Sudah terlalu banyak ulasan, pengajaran bahkan seminar tentang makna Natal. Namun ada sebuah pertanyaan sederhana yang perlu kita jawab bersama, “apakah Natal masih bermakna ?” Apakah kisah kelahiran Almasih, Firman yang telah menjelma menjadi manusia pada dua puluh satu abad yang silam tetap aktual dan relevan dengan realita kehidupan kekinian ? Apakah merayakan Natal hanya sekedar bernostalgia akan sebuah cerita usang yang setiap tahun diulang ? Jawabannya jelas, Natal sangat bermakna, aktual, tidak pernah usang dan relevan sepanjang jaman. Natal juga bukan cerita usang, tetapi sebuah karya agung dan mulia dalam sejarah umat manusia. Masalahnya terletak bagaimana kita memaknai dan mengejawantahkan makna tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk cara kita dalam menyambut dan merayakan perenungan hari Natal.
Natal adalah peristiwa kelahiran agung yang sangat bersahaja, lahirnya sebuah kabar baik, lahirnya sebuah harapan dan lahirnya sebuah pembelaan. Sudah seharusnya kita sambut dan rayakan Natal dengan menerjemahkan nilai-nilai kabar baik, harapan dan pembelaan dalam kehidupan ril sehari-hari. Makna Natal kadang dikaburkan oleh derasnya arus sungai sekularisme dan komersialisasi. Kebersahajaan kandang domba yang sarat makna serta pesan filosofis, teologis dan profetik pencerahan telah diganti dengan kemewahan hotel bintang lima, pesta gegap gempita dan pameran keberadaan. Di sisi lain, pada malam Natal nyata-nyatanya tidak semua anak manusia dapat merasakan kabar baik Natal, karena siang malam mereka harus bergumul melawan beban kehidupan dan ini tidak tersentuh oleh semarak dan nilai-nilai perenungan, peringatan dan perayaan Natal, karena ada tembok-tembok tebal tinggi pembatas dan pembeda. Sejarah mencatat, rakyat yang bersatuhati berdemonstrasi melahirkan kekuatan dinamit yang sanggup mengganti suatu orde pemerintahan yang sebelumnya sangat kokoh dan mencengkeram kehidupan rakyatnya. Apa yang akan terjadi bila kita semua bergandengtangan bersatuhati mendemonstrasikan makna dan semangat Natal, yaitu semangat pembelaan, keberpihakan, kepedulian dan pembawa harapan ? Bayangkan dampaknya ? Tembok2 kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, ketidakadilan dan ketidakberdayaan akan runtuh bergandenggeret dengan sendirinya. Kita tentu masih ingat demontrasi iman yang berani dari panitia natal nasional 2004, yang meniadakan acara perayaan dan seluruh anggaran disumbangkan untuk korban tsunami di aceh. Padahal seluruh acara telah dipersiapkan, bahkan sudah digladiresikan. Bukankah korban tsunami dalam wajah lain ada disekeliling kita? Selamat menyambut hari Natal 2010 dan Tahun Baru 2011 bagi sahabat-sahabat yang merayakannya, bersama kita jadikan semuanya lebih mempunyai arti.
