Cerita tentang Bakrie seperti tak akan ada habisnya. Ketika Persoalan Gayus 
belum rampung dipahami, Bakrie mencuri perhatian publik dengan sebuah perkara 
yang baru. Kali ini melibatkan Nathaniel Rothschild. 
Menjadi lebih menarik karena nama Rothschild punya daya magis di dunia 
finansial. Dia mewarisi bakat para penduhulunya yang pintar mencari aliansi. 
Deretan nama-nama Rothschild pernah menembus dinasti terkemuka Eropa melalui 
perkawinan. Pergaulan Nathaniel pun luas, termasuk dengan keluarga Khadafi. 
Kali ini Rothschild seakan menemui 'dinasti' yang lain, Bakrie. Nama yang untuk 
lingkungan Indonesia saat ini pun tidak kalah daya magisnya. 
Tentang aliansi ini, pemilik kelompok ini Aburizal Bakrie cuma menanggapi 
dengan tertawa yang menyimpan rasa optimistis. "Saya tidak lagi terlibat di 
bisnis. Jadi tak bisa kalau saya menanggapi. Namun, kalau soal Gayus, itu 
masalah kecil," ujarnya kepada Bisnis. 
Ical, panggilan akbar Aburizal Bakrie, seakan menegaskan keyakinannya kalau 
soal Gayus cuma sebuah intrik politik di dalam negeri yang mudah ditangani. 
Padahal kasus Gayus yang dituduh 'beraliansi pajak dengan perusahaan-perusahaan 
Bakrie' saat ini tengah mencuri perhatian publik. 
Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkali-kali memberi instruksi agar 
kasus itu terus diteliti. Demikian juga Nirwan D. Bakrie tidak mau 
berpanjang-panjang membagi cerita soal masuknya Rothschild. 
Dia cuma berharap semoga ini menjadi berita yang menarik dan positif untuk 
publik. 
Sebagai ganti, dia mengirim artikel Financial Times bertajuk Vallar in $3 bn 
Asian coal deal-- Rothschild and Bakrie families join forces. "Silakan 
membacanya untuk melengkapi berita di harian Anda." Kira-kira begitu pesannya. 
Penjelasan justru datang dari Boby D Gafur, Dirut dan CEO Bakrie & Brothers. 
"Beruntung kami bisa mendapatkan Rothschild. Ini nama besar yang membuat Bumi 
menjadi perusahaan kelas dunia." 
Dengan Rothschild yang memiliki Vallar yang baru saja mencatatkan sahamnya di 
bursa London, jelas Boby, Bakrie akhirnya lebih mudah mencari akses finansial 
ke para pemodal di luar negeri. 
Pernyataan itu cukup menjelaskan mengapa Bakrie memilih Rothschild. 
Pemilik hedge fund nomor besar ke-7 di Inggris dalam daftar Sunday Times-itu 
baru saja menjual saham Vallar di bursa London untuk mendapatkan sekitar 
US$1,07 miliar dana tunai. 
Padahal di prospektus dia cuma berjanji akan mencari perusahaan tambang dunia 
yang pantas untuk diakuisisi. Lalu, seperti keberuntungan bagi keluarga Bakrie, 
Bumi Resources yang didapati. 
Menilik watak bisnis keluarga Bakrie yang berani berjibaku dengan utang, 
transaksi ini memuluskan gairah ekspansi perusahaan itu tanpa harus memiliki 
dana tunai. 
Sebuah bentuk leverage yang di dunia pasar modal semuanya mungkin terjadi asal 
berani bermimpi, cerdas menetapkan langkah bisnis serta pandai-pandai mencari 
cela regulasi. 
Dari catatan Bisnis, saat ini Bakrie & Brothers memiliki utang yang besar. Bumi 
misalnya memiliki utang kepada lembaga keuangan asal China itu sebesar US$1,9 
miliar. 
Dari jumlah itu, US$403 juta akan jatuh tempo pada tahun ini. Perseroan juga 
akan membayar utang kepada kreditur lain, sehingga total utang yang akan 
dilunasi US$620 juta. 
Dengan pelunasan itu, utang perseroan pada akhir tahun ini berada di kisaran 
US$3 miliar, dari saat ini di kisaran US$3,7 miliar. 
Yang menjadi jaminannya adalah saham-saham anak usaha termasuk Bumi. Tentu saja 
muncul pertanyaan yang menggelitik. Mengapa para kreditur dengan mudah 
membiarkan saham yang dijaminkan itu berpindah pemilik kepada Rothschild 
Berbagai dugaan 
Di pasar beredar berbagai dugaan, salah satu yang membeli saham IPO Vallar di 
London itu juga Bakrie. "Rothschild hanya dipakai namanya. Ini sama dengan 
membeli dirinya sendiri." 
Sebuah dugaan yang lagi-lagi harus disertai bukti sebagaimana halnya ketika 
publik menduga perusahaan Bakrie terlibat penyuapan pajak yang melibatkan 
Gayus. 
Yang jelas, terkait aliansi Rothschild-Bakrie, hanya Credit Suisse yang bisa 
memberikan jawaban yang pasti. Dia yang selama ini mengatur transaksi, baik 
untuk perusahaan-perusahaan Bakrie maupun untuk go public Vallar yang dimiliki 
Rothschild. 
Apa pun jawabannya, yang juga pasti Credit Suisse telah berhasil menyandingkan 
dua kekuatan besar, Rothschild yang sudah berumur dua abad dengan Bakrie yang 
tengah membangun basis dalam tiga generasi. 
Satu keturunan Yahudi-Jerman yang menguasai sumber finansial (source of fund) 
dan yang lain turunan Sumatra-Indonesia yang menguasai batu bara. 
Saat ini, Bumi, salah aset paling penting dari kelompok usaha itu menjadi 
produsen batu bara nomor satu dunia dengan pangsa 24% dan Berau berada di 
urutan ke-24 dengan porsi 7%. 
Masuknya Rothschild yang membawa jaminan pendanaan yang kuat dan ditopang oleh 
kenaikan harga batu bara di pasar dunia membuat aliansi dua 'dinasti' itu 
sangat stretegis dan sulit ditandingi. 
Itu sebabnya Bumi Resources dan Berau, melalui aliansi strategis ini, diyakini 
akan semakin prospektif. Sekurang-kurangnya itulah keyakinan dari keluarga 
Bakrie dan Rothschild. Tidak percaya 
Silakan publik mengamatinya. Yang pasti kemarin harga saham Bumi mulai 
menggeliat. Bumi misalnya naik 7,7% menjadi Rp2.800 dengan nilai perdagangan 
Rp1,145 triliun. Saham Bakrie & Brothers juga menguat 26,7% dan ditutup di 
level ke Rp76. Beberapa anak perusahaan Bakrie juga terkerek naik. 
Akankah harga sahamnya terus menguat untuk waktu yang panjang Akankah gabungan 
kekuatan itu akan dengan mudah mengamankan Bumi dari semburan lumpur panas 
Sidoarjo dan sodokan Gayus 
Jawaban dan pembuktian yang tidak mudah didapatkan. Namun, sebagai pemain 
saham, Anda tentu terlambat kalau menunggu hingga semua kepastian itu datang


      

Kirim email ke