Data perdagangan komoditas timah di bursa Kuala Lumpur (KL) dan London Metal
Stock Exchange (LME) menunjukkan 'pull back' mendalam. Di bursa KL yang
menjadi acuan pergerakan harga TINS untuk hari ini saja sudah merosot 1%
lebih sekaligus menandai hari ke-4 pull back sejak 11 November dengan total
penurunan -4% lebih. LME mencatat penurunan yang lebih dalam lagi. Kondisi
penguatan dollar secara umum dan pelemahan permintaan Cina yang di-'blow
out' dengan rencana kenaikan tingkat suku bunga 'within weeks' sebagaimana
survei Bloomberg, dan ditimpali dengan persoalan klasik 'sovereign debt'
Eopra, sama sekali belum menunjukkan potensi reversal komoditas, baik hard
atau soft, secara umum dan timah khususnya.
Para traders/investors di bursa AS sudah berbicara tentang momentum
quantitative easing 3, bukan lagi 2 yang sedang diimplementasikan. Dan,
penguatan komoditas yang lebih ditopang oleh 'debasement US dollar' atau
pelemahan dollar ketimbang signifikansi permintaan global, akan mendapatkan
sentimen negatif justru jika data-data ekonomi AS positif. Positifnya data
AS yang dirilis minggu ini, sepert retail sales, business inventory,
consumer spending menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi.
Ringkasnya, ekonomi membaik, daya beli meningkat, harga-harga
produsen/konsumen menyesuaikan, tidak perlu pengucuran likuiditas untuk
menjaga inflasi tidak turun. Fed tidak perlu intervensi QE lagi, USD menguat
maka komoditas kembali kandang. QE2? Mayoritas efeknya sudah 'priced-in',
that's why now people are talking QE3.
Ironisnya, untuk komoditas, khususnya 'hard commodities/metal' data
penunjang seperti yang dirilis tadi malam 'manufacturing data' di negara
bagian New York anjlok tajam ('deteriorating'). Padahal data manufaktur
sangat mempengaruhi permintaan atas metal mengingat komponen metal banyak
digunakan dalam pabrikasi/produksi peralatan dan 'piping' rumah dan
barang-barang elektronik, khususnya timah dan tembaga. Dan, banyak data
regional masih akan dirilis. Bahwa data selalu dirilis bukan faktor sentimen
penting, tetapi data dirilis dalam konteks yang penting seperti saat ini,
itu tidak selalu terjadi, that's why they are all so of importance.
Implikasi TINS? Ekspektasi 'pull back ke estimasi konsensus harga terbawah
di Rp2.350.
'+'
'