Dalam beberapa posting saya yang lalu (di antaranya terakhir:
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/94081), benang merah yang dapat
ditarik yang bersifat negatif atau cenderung 'underweight', istilah analis,
dua sektor, banking & komoditas, untuk investasi horizon waktu intermediate
adalah ekses dari kondisi finansial secara makro baik global, regional dan
lokal, serta khususnya komoditas faktor 'overconfidence' market yang
men-trigger alert untuk akumulasi aktif intermediate atau long term.

Untuk perbankan, ringkasnya prospek intermediate akan kental dengan
'tightening policy' yang akan segera dilakukan setidaknya dalam tahun 2011.
Sementara untuk komoditas, 'overconfidence' yang didasarkan kepada 'inflated
demand' tidak sepenuhnya diikuti dengan 'shrinked supply' atau penyusutan
suplai. Faktor keterbatasan/hambatan suplai sepanjang paruh kedua 2010
khususnya akibat cuaca, tidak sepenuhnya dapat dijustifikasi untuk
me-maintain prospek harga satu tahun ke depan. As a matter of fact, misalnya
untuk minyak bumi, suplai global justru berlebih, belum lagi aksi 'contango'
berupa penumpukan stok minyak selama harga rendah mulai banyak di-redeem ke
pasar kembali. Ada satu faktor penting, yang akan terealisasi di 2011 yang
akan menyebabkan fenomena 'unrealistic rising commodities' di 2008
dipastikan tidak akan terjadi. Apa itu, nanti saja, yang jelas sebagian
pelaku komoditas besar paham itu. Untuk sementara ini, ada 2 hal
perkembangan terkini yang bisa dikalkulasi dalam faktor pertimbangan
investasi di kedua sektor tersebut.

1. Bank Indonesia diperkirakan sebelum akhir tahun akan segera menaikkan
giro wajib minimum mata uang asing pada lembaga perbankan ('foreign-exchange
reserve requirement'). GWM mata uang asing ini diturunkan dari 3% menjadi
hanya 1% pada saat krisis finansial global Oktober 2008. Ingat, kenaikan GWM
ini masih disertai potensi kenaikan tingkat suku bunga yang diprediksi
sebanyak 3 kali tahun depan, 1 kali sebelum kuartal 1, dan 2 kali
sesudahnya.
http://www.bloomberg.com/news/2010-12-20/indonesia-may-unveil-changes-in-banks-foreign-exchange-reserves.html

2. Faktor cuaca yang berkembang buruk paruh kedua 2010, khususnya seperti
badai La Nina yang telah mengacaukan kegiatan penambangan dan penanaman
benih di Asia dan Australia, sepertinya sudah mencapai puncaknya. La Nina,
hujan dan banjir memang banyak mengganggu produksi tidak hanya sektor agri
tapi juga pertambangan seperi 'coal mining', timah, biji besi di Indonesia,
Australia dan juga Cina sebagai importir nomor wahid. Namun demikian BMKG
Australia sudah mengeluarkan indikasi bahwa La Nina akan segera usai.
http://www.reuters.com/article/idUSL3E6NL05I20101221

Sampai pada titik ini, cukup beralasan juga, misalnya pertimbangan strategi
investasi yang direkomendasikan oleh Deutsche Bank untuk fokus kepada sektor
'cyclical industries' seperti retail, consumer, auto dan sub-kategori
lainnya seperti basic industry penunjang sektor defensif yang akan
mendapatkan 'follow-on effect' dari meningkatnya konsumsi, misalnya
makanan/minuman tidak akan dijual dalam gentong tapi dalam kemasan. Selain
itu, paling tidak apakah La Nina masih akan menyapa, konsumen tetap harus
belanja ke ritel/supermarket atau hypermarket. La Nina boleh menimbulkan
kesengsaraan, tapi di balik kesengsaraan selalu ada yang tetap disukai oleh
La Nona, yaitu auto/kendaraan.

'+'

Kirim email ke