahun ke > depan, misalnya 336 maka P/E expansion atau ekspansi harga investasi 2 tahun > ke depan diharapkan mencapai 8736 (26 X 336) atau naik 57% dari buy point di > 5550. Not bad, dan jangan lupakan potensi stock split seperti induknya dulu. > > Mengapa tidak memilih INDF? Meski secara hukum masih memegang hak atas > merek dagang produk-produk ICBP, itu hanya persoalan administratif dan waktu > hingga semua hak atas merek akan dialihkan. Dan tidak hanya dialihkan, > tetapi belajar dari bagaimana korporasi lain meraup dana tambahan untuk > ekspansi induk di bidang lain di kemudian hari, bukan mustahil INDF bisa > melepas ICBP sebagaimana MPPA melepas Matahari Department Store (LPPS)-nya, > bukan? Dan dari aspek strategi investasi, mengapa memilih saham yang sudah > stock split, sementara ada saham yang jelas menghasilkan produk unggulan dan > belum stock split? Kalau saya investor, saya ingin rasakan potensi > pelipatgandaan harga setelah stock split, dan itu hanya berlaku untuk yang > belum stock split, ICBP. > > Jadi, jika Anda sedang mencari saham pilihan investasi maka pertimbangkan > ICBP untuk long haul/long term investment mengingat Durable dan Competitive > Advantage-nya sebagaimana Warren Buffett memilih saham. Jika Anda tidak > punya kesabaran seperti Buffett menunggu at least 10 tahun, Anda bisa > terapkan aturan investasi guru Buffett, Benjamin Graham dengan investasi > intermediate, selama 2 tahun (time limit) atau target harga 50% (price > limit) yang mana yang lebih dulu. Saham defensif seperti ICBP pada sektor > konsumsi akan menjadi bantalan dan diversifikasi portofolio Anda atas > koreksi/fluktuasi selama IHSG mengarungi separuh/sepertiga sisa kejayaan > super bullish cycle-nya hingga paling lambat 2012. > > "+" >
