Julukan Amerika Serikat sebagai negara superpower sudah patut untuk dikaji 
ulang, dalam bidang ekonomi lebih spesifiknya. Sebagai bukti, perekonomian 
negara digdaya tersebut hampir ambruk ketika krisis sektor keuangan menghantam, 
puncaknya tahun 2007. Pemerintah US sudah mengucurkan total dana sekitar $ 11.6 
triliun, termasuk paket stimulus perekonomian senilai $ 787 miliar. Bahkan 
raksasa-raksasa korporasi kelas dunia, seperti Citigroups, Lehman Brothers, 
American Insurance Group (AIG), Fannie Mae, dan Freddie Mac tak luput dari 
tuntutan Chapter 11(US bankruptcy code).

Tahun 2010 merupakan masa konsolidasi korporasi-korporasi, yang ditandai dengan 
maraknya corporate action baik berupa merger maupun akuisisi. Hal tersebut 
dilakukan sebagai tindakan business rebalancing dalam rangka recovery atas 
krisis yang terjadi sebelumnya.

Negara-negara di Eropa yang terkenal dengan kemapanan dan kestabilan 
perekonomiannya juga mengalami guncangan hebat di tahun 2010 ini. Krisis di 
negara Eropa ini spesifiknya adalah krisis defisit anggaran 
pemerintah (government sovereign debt) dengan timbunan hutang yang teramat 
besar. Tak pelak lagi, lembaga-lembaga pemberi rating utang men-downgrade 
rating utang negara-negara di Eropa.
Krisis utang di Eropa ini berpusat di Yunani, yang diakibatkan tingginya cost 
of debt yang ditanggung pemerintahnya. Betapa tidak, sejak tahun 1993 rasio 
utang terhadap PDB negara tersebut secara terus menerus berada diatas 100%. 
Negara-negara Uni Eropa dan IMF kemudian mengucurkan dana untuk menstabilkan 
keadaan Yunani dalam jumlah tak kurang dari €110 miliar. Berikut disajikan 
tabel perbandingan total hutang terhadap GDP negara-negara di Eropa tahun 2009.


Akibat dari krisis yang melanda Amerika dan Eropa tersebut, aliran dana 
mengalir deras ke negara-negara berkembang (emerging market) di Asia. Indonesia 
adalah salah satu negara yang kebanjiran likuiditas akibat krisis tersebut. Hal 
tersebut terjadi mengingat Indonesia hanya terpengaruh sedikit oleh krisis 
global tersebut. Tingkat pengembalian (return) modal di Indonesia juga 
terbilang sangat tinggi. Bahkan tingkat bunga (coupon) Obligasi Ritel Indonesia 
(ORI) yang bisa dikatakan sebagai instrumen investasi yang bebas dari resiko 
(risk free asset) mencapai 7.95%annually.
Lalu kemanakah arah perekonomian Indonesia di 2011? Secara umum menurut saya, 
tren masih tidak ada yang jauh berubah dibandingkan 2010. RAPBN 2011 sudah 
memproyeksikan pertumbuhan PDB sebesar 6,4%. Bank Indonesia meramalkan 
pertumbuhan ekonomi antara 6-6.5% di 2011.
Salah satu momok dari pertumbuhan ekonomi adalah inflasi. Inflasi menurut saya 
akan mulai tidak terkendali di 2011 ini. Ini didorong oleh tingginya domestic 
consumption Indonesia. Inilah salah satu buruknya pertumbuhan ekonomi yang 
disokong oleh konsumsi dalam negeri yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pihak 
BI kemungkinan tidak akan mempertahankan terus menerus BI rate di angka 6.5%, 
kemungkinan akan ada tren naik dalam rangka pengendalian inflasi tersebut.
Aliran dana asing akan terus mengalir ke dalam negeri akibat tingginya tingkat 
pengembalian investasi di Indonesia. Apalagi bila lembaga pemberi rating dunia 
meng-upgrade rating Indonesia keInvestment Grade. Perusahaan aset manajemen 
dan hedge fund asing akan terus mengarahkan perhatiannya ke Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai indikator pasar saham di Indonesia 
masih akan terus melaju, angka indeks 5.000 bukan merupakan kemustahilan untuk 
dicapai tahun depan. Emiten sektor energi dan komoditas masih akan menjadi 
pemimpin pergerakan indeks di tahun depan, dengan driver kenaikan harga minyak 
bumi dan komoditas dunia yang lain.Untuk harga minyak dunia, angka $120 per 
barel juga kemungkinan akan tercapai di tahun depan. Fase ekspansi 
perusahaan-perusahaan di tahun depan yang akan meningkatkan kebutuhan energi 
menjadi penyebabnya. Bahkan saat ini saja harga minyak juga sudah mulai 
melambung diatas $ 90 per barel.
Namun tantangan perekonomian di Indonesia adalah kesenjangan antara sektor 
finansial dengan sektor riil. Pemerintah tetap tidak mampu menggerakkan sektor 
riil dengan aliran dana masuk yang sangat besar tersebut. Saya tidak tahu 
apakah ini disebabkan oleh ketiadaan instrumen pemerintah atau karena tidak 
adanya goodwillingness pemerintah. Menurut saya sih, Indonesia tidak akan mampu 
untuk maju selama masih dikuasai oleh politisi, bukan orang pintar! :p
Arman Boyfounder AB Capitalhttp://armanboy.blogspot.com/


 



  










Kirim email ke